Bayang Negeri Tropis

Yusri Fajar *)
http://nasional.kompas.com/

Akhirnya aku tiba di negeri kelahiran Shakespeare, sastrawan ternama Inggris yang dikagumi banyak orang. Pilot mengumumkan beberapa saat lagi pesawat akan mendarat. Hari masih pagi namun bandara Internasional Heathrow London sudah ramai oleh penumpang yang datang dan pergi. Aku datang ke sini untuk menghadiri pentas puisi sekaligus menemui Carina di kota Leeds. Dari London aku akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Leeds. Carina pasti sudah menunggu kedatanganku.

“Ya. Carina, perempuan cantik yang memukau itu pasti akan memenuhi janjinya padaku! Bukankah dia telah berkali-kali menyampaikan keinginannya melalui email kepadaku bahwa dia akan tampil memukau dihadapanku,” bisikku dalam hati.

Perjalanan panjang lima belas jam dari bandara Internasional Juanda Surabaya membuatku lelah. Untung di Inggris sedang musim panas sehingga aku tak harus berjuang melawan hawa musim dingin. Keluar dari pesawat, aku bergegas menuju imigrasi bandara untuk pemeriksaan dokumen. Lelaki muda berseragam dan berambut pendek pirang menanyakan pasport dan surat undangan dari Universitas Leeds. Wajahnya serius, bibirnya tak mengumbar senyum. Pemeriksaan lancar tanpa hambatan. Aku lalu bergegas mengambil travel bag dan segera menuju terminal bis yang masih satu kompleks dengan bandara Heathrow.

Carina mengirim SMS, “Kamu sudah mendarat?”

”Ya. Sudah di Heathrow. Sekarang sedang bersiap menuju Leeds.”

“Ok. Have a nice trip. Sampai bertemu malam nanti,” balasnya.

Sampai di terminal bis Leeds aku buru-buru melihat peta kota yang tertera di papan besar. Dua orang pria bule yang tengah mabuk mendekatiku sambil berbicara ngelantur. Dari mulut mereka keluar bau alkohol. Mereka berjalan sedikit sempoyongan. Tak mau mencari masalah aku menghindar dan segera masuk ke dalam bis kota. Turun di depan kampus Leeds aku langsung menuju kantor satpam di mana kunci salah satu kamar St. Marks Residence tempat aku akan tinggal telah dititipkan oleh staf divisi akomodasi Universitas Leeds.

Kantuk menyerangku bertubi-tubi. Meski sedang musim panas hawa dingin masih terasa. Aku berjalan menyusuri trotoar rapi yang memanjakan para pejalan. Sementara iringan kendaraan di jalan tampak lancar, tak ada kemacetan. Di samping telepon umum tampak gadis cantik bermata biru, berambut pirang dan berjaket panjang menghisap rokok. Mukanya acuh saat aku mencuri pandang.

Tiba di St. Marks Residence aku membuka kamar dan langsung merebahkan badan. Carina mengirim SMS,” Kamu di mana sekarang?”

“Aku sudah di kamar,” jawabku.

“Oke. Selamat beristirahat dulu. Kita akan lewatkan waktu bersama nanti malam,” balasnya.

Tiba-tiba wajah istriku terbayang. Di bandara Juanda aku lihat dia melambaikan tangan ketika aku berjalan menuju pesawat. Malam sebelum berangkat aku memeluknya erat di ranjang. Dia berpesan agar aku tak lupa kirim kabar setelah berada di Inggris. Aku menerawang. Mataku tak juga terpejam. Aku melongok keluar. Tampak muda-mudi tengah asyik menikmati anggur di kafe Breaklays yang berjarak sepuluh meter dari kamarku. Aku membanting tubuh di tempat tidur. Pemanas ruangan aku hidupkan. Dan aku tidak ingat apa-apa lagi.
***

Aku bergegas mandi ketika waktu menunjukkan pukul 18.08. “Aku tak boleh terlambat. Aku akan menyesal kalau tidak menyaksikan pentas puisi malam ini. Dan lagi aku juga tak boleh kehilangan momen pertama bertemu Carina! Perempuan itu begitu menghipnotisku dengan kata-kata puitisnya!” gumamku.

Malam ini aku memutuskan untuk menggunakan warna baju favoritku, celana hitam dan baju hitam. Aku merasa mantap dengan baju warna hitam saat hadir pada pertunjukan seni. Aula perpustakaan Brotherton sudah dipenuhi banyak orang ketika aku sampai.

Tiba-tiba lampu panggung remang. Seorang perempuan muda muncul dari balik layar. Sorot lampu kuning mengikuti langkahnya. Ia mendekat mikrofon yang terpasang di tengah panggung. Rambutnya hitam, hidungnya mancung, kulitnya putih, matanya cokelat, posturnya tinggi, menggunakan baju warna hitam. Ia mengelurakan selembar kertas dari dalam saku bajunya. Matanya menyapu penonton. Ia menarik nafas dan iringan musik mulai berjalan.

“Selamat datang di Universitas Leeds. Saya senang bisa bersemuka dengan anda semua, para peserta program creative writing dari berbagai negara, di pentas malam ini,” katanya dengan suara lantang. Lalu ia mendekatkan kertas ke wajahnya kemudian membaca baris kata-kata dengan ekspresif dan seksama.

Sebuah negeri tropis datang dalam mimpi/mendamparkan rindu di sayap merpati/hijau bersemayam dalam hati/melukis wajah kekasih yang pergi/kesunyian melanda bertubi-tubi/merawat kenangan tak pernah mati/.

