Macbeth, Tragedi “Indah” dari Shakespeare

Putu Fajar Arcana
_Koran Kompas

Pada dasarnya, kita sangat suka terhadap tragedi. Dalam waktu singkat, cerita tragedi dari sebuah ruang pengadilan di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, menjadi buah bibir meski hanya dipicu oleh tiga butir buah kakao. Itulah panggung teater sesungguhnya yang sulit ditandingi pementasan semacam lakon Tragedi Macbeth, 20-22 November 2009, oleh Teater Sastra Universitas Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.

Jika tidak sangat cermat dan penuh dengan daya jelajah artistik yang mumpuni, panggung teater akan jatuh pada duplikasi yang mubazir. Ia hanya akan memindahkan realitas sehari-hari dengan daya pancar yang lebih lemah ketimbang apa yang sudah lebih dahulu dilakukan oleh media massa. Usaha sutradara I Yudhi Soenarto, master teater dari State University of New York, Amerika Serikat, mengontekskan tragedi dalam drama karya William Shakespeare satu sisi pantas diapresiasi. Namun, ia memiliki tantangan besar yang harus ditaklukkan sebelum memutuskan memilih naskah ini untuk merayakan puncak 25 Tahun Teater Sastra UI.

Tantangan paling nyata, bagaimana menjadikan panggung teater sebagai arena yang pantas ditonton publik karena berbagai pertimbangan setelah melihat realitas sehari-hari jauh lebih tragis ketimbang panggung teater itu sendiri. Perkara cicak vs buaya, yang melibatkan institusi penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sudah berbulan-bulan ”mencuri” perhatian publik. Di situ kesenian (teater) harus benar-benar bisa menunjukkan dirinya sebagai ruang-renung dan muara katarsis, yang tidak berhenti pada konteks hiburan semata-mata.

Kutipan dialog tokoh Macbeth (I Yudhi Soenarto) yang dijadikan semacam kontekstualisasi lakon yang ditulis tahun 1603, yang berbunyi, ”Kejahatan harus disiram kejahatan lain agar bertambah tenaganya”, menunjukkan keinginan kuat Yudhi membaca tragedi zaman. Sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan seorang tokoh intelektual seperti Yudhi. Itulah sebenarnya upaya pemaknaan ”baru” terhadap lakon Macbeth yang barangkali telah ratusan kali dimainkan sejak tahun 1970-an oleh kelompok-kelompok teater berbeda di seluruh Indonesia.

Adaptasi

Upaya adaptasi paling mengesankan pernah dilakukan oleh Yayasan Arti Bali dengan memainkan lakon Macbeth dalam bentuk gambuh. Gambuh adalah seni pertunjukan klasik, yang menjadi asal-muasal sebagian besar seni pertunjukan tradisi yang kini berkembang di Bali. Gambuh Macbeth dipentaskan tahun 1999 dan disutradarai Kadek Suardana adalah contoh baik bagaimana teater bekerja keras melampaui realitas sosial, politik, dan kultural yang terjadi saat itu.

Sebagai bentuk kesenian yang menjadi ”ibu” dari semua kesenian yang ada sekarang di Bali, gambuh sudah nyaris punah. Yayasan Arti kemudian melakukan rekonstruksi dan ”menjinakkan” lakon produk Barat ke dalam bingkai Timur sebagaimana pula pernah terjadi pada kisah Romeo and Juliet atau Sampek Eng Tay.

Apa yang dilakukan Teater Sastra UI dalam tiga hari ini belum terlihat maksimal. Penggunaan multimedia untuk memberi sentuhan pada latar cerita sebenarnya usaha yang menarik. Sayangnya, penggunaan bahasa visual itu sama sekali tidak menunjukkan eksplorasi yang mendukung perjalanan alur cerita. Ia bahkan nyaris tak jauh berbeda dengan penggunaan layar gulung pada teater-teater tradisi kita. Bedanya, jika dulu layar bergambar hutan atau kerajaan digulung untuk memperlihatkan perpindahan latar cerita, tim panggung Teater Sastra UI hanya menggantinya dengan komputer.

Lakon Macbeth diakui banyak aktor dan sutradara sebagai naskah yang berat. Di dalamnya banyak dialog yang berpanjang-panjang, penuh dengan renungan hidup yang ditulis Shakespeare secara metaforis. Lantaran mengikuti secara tertib hampir seluruh adegan, pementasan Teater Sastra UI sampai memakan waktu lebih dari 3,5 jam. Apabila dalam durasi pentas yang panjang, sementara kita tetap memilih mengumbar dialog-dialog filosofis secara verbal, bisa jadi itu pekerjaan yang tidak terlalu menguntungkan. Tidak saja lantaran sekarang hidup kita didominasi oleh kultur visual, tetapi sekali lagi, tantangan panggung teater kini ”melawan” kekejaman realitas itu sendiri.

Dan itulah tragedi sesungguhnya yang harus kita lewati sebelum benar-benar memutuskan kembali ke panggung teater. Hanya dengan begitu, panggung teater tidak ”mati” kesepian sebagaimana yang terjadi pada Jumat (20/11) malam itu…

Dijumput dari: http://teatersastraui.com/2011/07/03/macbeth-tragedi-indah-dari-shakespeare/