Generasi Pengeluh

Hary B Kori’un
Riau Pos, 06 Sep 2009

SUATU siang di hari Ahad, Pandapotan MT Siallagan, sastrawan yang pernah lama tinggal di Riau dan kini bekerja sebagai wartawan di Siantar, Sumatera Utara (Sumut), berkirim SMS. Isinya: “Bang, bacalah Horison edisi bulan ini, ada cerpenku dimuat di sana. Kasih masukan, ya…” Di lain waktu, dia mengirim SMS lagi: “Udah baca sajak saya di Kompas, Bang? Saya perlu masukan Abang…”

Saya mengenal Panda –begitu koleganya memanggil— pertama kali bukan langsung bertemu muka, melainkan lewat cerpen, esai dan sajak-sajaknya di media Riau, terutama Riau Pos, sebelum saya bekerja di koran ini. Ketika kemudian saya diberi tanggung jawab untuk menjaga rubrik Budaya, dia intens mengirim naskah. Panda ‘lahir’ hampir satu generasi dengan M Badri, Sobirin Zaini dan Binoto H Balian (kini juga kembali ke kampungnya di Sumut), plus beberapa penulis muda lainnya seperti Ellizan Katan, Syaiful Bahri, dan beberapa nama lainnya.

Mereka berlomba-lomba mengirim naskah sebanyak-banyaknya ke Riau Pos, dan pada suatu saat naskah mereka tidak saya muat. Ada yang bertanya langsung, ada yang kirim SMS atau e-mail dan ada yang tak bereaksi apa-apa. Dalam sebuah pertemuan sambil minum kopi di Bandar Serai, kepada Badri, Sobirin dan Panda, saya katakan mengapa saya menahan naskah mereka. “Kalian sudah katam di Riau Pos, saatnya kalian ‘pergi’, bangun jaringan, jangan hanya berani di kandang. Kirim naskah kalian ke koran lain di luar Riau, entah ke Lampung, Padang, Surabaya, Semarang, Bandung atau Jakarta, di mana ada koran yang ada halaman budayanya. Sekali-kali, bolehlah kirim ke Riau Pos…”

Beberapa waktu setelah itu, saya mendengar Panda dan Binoto kembali ke Sumut, Syaiful Bahri ke Jakarta (kemudian kembali ke Pekanbaru), Badri ke Bogor meneruskan studi S2-nya, dan Sobirin masih tetap di Pekanbaru. Beberapa waktu lagi setelah itu, saya mendengar Badri juara lomba cerpen CWI-Diknas (cerpen “Loktong”, 2006), cerpen dan puisinya memenangkan beberapa lomba lagi, tembus di koran Jakarta, Lampung, Semarang dan sebagainya. Begitu juga dengan Pandapotan yang mampu menembus Republika, Suara Merdeka, Horison, Kompas, masuk dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi penulis muda dan sebagainya.

Bagi seorang penulis, jaringan itu penting, publikasi itu harus, karena di sanalah kita nanti tunak atau tidak berkarya. Memang tidak salah memfokuskan diri hanya menulis ke koran lokal daerah masing-masing, tetapi seharusnya sang penulis tidak puas dengan pencapaian itu. Selain namanya tak terpublikasikan secara luas, juga bisa seperti katak dalam tempurung: merasa besar di rumah sendiri, keluar tak dikenal siapapun.

Dulu, kata sastrawan Hasan Junus (HJ), ketika Riau belum punya koran harian, para sastrawan Riau seperti dirinya, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Ediruslan Pe Amanriza, Idrus Tintin dan yang lain, harus berjuang keras bertarung dengan penulis lainnya di koran Haluan (Padang), dan media-media Jakarta. Penulis perlu tempat untuk menyiarkan naskahnya, dan itu tak peduli di mana. “Ketika itu honornya kecil, tapi bukan itu tujuan kami. Kami harus berkarya dan menyiarkan karya itu. Persaingan di Padang sangat ketat karena di sana juga banyak penulis bagus…” kata HJ.

Hari ini, anak-anak muda dari Sumatera Barat –mereka generasi di bawah Marhalim Zaini, Badri, Pandapotan dan sebagainya— seperti Romi Zarman, Yetti A KA, Esha Tegar Putra, Egoy El Fitra, Pinto Anugerah, Zelfeni Wimra dan yang lainnya, menyerbu hampir semua media di Indonesia, baik kecil maupun besar. Mereka mempertaruhkan karyanya ke meja redaktur budaya, dan dalam beberapa tahun terakhir hampir setiap pekan nama mereka mengisi halaman budaya Koran Tempo, Jawa Pos, Jurnal Nasional, Republika, Kompas, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara Pembaruan dan lain-lain.

Ketika mereka tahu halaman budaya Riau Pos masuk dalam 12 media yang dinilai oleh Yayasan Pena Kencana, mereka juga berbondong-bondong mengirim naskah. Saya iri melihat kegigihan mereka. Tidak dimuat dikirim lagi, dikirim lagi dan dikirim lagi. Bahkan persentase kiriman mereka dibanding kiriman penulis Riau, hampir sama, tetapi karena mereka sudah teruji di media-media lain di Jawa, secara kualitas, meski relatif, karyanya lebih kuat dan masuk dalam daftar layak muat.

Penulis-penulis Riau mestinya juga punya jiwa petarung seperti itu, dan tak hanya terpaku pada media lokal, yang bahkan cenderung menjadi (maaf) ‘generasi pengeluh’, yang ketika naskahnya tidak dimuat kemudian mengeluh, marah, menganggap redakturnya tak peduli dengan penulis daerahnya, dan sebagainya. Anak muda Riau harus bekerja keras, biar kalau ada orang bertanya siapa sastrawan Riau yang pantas diundang ke acara ini dan itu, jawabannya bukan hanya Fakhrunnas MA Jabbar, Marhalim Zaini, M Badri, Murparsaulian…(*)

Dijumput dari: http://resensi-badri.blogspot.com/2009/11/generasi-pengeluh.html