Luar biasa, benar-benar memukau gaya membaca puisi perempuan itu. Tangannya seperti melambai-lambai. Penghayatannya dalam. Temponya teratur. Intonasinya bagus. Suaranya bersih dan kuat. Ia melanjutkan membaca.

Sebuah negeri tropis berlayar dalam ingatan/mengguratkan masa kecil penuh pelukan/budaya dan tradisi menjadi kekayaan/mengalirkan airmata tak tertahan/keramahan membias dalam kesadaran/mengantar cinta penuh keyakinan/.

Semua berdiri dan bertepuk tangan ketika ia selesai membacakan puisinya. Aku bertanya kepada perempuan berambut pirang yang duduk di sampingku, siapa nama perempuan yang barusan tampil di panggung. Tak salah dugaanku. Perempuan itu adalah Carina, penyair Leeds yang sajak-sajaknya sering aku baca di Indonesia. Penampilan dia benar-benar memuaskan. Tiba-tiba ada SMS masuk ke Hpku. “Kita bertemu setelah pentas usai.” Rupanya Carina yang mengirim SMS. Aku lalu membalas menyatakan setuju.

Pentas dilanjutkan dengan pembacaan puisi beberapa penyair dari berbagai negara seperti Jerman, Ceko, Amerika, Belgia, Filipina, Australia, India, Afrika Selatan dan beberapa negara lainnya. Malam bergerak. Kompleks gedung perpustakaan Brotheton tak juga lengang. Maklum perpustakaan di Universitas Leeds buka sampai jam dua dini hari.

Setelah pentas tuntas, aku dan Carina berjalan menggilas trotoar menuju kafe Morrison yang letaknya tidak jauh dari gedung perpustakaan Brotherton. Aku merasakan hawa dingin melewati rajutan benang jaket yang kupakai. Di kafe kami duduk berhadapan. Lampu remang tak membuat wajah cantiknya pudar.

“Senang bertemu dengan kamu,”kataku memulai pembicaraan
“Begitu pun aku. Bagaimana perjalananmu?” tanyanya
“Lancar meski melelahkan. Puisi dan penampilanmu luar biasa, Carina.”

“Terima kasih. Aku hanya berusaha tampil maksimal seperti yang aku janjikan. Puisimu yang kau kirimkan padaku lewat email juga tak kalah bagus. Tadi aku sengaja membaca puisiku Bayang Negeri Tropis. Puisi tentang negeri yang selalu datang dalam mimpiku. Itu negerimu.”

“Maksudmu, “aku berhenti sesaat,” negeriku Indonesia?”

“Ya. Tak salah. Karena itu ketika kau mengirim email mengabarkan keikursertaanmu di program Creative Writing Leeds University, aku begitu senang. Meski setiap bertemu dengan orang Indonesia rinduku makin tak tertahankan. Menyiksaku. Sering aku bertengkar dengan papaku karena aku menceritakan rinduku yang menggebu pada negeri tropismu. Papa memintaku untuk melupakan saja. Dari pada menyakitkan.”

Aku belum mengerti arah pembicaraan Carina. Kenapa kerinduan pada Indonesia begitu lekat dalam dirinya. Kalau kerinduan itu karena keindahan Indonesia, menurutku lumrah. Tapi kenapa ingatan pada Indonesia diminta dilupakan.

Carina mengangkat gelas bir lalu mengarahkan ke bibirnya yang seksi. Capucino di depanku telah kuminum dan kini tinggal separo. Asap rokok mengitari ruangan, tak henti menghampiri. Penyanyi negro melantunkan lagu-lagu The Beatles. Sepasang muda mudi tampak bercengkrama di sudut ruang sambil sesekali memautkan bibir mereka.

“Papaku selalu memintaku menerima kenyataan,” Carina melanjutkan.

“Maksudmu?” tanyaku penasaran.

“Ceritanya panjang. Mamaku adalah seorang Indonesia. Papaku orang asli Leeds. Dua puluh delapan tahun yang lalu mereka menikah. Papa bertemu mama pertama kali ketika papa melakukan penelitian tentang sastra Sunda di Bandung. Karena saling mencinta akhirnya mereka menikah. Setahun kemudian aku lahir. Dua tahun berikutnya lahir adikku, Yohana. Dia kini tinggal di Bandung bersama mama yang mengajar di sebuah universitas swasta di sana.”

“Lalu kenapa kalian tidak tinggal bersama?”

“Papa dan mama harus berpisah karena orang tua papa tak bisa menerima kehadiran mama. Aku tak tahu kenapa. Padahal Papa dan mama saling mencinta sepenuh hati. Mama dari awal sebenarnya ingin tinggal di Leeds. Tapi setelah keluarga Leeds menolak, dia mengurungkan niatnya. Aku masih berumur lima tahun waktu itu. Sementara papa tak mungkin menetap lama di Indonesia karena harus melanjutkan mengajar di Leeds University. Mama tetap di Bandung. Aku ikut papa dan Madeline ikut mama. Kenangan saat tinggal di Indonesia, negeri tropis yang sering membuatku jadi melankolis, tak mungkin kulupa. Terlebih wajah mama dan adikku. Itulah kenapa banyak puisiku yang tak bisa lepas dari latar Indonesia.”

Aku tertegun. Malam merambat. Dingin merambah setiap sudut kota Leeds. Aku menghabiskan Capucino yang mulai dingin. Carina terdiam. Musik di kafe mengalun syahdu. Mata Carina hampa dan kosong.
”Suatu hari aku akan kembali ke Indonesia. Aku sangat merindukan mama dan adikku,” kata Carina sambil menghela nafas panjang.

Leeds, Midnight, Juni 2007

Alamat Penulis: Jl. Anggrek 1/1b Sengkaling Dau Malang