Pengakuan Seorang Wanita

Chairul Abshar
http://www.suarakarya-online.com/

Aku selalu menanti kehadiran wanita itu, meski aku tahu dia tak pernah sadar aku mencintainya. Melihat senyumnya, mendengar bisikannya, dan merasakan getaran lekuk tubuhnya, bagai terpecut jasad ke alam surga. Yah, kalau saja umurku lebih tua dari wanita itu…

Saat pertama bertemu di kafe ini, dia mencoba mengibaskan rambutnya yang ikal, seolah berbisik kepada tiap lelaki agar menghampirinya. Sedangkan aku hanya seorang pelayan kafe yang hanya bisa mendekatinya bila sang nyonya memanggilku untuk memesan makanan. Ah, andai saja ada yang bisa kubanggakan dari diriku, pasti sudah kurampas kesendiriannya di sudut kafe itu.

Hari ini untuk kesekian kalinya Stefani datang. Memilih tempat duduk favorit yang mengucilkannya dari keramaian para pecandu pesta. Stefani, warga keturunan Jerman, merupakan salah satu ahli waris tahta konglomerat dari negeri itu. Cantik. Putih. Semampai. Fani, panggilannya, punya kelebihan beragam. Itu yang membuatnya sempurna, dan lelaki berlomba mendekatinya.

Ah, andai aku bisa menyapanya, atau bercinta dengannya lalu memuaskannya. Pasti aku akan senang. Mungkin aku akan melucuti semua pakaiannya, mengelusnya dari ujung rambut sampai ujung jemari kakinya, menjilati dengan penuh birahi, lalu membiarkannya pasrah dan membuat suara gaduh yang bisa bikin iri para lelaki, dan membiarkannya lelap di pelukanku sampai..

“Pelayan! Pelayan!”
“Ya, ya, saya, Nyonya…”
Wah dia mengagetkan aku saja, padahal jarang-jarang aku memikirkan itu dengan Fani. Wanita tercantik yang pernah kulihat di kafe ini.

“Mas, tolong saya, antar barang ke alamat ini. Kebetulan saya lelah sekali. Rasanya ingin istirahat. katakan pada penerima barang ini besok saya akan ke Jerman dan tidak kembali lagi. Jadi dia tidak perlu menanti saya,” katanya sambil menunjukkan selembar kertas bertuliskan alamat yang asing bagiku.

Aduh, kenapa aku harus mendengarnya? Dia mau pergi dan takkan kembali, berarti ini kesempatan terakhir bertemu dengannya. Ada apa ini? Mengapa aku jadi sebodoh ini memikirkan dia? Bukankah masih banyak wanita lain yang muda? Hey, Bung! Dia sudah tua. Kalau saja anak-anaknya ikut ke kafe ini, mereka akan memanggilku Om. Sekejab ada suara-suara entah dari mana datangnya. Uh… sejak kapan aku jadi Om Om? Sejak mencintai wanita yang hampir setengah abad ini?

“Oh ya, Anda harus mengantar tepat waktu. Jadi pakai mobil saya saja. Saya akan menunggu di sini untuk mendengarkan cerita Anda tentang lelaki menyebalkan itu. Kemudian saya akan pulang. Jangan sungkan. Saya punya sesuatu yang Anda inginkan. Membayar mahal, tentunya,” ujarnya dengan lirikan mata yang membuat jantung lelaki mana pun berdegup kencang. setelah mengerti, aku langsung pergi dan mencari mobil yang dia katakan tadi. Wow, Volvo terbaru warna biru metalik.

Sesampai di rumah lelaki itu, aku segera memarkir mobil. Pelan-pelan, karena aku ingin membawa pulang mobil itu tanpa cacat. Just perpecctly, guys.

“Ting tong!” tak ada jawaban.
“Ting tong!” kudengar langkah kaki mendekati pintu.
“Krieeet.” Pintu pun dibuka. Tampak lelaki bermuka masam, berbadan tegap. Anehnya, pakaian yang dikenakannya tidak mencerminkan lelaki kaya raya dengan rumah mewah seperti ini. Kusam. Lelaki yang tak terurus.

“Anda siapa? Saya tidak mau memberi sumbangan. Jadi, lebih baik Anda segera pergi dari sini.” pekiknya sambil melongok ke luar pagar.

Busyet. Apa maksudnya? Mana ada yang minta sumbangan naik mobil semewah itu? Memang dia tidak melihat apa, bentakku dalam hati. Sial. Aku disangka gembel yang tidak tahu diri meminta sesuap nasi untuk mengisi perut.

