Pilihan Ibu

Nadjib Kartapati Z.
http://www.suarakarya-online.com/

Aku tehenyak begitu usai menerima telpon dari Wisran, adikku di desa. Ia bilang bahwa ibu kami akan digugat ke pengadilan oleh Paman Wage. Pasalnya, delapan tahun silam Ibu meminjam serifikat rumah Paman Wage untuk agunan mengambil kredit di bank. Karena angsurannya tak beres, pihak bank akan menyita rumah Paman Wage. Tentu saja Paman tak bisa terima, dan akan menuntut Ibu kalau hal itu sampai terjadi. Wisran mengaku kaget karena ia baru mengetahuinya sekarang.

Aku terpukul. Bukan saja karena Ibu yang janda itu akan digugat di pengadilan, tapi lebih karena tindakan Ibu itu semata-mata demi diriku. Sekarang aku baru tahu dari mana Ibu dulu mampu membiayai kuliahku.

“Itu tidak boleh terjadi, Mas,” kata Indah, perempuan yang baru dua bulan kunikahi ini. Ia memintaku harus segera menyelamatkan Ibu.
“Tapi dari mana kita dapat uang, In? Jumlah utang Ibu enampuluh juta rupiah!”

“Jual semua yang ada,” jawab istriku. Aku merasa kagum pada istriku. Ia siap berkorban demi keselamatan ibu mertuanya.

Aku terkenang saat Ibu memompa semangatku agar aku siap melanjutkan sekolah. “Kamu harus bisa jadi sarjana. Ijazah SMA tak akan berarti apa-apa,” tutur Ibu.
“Saya tak mau memberatkan beban Ibu.”
“Ibu punya simpanan hasil warisan mendiang ayahmu. Kamu tak usah pikirkan itu.”

Aku heran, sebab setahuku Ayah tidak mewariskan apa-apa kepada kami. Sekarang, delapan tahun kemudian, keherananku terjawab. Ternyata Ibu meminjam sertivikat rumah Paman Wage, adik sepupu Ayah, untuk pengambilan kredit di bank. Hasil pinjaman itu dideposito, dan diambil demi sedikit untuk biaya kuliahku.

Atas sepak terjang Ibu yang bagai kuda itu, diam-diam muncul niatku menebus jerih-payahnya sekadar upaya balas budi begitu setelah aku berhasil jadi sarjana dan mendapat pekerjaan. Tapi, setelah berhasil bekerja pada sebuah perusahaan besar di Jakarta, seluruh perhatianku tercurah untuk segera menikah.

“Kita harus bertindak,” kata istriku. “Kita tidak bisa beharap bantuan dari Wisran.” Istriku benar. Wisran hanya lulusan STM yang kini menjadi tukang service televisi.

Atas kesepakatan bersama antara aku dan istriku, maka kami jual barang-barang milik kami. Perhiasan istriku, televisi, laptop, DVD, kulkas, kamera, segera kami uangkan, tak peduli semua itu baru saja kami miliki.Dengan flight pertama aku pulang ke desa. Ibu menyambutku gembira seperti tak terjadi apa-apa atas dirinya. Rupanya Ibu tetap ingin merahasiakan kesulitannya.
“Ada hal penting sehingga kamu datang, Kun?” tanya Ibu.
“Saya datang karena menerima telpon dari Wisran, Bu.”
“Apa yang disampaikan Wisran padamu?”

Ibu tetap tidak merasa bahwa aku datang semata-mata karena masalahnya. Maka aku pun secara blak-blakan menyampaikan maksud kedatanganku. Ibu kaget mendengar keterusteranganku.

“Ini tanggung jawab saya, Bu! Karena kuliah sayalah Ibu mengambil utang di bank,” kata saya seraya menyerahkan uang kepadanya.

Ibu menerima dengan ragu-ragu. Ia pandangi wajahku dalam-dalam, seolah sedang menguji keikhlasanku. “Sebenarnya Ibu tidak menghendaki hal ini, Kun,” tuturnya pelahan. “Sudahlah, Bu, yang penting utang lunas dan sertifikat Paman bisa bebas,” jawabku berusaha memupus keraguan Ibu.

