Adin dan setitik perjuangan sastra Semarang

Dwi Nikmatika Roma
___Harian Semarang

Sejak tergabung dengan organisasi Hysteria dan menjabat direktur pada 2007 hingga sekarang telah banyak dilakukan Adin. Untuk pertama kalinya Hysteria mempunyai forum rutin bernama “Ngobrol Sastra Rerasan Budaya” yang berlangsung hingga 21 kali pertemuan.

Hysteria yang pada mulanya ekslusif dan hanya untuk kalangan terbatas menjadi organisasi terbuka yang rajin menggelar diskusi. Sepulang dari lokakarya penulisan buku program oleh Yayasan Kelola di Jakarta 2007 awal, membuka mata Adin bahwa dia harus keluar dari Semarang untuk memuaskan dahaganya pada jaringan dan sosok pembimbing yang bisa menuntun langkahnya. Sejak saat itulah dia intens berhubungan dengan jaringan-jaringan yang ada di Yogjakarta, Jakarta, Bandung, Solo dan kota-kota lain.

Hsyteria juga tidak hanya berkutat di bidang penerbitan namun juga aktif menggelar event-event sastra. Gebrakan yang cukup menyolok mata pada 2008 dengan menggelar tiga acara besar sekaligus selama setahun: seminar sastra dengan pembicara S Prasetyo Utomo, Andrea Hirata, dan Arswendo Atmowiloto.

Kehadiran ketiga pembicara itu membuncahkan antusiasme anak-anak muda yang sedang keranjingan Laksar Pelangi. Ratusan orang hadir dalam acara itu. “Sastra Balik Desa” adalah tema yang dipilih karena bekerjasama langsung dengan masyarakat Gunungpati Semarang.

“Ratusan orang hadir dan puluhan sastrawan kenamaan hadir dari 21 kota. Salah satu isu yang diangkat pada saat itu adalah minimnya peran senior dalam medidik juniornya,” ujar Adin.

Sejauh yang Adin amati, Semarang minim mewariskan tradisi yang konstruktif. Generasi hari ini harus berguru pada dirinya sendiri dan berdialektika dengan pikiran-pikirannya sendiri karena para pendahulunya telah cukup umur dan merasa hal-hal semacam ini kuranglah penting.

“Maka jadilah generasi hari ini adalah generasi yatim piatu tanpa warisan sistem dan tradisi yang konstruktif. Tidak heran jika banyak yang tumbang karena disorientasi mau kemana lagi setelah ini. Toh senior mereka tidak banyak juga yang bertahan,” lanjutnya.

Menurutnya, perlu disayangkan jika orang-orang yang memiliki kepedulian seringkali tidak menjabat kekuasaan yang strategis. Untuk itu “Sastra Balik Desa” 2007 menjadi embrio awal bagi lingkaran jaringan yang dirintis Hysteria dalam konteks yang lebih luas, dan menurut rencana acara tersebut bakal dihelat lagi akhir tahun ini.

Masih pada tahun yang sama Hysteria juga mengadakan “Festival Kesenian Semarang: Konsoemsi Ataoe Mati!” Festival yang didanai organisasi dari Belanda ini barangkali festival yang dipaksaadakan mengingat Semarang pada saat itu belum mempunyai festival yang menggabungkan interdisipliner. Meskipun respons publik kurang menggairahkan barangkali bisa dikatakan adanya festival ini memantik festival serupa yang terjadi pada tahun-tahun berikutnya.

“Apapun respons publik kami mampu membuktikan diri sebagai sosok yang berkarakter dan punya sikap,” ungkap pemuda kelahiran Rembang ini begitu semangat.

Hysteria dan Konstelasi Kesenian Semarang

Berbekal prestasi itulah Adin pada 2009 mendapat kesempatan dan lulus seleksi Magang Nusantara Yayasan Kelola untuk menimba ilmu di Bandung. Selama 3 bulan di Commonroom, Bandung, pemuda kalem ini belajar banyak hal mengenai idealnya mengelola organisasi dan komunitas. Hasilnya adalah Hysteria yang sekarang telah mempunyai visi yang jelas bagaimana dia menempatkan diri pada konstelasi kehidupan kesenian baik di Semarang maupun dalam konteks lebih luas.

Di bawah pimpinan Adin hampir tiap bulan art space Hysteria yang bernama Grobak A(r)t Kos tidak pernah sepi dari kegiatan kesenian. Purna Cipta Nugraha sebagai pihak yang dipercaya mengelola art space sampai kewalahan mengatur jadwal dari proposal yang masuk.

Di bidang sastra sendiri Adin menggawangi terbentuknya Sastra Horeg. Bersama Agung Hima, Naka Andrian, Widyanuri, Gema Yudha dan lain-lain mereka menjadi gerakan teraktif yang menuntut adanya perbaikan sistem di bidang sastra dan menularkan kepedulian terutama pada generasi di bawahnya.