“Saya mau mengantar barang ini, Tuan. Tanpa bermaksud meminta sumbangan!” sindirku.

Setelah berpikir lama, lelaki masam itu menghampiriku dengan wajah innocent-nya.

“Oh, bawa sini! Mana istriku? Kenapa dia tidak kemari? Bukannya dia sudah janji mau datang?” tanya bertubi-tubi tanpa memberiku kesempatan untuk bicara.

“Katanya, Nyonya mau pergi ke Jerman dan tak akan kembali lagi. Jadi, Tuan tidak perlu menanti Nyonya.” Biar tahu rasa si muka masam ini, ejekku dalam hati.

“Apa maksudmu? Bilang sama dia, segini mana cukup untuk hidup sehari-hari. Jangan pergi kalau dia tidak mau bayar sisanya!” teriaknya sambil berlalu masuk.

Huh. Mengapa aku mau dimaki orang itu? Kalau tidak memikirkan sisa hidup, pasti sudah aku bikin parah mukanya. Meski aku yakin bakal kalah berkalahi dengannya, setidaknya dia pantas menerima ganjaran atas perkataan busuknya kepadaku. Kemudian aku bergegas pergi secepat kilat untuk menyelesaikan tugasku.

***

Di sudut kafe. Tanpak wanita itu nyaris tak sadar diri. Tangan kananku memegang cerutu, tangan kirinya memegang sebotol bir hitam yang dipesannya untuk kesekin kali sebelum ku sampai. Sesekali ditenggaknya gelas di depan wajahnya yang basah dan kuyu itu ke dalam mulutnya yang mengepulkan asap rokok. Ia mabuk berat. Aku segera menghampirinya.

“Hai, kemana saja kamu?Lama sekali saya menunggu. Mau mati saja rasanya,” ujranya membuka pembicaraan.

“Maaf, Nyonya. Saya diomeli suami Nyonya.”
“Apa? Dia bukan suami saya lagi. Saya sudah bercerai lima tahun lalu. Saya tidak tahan dengan perlakuannya yang kasar dan suka memeras kekayan saya.”

Tampaknya dia sangat marah. “Sampai sekarang pun saya harus membagi uang kepada lelaki menyebalkan itu. Kalau tidak, dia akan membunuh saya. Makanya saya memutuskan pergi dari sini. Biar dia tahu betapa susahnya cari uang sendiri,” katanya mengebu-gebu sambil mengisap rokoknya berkali-kali.

“Oh ya, Tuan muda. Apakah mau antar aku pulang? Aku lelah.” Tanpa mengharapan jawaban, ia menyodorkan alamat rumahnya di dalam sebuah kartu nama mungil. lagi-lagi tertera alamat asing yang tak kukenal.

Beberapa saat, ia menundukkan wajahnya. Diregukk\nya segelas minuman ke dalam mulutnya.Lagi, lagi dan lagi. Bersendawa dan kemudian tertawa. lalu jatuh tertidurdi atas meja persegi di depan tubuhnya. Hening.

“Nyonya, bangun Nyonya,” ujarku seraya membangunan wanita kelam itu. Tapi, selang waktu beberapa saat, ia tidak bergerak sedikit pun. Aku terus menggoyang badannya yang berpeluh itu. Masih bisu. Tetap bisu. Lantas aku segera memanggul tubuh wanita itu ke luar kafe. Ke dalam mobil mewahnya. Meluruskan tubuhnya perlahan di dalam mobil itu. Kemudian aku segera tancap gas.

Hujan turun membasahi jalan. Setelah beberapa saat di perjalanan, aku tersentak melihat Stefani yang setengah sadar. Dia menggeliat dan membuka jubahnya yang panjang. Amazing, pikirku. Tubuhnya yng basah dilapisi halterneck merah marun dengan rok pendek yang fungsinya hanya sekedar menutup kemaluan. Ya, begitu indah tubuhnya. Seolah memamerkan sepasang buah kembar di dadanya yang hanya setengah tertutup itu. Di bukan penari stritease. Tapi tubuhnya memancarkan keseksian yang melebihi penari stritease. Tanpa sdar air ludahku kutelan cepat. Entah mengapa, tak sanggup lagi aku berkata apa-apa. Rasanya, adrenalinku naik secepat secepat degup jantungku. Ah, Stefani, gumamku dalam hati. Betapa beruntungnya lelaki yang mendapatkannya.