Tiba-tiba Ibu menangis. Aku tak tahu arti tangis-nya itu. Maka kembali aku tekankan bahwa Ibu tak perlu sangsi menerima uang itu. Aku katakan bahwa kondisi ekonomi anak sulungnya alias diriku semakin mapan, karena aku baru saja naik jabatan.

Aku pulang dengan perasaan lega. Kami merasa sudah plong, meski harus berjuang lagi mengumpulkan barang-barang rumah tangga. Namun, seminggu kemudian Ibu mengirim kembali uang itu. Dalam suratnya Ibu bilang bahwa sehari setelah aku kembali ke Jakarta, Wisran datang untuk menyelesaikan kesulitannya.

“Memang usaha adikmu hanya bersifat menunda penyitaan dari pihak bank, dengan cara membayar semua bunganya dan sejumlah cicilan,” tulis Ibu. “Perkara sisa utang itu akan Ibu pikirkan nanti. Maafkan kalau Ibu mengembalikan uangmu, Kun.”

Aku merasa sangat tersinggung, lebih-lebih Indah. Entah kenapa Ibu tak mau tahu perasaan anak sulungnya perasaan bersalah dan hasrat membalas budi. Sisi buruk dari pikiranku juga menganggap Ibu sengaja membiarkan diriku disiksa rasa berdosa. Dan aku tak bisa mengerti kenapa ia memilih menerima bantuan Wisran yang hidupnya justru jauh lebih sulit. Seolah-olah Ibu tega membuat hidup Wisran makin terseok-seok.

Besoknya aku terbang lagi ke desa. Sengaja aku panggil Wisran agar kami bisa bersama-sama mencari kejelasan.

“Terus terang saya kecewa,” kataku geram setelah kami bicara panjang-lebar. “Orang yang bijaksana selalu memaafkan ibunya,” jawab Ibu tenang. “Bukankah Ibu sudah minta maaf padamu?”

“Ibu tega kalau saya selalu disiksa perasaan berdosa? Kenapa Ibu tak mau memberikan saya kesempatan untuk menebus rasa berdosa itu? Saya juga punya kewajiban sekaligus hak buat sekadar membalas budi baik orangtua, Bu? Tapi Ibu tak mau peduli.”

“Ibu menolak bukan tanpa pertimbangan, Kun,” tuturnya. “Ibu mengerti perasaanmu.” Ibu memutus kalimatnya. Dia pandangi wajahku dalam-dalam. Kedua bibirnya bergerak-gerak, tapi tidak juga mengucapkan kata-kata.

“Mungkin saya bisa mewakili Ibu, Mas,” kata Wisran setelah melihat Ibu tak sanggup lagi bicara. “Kalau Ibu memilih menerima bantuan saya, semata-mata hanya karena Ibu menganggap Mas Kun sudah tidak lagi milik Ibu sepenuhnya. Mas Kun sudah berkeluarga, sudah menjadi milik istri Mas Kun. Dan karena itu Ibu merasa tak berhak lagi merepoti kalian…”
“Hanya karena seseorang telah menikah lalu tertutup kemungkinan untuk melakukan balas budi?”

“Tidak! Masalahnya hanya karena ada saya, anaknya yang lain yang kebetulan belum berkeluarga. Terus terang, sekarang ini saya habis-habisan, sebab uang itu saya peroleh dengan menjual semua milik saya. Tapi Ibu lebih merasa tenang, karena tidak merepoti menantunya. Mas Kun sudah menjadi milik Mbak Indah.”

“Tapi kami ikhlas membantu, bahkan sangat berkepentingan…” “Semula Ibu juga berpikir begitu, Kun,” sahut Ibu. “Maka Ibu terima uang darimu. Tapi sehari kemudian Wisran datang memberikan bantuan. Ibu lebih berkewajiban menerimanya, meskipun bantuan itu tak mampu menutup seluruh utang Ibu.”
Sesaat suasana hening. Hanya bunyi desing laron yang berpusar di sekitar neon.
“Saya merasa diperlakukan tidak adil,” kataku.

