Tag Archives: Yusri Fajar

Rumah di Tepi Lumpur (MENGENANG TRAGEDI LUMPUR LAPINDO)

Yusri Fajar
_Koran Surya, 2008

Senja berhias debu beterbangan dari jalanan yang tergilas roda kendaraan. Beberapa truk berjalan beriringan, datang silih berganti memuntahkan tanah keras bercampur batu di atas tanggul penahan luapan lumpur. Karman, lelaki berumur empat puluh lima tahun, menatap hamparan mega dari atas salah satu sudut tanggul yang memanjang. Telah setahun rumahnya tenggelam dalam lumpur yang keluar deras dari perut bumi. Rumah hasil jerih payahnya itu kini tinggal kenangan.

Bunga Tulip

Yusri Fajar
http://www.malang-post.com/

Bunga tulip basah tergeletak di depan pintu apartemenku di jalan Smaragdlaan 98 Leiden. Bunga tulip merah muda itu basah berlumur air mata. Tak ada pesan juga tulisan. Aku mengambilnya, melihat butiran-butiran air mata masih menempel. Siapakah yang mengirim bunga tulip basah airmata ini? Tulip adalah lambang keindahan yang memesona banyak orang. Seharusnya tulip tak tercemari kesedihan.

Film sebagai Pencerah Bangsa

Yusri Fajar *
__Harian Surya, 24 Des 2010

Festival film Indonesia 2010 usai digelar. Film karya sutradara Hanung Bramantyo Sang Pencerah yang awalnya terlempar dari nominasi, setelah terjadi pergantian dewan juri, film tentang perjuangan pendiri Muhammadiyah ini akhirnya meraih sejumlah penghargaan. Mutu memang harus menjadi pertimbangan utama dalam festival, meskipun keputusan juri tak selalu bisa memuaskan.

Puisi Ekologis dan Maritim 5 Penyair Jatim

Yusri Fajar *
__Radar Surabaya, 29 April 2012

LIMA Penyair Jawa Timur, Akhudiat, Zawawi Imron, Nanang Suryadi, F Azis Manna, dan Kusprihyanto Namma yang dipilih untuk berpartisipasi dalam Forum Penyair Internasional 2012, mengha-dirkan nuansa ekologis dan maritim dalam puisi-puisi mereka. Penyair Jatim ini tampil bersama penyair-penyair dari Belanda, Jerman, Afrika Selatan, Swe-dia, Selandia baru dan Makedonia.

Bung Tomo dan Neokolonialisme

Yusri Fajar
http://www.surya.co.id/

Dengan gagah berani dan tanpa kompromi Bung Tomo mengajak para pejuang untuk memerangi penjajah. Upaya pendudukan wilayah Indonesia secara paksa dengan kekuatan bersenjata ditanggapi ksatria dengan taruhan nyawa.

pidato heroik bung Tomo saat menanggapi ancaman kolonialis Inggris di tahun 1945 mampu membakar dan membangkitkan semangat Arek-arek Suroboyo dan berbagai elemen lainnya.