Sajak-Sajak Akhiriyati Sundari

Sepasang Mata di Hadapan Bejana

sepasang mata kehilangan air mata
ia lupa di mana menaruhnya tatkala Tuhan mengajak bertukar kata
tapi aku telah menemukannya di lorong-lorong doa
lalu kutuang di bejana
melindunginya dari Candik Ala
tanpa janji dan puisi menyala cahaya

sepasang mata tiba di hadapan bejana
aku bersembunyi di bawah genangan air mata
bayanganku terpantul dari kristal sebening kaca
sepasang mata takjub menatapku lama-lama

aku melihat diriku di ceruk sepasang mata
tak ada salinan air mata kulihat di sana
hanya darah mengucur merah-merah saga
bubuhkan rentetan peristiwa
yang sakit yang menderita
yang diam yang tak bertanya-tanya
yang luka yang menyisa di Selatan Yogyakarta

musim menua naiki pucuk cuaca
kota tak lagi siarkan derak-derak terbaca
pintu-pintu telah tak terbuka
aku sudah membuang kunci utama
bersebab cinta tergeletak koma

tumpahan darah merahkan isi bejana
terkesiap sepasang mata
lenyap sudah air mata yang dicari-carinya
berubah air mata darah paling sempurna
sepasang mata tak sempat bicara
tak sempat menyeka darah yang terus menderas dari jantungnya

Aih, kesedihan kadung agung dan bijaksana
lebih dari secercah pelita yang dipaksa-paksa menyala
maka air mata berhak kuasa atas kata-kata

sepasang mata kehilangan air mata
sepasang mata itu; mataku…

Selatan Yogyakarta, 2011

Senja Bergetar dalam Layar

Aku berjalan dengan sepasang mata layu
memasuki toko buku
Melangkah pelan di antara timbunan kata-kata
yang menumpukkan ilmu, barisan rak yang
Memajang persembunyianmu
Ribuan buku di tempat ini begitu bernyawa
Tetapi mengapa di mataku tak lebih dari pusara?

Ini senja ke sekian yang masuk
dalam lanskap paling nadhir
Mengirimiku puisi tentang
air laut yang tiba-tiba anyir
Tersembul dari sebuah buku buah pena penyair
Tak ada yang sedih dan yang indah
Semuanya cuma kenangan sekarang
Bahkan meski begitu deras hatiku tergelincir*

Tahukah engkau, Cintaku..
Hatiku penuh dirimbuni buku-buku
Menulis rinci seturut bab-bab tentang masa lalu
Memangkas rindu
Membungkusnya dalam memar kalbu

Engkau, seperti juga buku-buku di tempat ini
Adalah jelmaan ribuan kepala yang ingin selalu aku baca
Kubawa-bawa di setiap kakiku yang
Menyimpan tikungan dari laguna ke laguna
Kuala ke kuala
Menarikku dalam rindu yang gegar saban hatiku bergetar
Kala berucap, “aku mencintaimu”
Hingga suatu ketika nanti, aku mengerti bahwa
yang sendiri tak bisa kehilangan*

Yogyakarta, 5 Januari 2010

* petikan puisi Dina Oktaviani, “Hati yang Patah Berjalan”