“Hanya karena saya telah menikah saya dikorbankan begitu saja. Ibu telah merampas hak saya membalas budi, dan dengan demikian sengaja membiarkan kebolongan jiwa anak sulungnya…”
Kulihat ada dua tetes air luruh dari sudut mata Ibu. Aku yakin hati Ibu tengah terguncang oleh gugatanku.

“Ibu tidak sejahat yang kamu katakan, Kun,” ucap Ibu seraya menyeka kedua matanya. “Kalau kamu merasa berdosa karena tak sempat membalas budi, Ibu juga mengalami hal yang sama bila harus menerima bantuanmu. Sungguh Ibu tak ingin merepotkan kamu yang sudah berkeluarga, karena sebenarnya kamu sudah menjadi milik istrimu, dan milik anak-anakmu kelak. Kalau kamu minta agar Ibu mengerti perasaanmu, Ibu juga meminta kamu memahami perasaan Ibu…”
“Tapi kenapa saya yang harus dikalahkan?”

“Masalahnya tinggal siapa di antara kita yang rela berkorban. Dan ternyata kau tak ikhlas berkorban demi ketenangan hati ibumu yang sudah tua ini…” Setelah berkata begitu, Ibu bangkit, melangkah ke dalam dan masuk kamarnya.

Suasana tiba-tiba mencekam. Beberapa jenak kemudian Wisran berdiri, lantas mengangsurkan langkah ke luar. Kini aku merasa sendiri dan berdiri tanpa pembela. Hatiku jadi makin balau, merasa terlempar ke suatu tempat yang sulit kupahami.

Akhirnya aku pun membuntuti Wisran ke luar rumah. Di luar gelap merata. Malam telah menebarkan sayapnya yang hitam.

“Sebaiknya kita tak perlu mengusik ketenangan Ibu yang sudah setua itu,” kata Wisran. “Kalau persoalannya hanya karena Mas Kun ingin melakukan balas budi untuk menutup kebolongan hati, hal itu amat gampang disiasati. Tapi dengan catatan kalau niat Mas Kun benar-benar ikhlas dan semata-mata untuk Allah.”
“Kamu meragukan?”

“Salah satu tanda keikhlasan seorang pemberi adalah bila ia tidak peduli apakah yang diberi itu tahu atau tidak siapa pemberinya.”

“Aku mengerti, Wis. Itulah sebabnya ada ajaran yang mengatakan kalau tangan kanan memberi, sembunyikan tangan kirimu. Dan Suara hati nurani adalah selalu bisik Tuhan. Kalau saya berbuat atas nama hati nurani, berarti juga saya berbuat untuk Tuhan.”

“Apakah Mas Kun rela kalau Mas Kun menolong seseorang sedangkan yang mendapat nama baik justru orang lain?”

Aku mengangguk meski belum paham persis ke mana arah ucapan adikku itu. “Itulah yang namanya ikhlas, Wis. Kalau masih ingin mendapat nama baik, itu pamrih.”
“Kalau begitu bereslah persoalannya,” ucap Wisran kemudian.
“Beres bagaimana?”

“Kenapa Mas Kun tidak menolong Ibu melalui saya? Toh kita tahu Ibu juga akan tetap kerepotan membayar kredit bank selanjutnya.”
Aku tercenung. Barulah aku memahami arti ucapan adikku itu.
“Tapi, Mas, dengan cara itu sayalah yang nantinya mendapat nama baik. Apa Mas Kun tidak keberatan?”
“Kenapa harus keberatan? Kamu benar, Wisran! Kenapa aku jadi sebodoh ini?”

“Kalau dalam soal ini saya harus berbohong kepada Ibu, semata-mata hanya karena saya sangat memahami perasaan Mas Kun. Dan saya yakin Mas Kun tak ingin batin Ibu tersiksa.”

Oh, betapa bijaknya pikiran itu. Kurangkul pundak Wisran, tak tahu bagaimana harus mengucapkan terima kasih kepadanya. ***

/3 Desember 2011