Pergolakan Iman Seorang Atheis

Musyafak
http://suaramerdeka.com/

PERGULATAN spiritualitas manusia rentan terseret ke medan yang sarat tegangan. Ikhtiar mengukuhi iman acap jatuh ke lorong kegelapan jiwa. Fase kegelapan itulah yang justru potensial membukakan pintu pertobatan: fase kepasrahan diri setelah rampungnya babak pemberontakan yang melelahkan.

Matinya Seorang Atheis, kumpulan cerita karya Zaim Rofiqi, hadir mewartakan kegentingan spiritual. Tokoh-tokoh aku dalam cerpen “Matinya Seorang Atheis“, yang dipetik menjadi judul buku, mengalami ketegangan iman yang mengguncang. Alur cerita dirajut dengan kompleks dan berlapis. Pelik penolakan iman dikisahkan melalui tiga tokoh aku yang dihubungkan dalam kesatuan narasi: menggugat ketidakhadiran Tuhan di dalam penderitaan yang bertubi-tubi memecundangi hidup manusia.

Si aku pertama adalah sosok yang tak terselamatkan dari tragis perkosaan ayahnya. Setelah janinnya digugurkan paksa, sang ayah malah menjualnya kepada germo. Si aku kedua terlarat dalam kemiskinan yang berujung petaka ketika para penagih utang datang, sementara ia tak punya apa-apa untuk membayar. Para penagih utang lantas melampiaskan hasrat kebinatangan dengan memperkosa istrinya bergiliran, dan membawa kabur anak perempuan semata wayang. Lintasan peristiwa tragis itu menyebabkan si aku mendendam kepada Tuhan.

Ia menanggalkan sisi kemanusiaannya (cinta kasih dan emosi) hingga mengombangambingkan hidupnya menjadi maling, perampok, kecu dan pembunuh bayaran. Sedangkan si aku ketiga adalah sosok yang memperjuangkan gagasan teologisnya. Ia menuliskan pengalaman pencariannya atas Tuhan melalui jalan intelektual, namun nahas, justru ia dibui lantaran dakwaan menodai keyakinan agama. Begitu, ia merasa cintanya kepada Tuhan terkhianati, berbalas label “murtad“ dan “kafir“ dari sesama pencinta-Nya.

Kisah ini amat kentara mencurahkan protes iman yang kuyup oleh ironi dan paradoks. Di satu sisi, kehidupan ketiga tokoh itu berangkat dari ketaatan kepada Tuhan (agama), namun pada perjalanannya ketaatan itu justru tidak membuahkan nasib baik, kecuali kegetiran yang berlarat-larat. Ketegangan tokoh-tokoh tersebut menjadi lebih intensif ketika mereka menghadapi kematian. Situasi menjelang kematian memerangkap kesadaran religius mereka ke dalam kecemasan dan keterpecahan, sekaligus menjadi momen penentu keputusan akhir keimanan. Momentum menuju kematian memosisikan iman tak terlindungi dari godaan dan kegoncangan.

“Aku sadar, batas itu akan segera menebasku. Aku tahu, kini waktu, menjadi giliranku. Aku sadar saat itu telah dekat. Tapi semuanya telah terlambat. Semuanya telah hancur. Diriku, harapanku, mimpi-mimpiku, semua hal yang berharga dalam hidupku, dan yang paling penting: kepercayaanku kepadamu. Bagiku, kau telah tidak ada lagi.

Bagiku, kau telah mati. Sejak dulu. Ya, sejak dulu“ (halaman 61). Begitu, seorang atheis mengikrarkan ketidakberimanannya di ujung hayat, bahkan dianggapnya Tuhan tak kuasa menghalangi keingkaran itu.

Gagasan Eksistensialisme
Nuansa pergulatan iman juga terpapar dalam cerpen “Pungguk“. Burung di dalam kisah tersebut adalah pernik metafora yang memaknakan perjalanan spiritual manusia.

Alkisah, Pungguk adalah seekor burung yang sejak kecil dididik induknya untuk mencintai dan memuja bulan. Namun seiring pengalamannya, Pungguk merasa ajaran mendamba dan memuja bulan itu tak masuk akal. Ia tak mau mengikuti kebodohan-kebodohan burung-burung lain yang saban malam merindukan bulan hingga lelah. Penolakan itu beralih menjadi rasa benci pada bulan yang dianggapnya tak lebih sebagai candu yang mengilusi burung-burung. Kebencian itu mendorong Pungguk membuat perhitungan.

Terbanglah ia setinggi-tingginya hingga mencapai bulan. Dalam semalam, bulan itu dilumat, dimakan dan dihancurkan dengan paruhnya. Cerita ditutup dengan narasi yang seolah memaknakan kesia-siaan: “Ya, kini aku paham: bulan tak bersinar. Aku pun tak bersinar“ (hlm 92).

Kuatnya gagasan eksistensialisme yang memboboti kedua cerpen di atas seolah hanya melemparkan manusia pada gerowong absurditas. Mosi-mosi gugatan kepada Tuhan dimandekkan pada fase pengingkaran atau penolakan iman belaka. Seolah tidak muncul proses mentransendensikan dan mengungguli pengingkaran itu. Bisa ditengok, misalnya, gagasan Friedrich Nietszche seperti amor fati (cinta nasib) atau ubermensch (manusia super) sebagai alternatif mengatasi kondisi nihilitas.

Di sini, krisis eksistensial gagal diolah menjadi jalan pertobatan intelektual-meminjam istilah Lonergan (Supaat I Lathief, 2008: 107)yakni ketika bentuk pemberontakan batin yang lambat laun berubah menjadi kepasrahan diri.

Kepasrahan, seperti dinyatakan filsuf eksistensialis Karl Jaspers, adalah kesiapan menerima kehidupan apapun yang terjadi. Cerita lainnya, “Kamar Bunuh Diri“ dan “Bidadariku“ juga menggeret pembaca ke labirin absurditas yang tak tertolong. Pembaca dilarung ke kompleksitas imaji dunia yang kontradiktif nan kacau, namun seolah tidak diberikan jalan keselamatan baginya.

Meski begitu, buku kumpulan cerita ini cukup berhasil menjadi medium untuk mengomunikasikan gagasan-gagasan besar eksistensialisme-absurdisme yang merentang dari pemikiran Nietzsche, Jean Paul Sartre, Albert Camus, dan sebagainya. Matinya Seorang Atheis menjadi catatan kaki yang kritis atas pergulatan iman manusia modern yang sarat kecemasan-kecemasan skizofrenik, ambiguitas, kontradiksi, dan chaos.

(-82/CN15) 09 Oktober 2011