Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya

Yusri Fajar
jiwasusastra.wordpress.com

Suatu hari ada seorang politisi yang dinilai ‘melecehkan’ etnis tertentu. Politisi yang mulai dikenal dengan gaya santun ini, tiba-tiba tampak sedikit emosional ketika berdebat di Televisi. Kesantunan yang oleh beberapa pengamat dinilai sebagai upaya untuk melakukan ‘penetrasi’ ke lingkaran hegemoni politik Jawa dalam partai dimana dia berada, tiba-tiba berubah menjadi ungkapan kemarahan yang bersifat menyerang, mirip ‘preman’. Continue reading “Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya”

Revitalisasi (Pilihan) Sastra di tengah Pragmatisme Masyarakat

Yusri Fajar *
jiwasusastra.wordpress.com

I
Ada persepsi keliru dalam masyarakat yang perlu diluruskan, yaitu siswa di kelas eksakta (ilmu pasti) memiliki kecerdasan yang lebih baik dibandingkan dengan siswa yang berada di kelas humaniora, seperti sastra dan bahasa. Perspesi ini memengaruhi berbagai kebijakan dalam pengembangan kompetensi, sarana dan prasarana, termasuk perlakuan terhadap siswa yang memilih bidang bidang humaniora. Continue reading “Revitalisasi (Pilihan) Sastra di tengah Pragmatisme Masyarakat”

Sastra dan Kuliner

Yusri Fajar *
KOMPAS, 27 Okt 2013

Sastra dan kuliner berhubungan tidak hanya dalam hal yang bersifat material dan fisikal, seperti bagaimana tokoh-tokoh dalam karya sastra mengonsumsi dan menikmati makanan, tetapi juga bersifat sosial kultural, yaitu bagaimana tokoh-tokoh tersebut mengonstruksi identitas budaya dan prinsip hidup mereka melalui makanan. Khazanah kuliner lokal, tradisional hingga modern, membangun citra tokoh dan lanskap kultural dalam karya sastra. Continue reading “Sastra dan Kuliner”

Peneliti Lokal Versus Peneliti Asing

Yusri Fajar *
KOMPAS, 17 Mei 2013

Berita di Kompas edisi 16 Maret lalu tentang dominasi peneliti asing dalam penelitian wayang golek dan wayang cepak di Jawa Barat menarik perhatian.

Dalam berita itu, Endo Suanda, Direktur Yayasan Seni Tikar, mengatakan, banyak peneliti lokal tak didukung data lengkap sehingga hanya membahas permukaan. Lili Suparli, dosen STSI Bandung, juga dalam berita itu mengatakan, peneliti asing unggul karena mereka memiliki bekal metode penelitian yang lumrah terjadi di negara asalnya sejak ratusan tahun lalu. Continue reading “Peneliti Lokal Versus Peneliti Asing”

Rumah di Tepi Lumpur (MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO)

Yusri Fajar
_Koran Surya, 2008

Senja berhias debu beterbangan dari jalanan yang tergilas roda kendaraan. Beberapa truk berjalan beriringan, datang silih berganti memuntahkan tanah keras bercampur batu di atas tanggul penahan luapan lumpur. Karman, lelaki berumur empat puluh lima tahun, menatap hamparan mega dari atas salah satu sudut tanggul yang memanjang. Telah setahun rumahnya tenggelam dalam lumpur yang keluar deras dari perut bumi. Rumah hasil jerih payahnya itu kini tinggal kenangan. Continue reading “Rumah di Tepi Lumpur (MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO)”