Setengah jam telah berlalu. Dengan satu kali belokan di ujung jalan, tibalah mobil ini di depan rumah Stefani. Aku membuka pagar dan memasukkan mobilnya ke garasi. Kosong. Sepertinya tak ada lagi penghuni selain Stefani di rumah itu. Segera kurangkul tubuh Stefani untuk membawanya masuk ke dalam rumahnya.

Kali ini dia benar-benar tertidur. Masih tertidur sampai kuletakkan tubuhnys ke atas tempat tidur di salah satu kamarnya yang besar. Seketika itu juga Stefani bangun dan batuk perlahan. Tampaknya ia ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Aku segera memijat leher belakangnya, mengusap rambutnya yang tergerai di bahu. Dalam benakku, aku memikirkan kemalangan Stefani. Ingin sekali aku berada disampingnya, menemaninya setiap malam. Memiliki seluruh jiwa raga wanita yang rapuh ini, memanjakannya di dalam pelukan. Tapi itu tak mungkin, karena Stefani akan onboard ke Jerman besok. Ah, mengapa aku selalu saja terlambat, gerutuku dalam hati.

“Tolong… tolong temani aku malam ini saja,” Stefani mulai membuka mata dan memelas dengan harap. Tampak matanya berkaca-kaca.

“Aku sendirian. Aku kesepian. Aku mohon.”
Seketika itu juga aku terharu mendengar pengakuan seorang wanita yang terlihat kukuh di luarnya tapi sama sekali tak bahagia. Aku mengusap dahinya yang licin. Merapikan rambutnya. mengelus wajahnya. Dan mendekatkan tubuhnya disampingku. Stefani tersungkur tak berdaya. Tampak pasrah dengan sikap telentang dipelukanku. Dari sudut matanya berlinang air mata kepedihan. Ia menangis.

Mungkin menangisi hidupnya atau kesendirian yang ia rasakan selama ini tanpa pendamping hidup. Aku semakin mendekap erat tubuhnya. Jiwanya sungguh terguncang. Seakan-akan ia tak ingin melepaskan tubuhku. Namun, sesaat setelah kami terlelap …

“Braaaak!” pintu kamar Stefani terbanting hebat. Kulihat sosok lelaki tegap memasuki kamar ini. Tangan kanannya menggenggam belati runcing yang seolah ingin menusuk-nusuk apa saja yang dilihatnya. Aku terbangun seketika, disusul Stefani. Ia terbelalak kaget berteriak kesetanan dengan tangan menutup wajahnya yng histeris. Sedangkan aku mencoba mencari perlindungan untuk Stefani dan aku. Kuperhatikan sekelilingku. Mana tahu ada alat yang bisa kugunakan. Tapi…

“Craaat!”
Darah bercipratan di wajahku. Aku pikir inilah akhir hidup yang bahagia ini. Au segera menutup mata erat-erat. Mencoba mengakhirinya dengan tenang. Kucoba mengingat-ingat apa yang telah aku lakukan selama hidupku. Tuhan maafkan aku. Maafkan segala kesalahan yang telah aku perbuat. Padahl aku masih ingin memperbaiki semuanya. Tapi sudah terlambat, pikirku. Buat apa disesali. Inilah risikonya mencintai istri orang. Aku tak boleh menyesal sedikitpun.

Sedetik.Dua detik. Tiga detik. Aku tersentak kaget. Mengapa aku masih bernafas? Mengapa kudengar detak jantung yang kian cepat dari dadaku? Aku langsung membuka mata dan kulihat tubuhku. Ya, Tuhan! Aku masih hidup. Ada apa ini?

Aku senang bukan main. Stefani…. mana Stefani? Oh, rupanya ia masih tertidur pulas di atas tempat tidur, sementara aku dibawah kasur dengan pergulatan yang hebat. Syukurlah, ia tidak mendengar semuanya.Rupanya ia benar-benar butuh istirahat.

Aku bangun dengan tertatih. Mencoba mendapatkan tubuh Stefani. Aku meraba-raba tubuhnya yang lemah. Namun aku memegang sesuatu. Di pinggang itu. Di pinggang sebelah kiri itu. Pinggang milik Stefani yang kusayang. Tertancap belati yang hendak membunuhku tadi.

Aku diam. Aku shocked. Entah kenapa aku tak menangis. Tidak ada air mata. yang ada hanya teriakan menggelegar tak pernah kulakukan sebelum ini. Karena aku sangat mencintai Stefani. Sesaat senangku berubah menjadi ketakutan. Ketakutan di malam terakhir. ***

/10 Desember 2011