Gerakan ini meski belum sempurna tapi cukup sistematis dalam mengorganisasi dan melibatkan berbagai elemen yang saling melengkapi. Mereka memang membatasi diri pada konteks Semarang supaya ada fokus dan berdasar keyakinan bahwa untuk menacapai hal-hal besar dimulai dengan langkah kecil yang intensif, laten, militant dan berkesinambungan.

“Kelak gerakan ini jika berhasil akan menjadi modal pertama di bidang gerakan sub kultur yang ada di kota lunpia ini,” katanya sambil tertawa.

Melawan Mitos “Semarang Kuburan Seni”

Sejak kedatangannya di kota Semarang, Adin merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kota ini. Kehausannya akan pegetahuan di bidang ilmu-ilmu humaniora telah mengantarnya dari satu forum ke forum dan diskusi-diskusi intens dengan berbagai kawannya. Mitos Semarang sebagai kota seni membuatnya terus bertanya-tanya dan gelisah mengapa sedikti sekali komunitas, institusi, organisasi, forum intelektual yang bertahan di kota ini.

“Benarkah sejatinya Semarang memang ditakdirkan sebagai kota industri yang hanya mengakomodasi kepentingan pasar dan tidak merawat sisi-sisi idealisme warganya, terutama di bidang kesenian” katanya saat ditemui di markas Hysteria Jalan Stonen 29 Sampangan, Semarang.

Menurutnya, Semarang pada masanya pernah dianggap sebagai kota intelektual dan lebih lagi kota yang cukup dinamis dan progresiv dengan gerakan buruhnya. Dia ingat Semaoen membangus Syarikat Islam Merah di kota ini. Dia juga ingat kota ini menjadi salah satu kota yang dikonstruksi oleh Belanda secara terarah setelah Amangkurat II memberikannya sebagai konsesi atas bantuan menumpas Trunojoyo. Dia juga tahu bahwa kebudayaan adalah konstruksi untuk itu perubahan sangat mungkin terjadi. Dan mitos adalah upaya bawah sadar untuk mempengaruhi perilaku masyarakat yang hidup didalamnya. Melalui mitos yang menggerakkan inilah segala ilmu pengetahuan bisa dipecundangi sehingga keadaan hari ini adalah keadaan terberi dan tidak bisa berubah. Dan ia menolak.

“Keadaan ini bisa berubah mitos bisa direkonstruksi, termasuk Semarang sebagai kuburan seni,” lanjut Adin.

Tentu bukan hal yang mudah karena butuh strategi budaya yang jitu. Namun harus ada yang memulai dan memantik supaya kelak keterputusan antar generasi ini tidak diwariskan turun temurun. Dialah Adin, direktur Hysteria dengan segala keyakinannya memutuskan untuk tinggal dan berproses di Semarang daripada mengikuti jejak para pendahulunya yang lebih realistis, pindah di kota dengan infrastruktur yang lebih siap.

Akhirnya Organisasi Hysteria yang beralamatkan Jalan Stonen 29 Sampangan ini memang yang menjadi senjata pertamanya untuk mewujudkan cita-citanya yang besar itu. Sebagai organisasi yang mendasarkan dirinya pada dukungan terhadap komunitas-komunitas yang kelak mandiri untuk saat ini selain melakukan program yang bermacam-macam juga mengadakan ekspermentasi sosial di bidang gerakan sastra. Kelak uji coba teori-teori social pada praksis gerakan sastra yang digelutinya. “Jika berhasil akan menjadi modal bagi sub kultur lain di Semarang yang selama ini berjalan sendiri-sendiri,” yakin pria yang punya tampilan sederhana ini.

Baginya organisasi yang bermukin di kota tentunya harus mempunyai imbas bagi wilayah yang ditempatinya. Sedangkan untuk membuat program yang tepat sasaran sebuah organisasi harus melakukan riset, analisis data dan ideologi untuk membuat gerakan tidak hanya bertumpu pada kepentingan finansial semata.

“Semarang bisa berubah, mulai dari diri sendiri, komunitas serta mengatur strategi demi jaringan yang lebih luas., tidak hanya local namun juga nasional bahkan internasional. Hal itu bisa dilihat dari rintisan yang dilakukan Hysteria yang beberapa kali kegiatan mereka berisikan orang-orang dari Jepang, Australia, Singapura, Italia, Spanyol, dan lain-lain,” terang Adin. (Dwi Nikmatika Roma/rif)

Dijumput dari: http://hariansemarangragam.blogspot.com/2011/11/adin-dan-setitik-perjuangan-sastra.html