B I S U

Humam S. Chudori
http://www.suarakarya-online.com/

SETELAH Mas Gong memberikan nomor ponsel Nurdin. Saya menghubungi sahabat di perguruan tinggi itu. Memang. Lelaki berperawakan tambun itu sudah lama tak berhubungan dengan saya. Saya tidak pernah mengontaknya. Ia pun tak menghubungi saya.

Ya, setelah berkali-kali saya mencoba menelpon tempat kerjanya tetapi tak pernah nyambung. Selalu sibuk nadanya. Sementara itu, nomor hp yang pernah diberikan kepada saya sudah tak aktif. Akhirnya saya tak pernah menghubungi dia lagi. Apalagi sekarang saya sudah punya sibuk mengurus keluarga. Mengurus empat orang anak, membuat saya jarang melakukan silaturahmi dengan teman-teman.

Entah kenapa saya benar-benar tidak mau lagi menghubungi suami Riawati itu. Mungkin karena tak ada keperluan yang penting. Kecuali sekedar silaturahim.

Mungkin ia sekarang juga seperti saya. Sibuk mengurusi keluarga. Ketika kami masih sama-sama bujangan. Hampir setiap pekan kami akan bertemu. Bahkan tak jarang dalam satu pekan itu kami bisa bertemu hingga tiga kali. Sebab ia selalu menyempatkan diri datang ke rumah. Ketika ia pulang terlalu malam, misalnya.

Ya, lelaki yang bekerja di Ancol dan tinggal di Kebayoran Lama itu pasti akan melewati rumah kontrakan saya. Jika merasa kantuk, ia pasti akan mampir ke Setia Budi rumah tempat saya mengontrak.

“Saya mau nginap di sini, Dod,” demikian setiap kali ia mengetuk pintu rumah saya di tengah malam, “Saya sudah ngantuk, soalnya.”

Memang. Kadang-kadang ia langsung tidur setelah memasukkan vespanya ke halaman rumah. Tetapi adakalanya ia berbincang-bincang dulu dengan saya. Ngobrol hingga pukul satu malam. Yang dijadikan pembicaraan biasanya topik yang tengah berkembang dalam masyarakat. Tetapi, tak jarang kami akan membicarakan mata kuliah atau Pak Rasgad, satu-satunya dosen killer di kampus. Karena saat itu, kami sama-sama sedang duduk di bangku perguruan tinggi yang sama.

Nurdin bekerja di Ancol dari siang hingga malam hari. Karena itu ketika ia pulang terlalu larut hampir dapat dipastikan akan datang ke tempat saya. Lalu pagi-pagi sekali ia akan pulang ke rumah kakaknya yang berada di Kebayoran Lama.

Setelah pindah rumah kontrakan, Nurdin mulai jarang datang ke rumah. Meskipun demikian bukan berarti hubungan kami putus. Sebab kami masih saling kontak lewat telepon. Dan, Nurdin kendati tidak sesering dulu sesekali masih bertandang ke rumah yang saya beli secara angsuran lewat KPR. Ya, paling tidak dalam sebulan bisa dua kali ia datang ke rumah saya.

Kesibukan di rumah, membuat saya jarang mengontak Nurdin. Rupa-rupanya ia juga sudah sibuk hingga tak pernah menghubungi saya lagi. Apalagi setelah kami sama-sama punya istri dan punya anak. Saya sendiri tak pernah tahu dimana Nurdin tinggal, setelah punya istri. Ia tinggal di daerah Tebet. Tapi, saya tak pernah diberi alamat yang jelas. Karena itu, saya tak mungkin datang ke rumahnya.

* * *

Tanpa pernah saya tahu sebelumnya, salah seorang tetangga saya yang tinggal di lain RT ada yang sekantor dengan Nurdin. Sayangnya, Mas Gong, demikian tetangga saya itu, sudah pensiun ketika saya tahu ia teman kantor Nurdin. Karena itu, Mas Gong hanya bisa memberikan nomor ponsel Nurdin kepada saya. Lantaran Mas Gong juga tak pernah tahu alamat Nurdin.

* * *

Saya hampir tak percaya dengan nomor telepon pemberian Mas Gong setelah saya menghubungi nomor tersebut. Betapa tidak, setiap kali telepon saya tersambung. Pemilik nomor hp tersebut langsung mematikannya.
Setelah tiga kali menghubungi nomor itu. Akhirnya saya mendapat pertanyaan lewat SMS, “Ini siapa ya?”

Mendapat pertanyaan ini, saya kembali menghubunginya. Karena saya paling tidak suka menulis SMS. Berkomunikasi lewat SMS buat saya kurang puas. Tetapi, lagi-lagi alat komunikasi dua arah tanpa kabel itu dimatikan pemiliknya.
Akhirnya saya memutuskan menjawab SMS yang dikirimnya. “Saya Doddy. Ini Nurdin kan?”
“Sorry. Saya hanya bisa menjawab lewat SMS. Saya sudah tak bisa bicara.”

Saya tercenung membaca SMS ini. Antara percaya dan tidak, saya berkali-kali membaca pesan singkat ini. Benarkah sahabat saya ini sudah tak bisa ….

Alat komunikasi yang tengah saya pegang kembali bergetar dan mengeluarkan nada SMS, menghentikan pertanyaan yang muncul dalam benak saya.
“Ada apa, Dod?”
“Tak apa-apa, Nur. Cuma ingin tahu kabarmu,” jawab saya lewat SMS.
“Oh, saya kira ada apa.”
“Saya baru dapat nomor dari Mas Gong.”
“Salam buat Mas Gong.”
“Sekarang kamu tinggal di mana?”

Pertanyaan saya ini tak dijawabnya. Semula saya pikir pesan ini tidak terkirim. Karena itu, saya mengirim pesan yang sama hingga tiga kali. Meskipun sudah tiga kali saya kirim SMS. Nurdin tak memberi jawaban. Ah, barangkali pulsanya habis, pikir saya.

Sepuluh hari kemudian, Nurdin baru menjawab pertanyaan saya. Ia memberi alamatnya secara lengkap lewat SMS. Ia dan istrinya sudah pindah ke Depok. Pada SMS berikutnya, ia menyebutkan alasannya kenapa baru menjawab pertanyaan saya sepuluh hari yang lalu. Rupa-rupanya Nurdin harus mendapat izin dari istrinya terlebih dulu jika akan memberi alamat rumahnya.

Meskipun terasa janggal. Ganjil. Aneh. Tidak masuk akal. Tetapi, alasan tersebut tidak akan saya tanyakan. Yang pasti, ia telah memberikan apa yang saya minta. Dengan demikian, saya bisa bertemu dengan sahabat lama dan membuktikan kebenarannya, kalau ia sudah tak bisa bicara.

* * *

Saya tidak terlalu terkejut melihat sendiri keadaan Nurdin yang sudah tidak bisa bicara, tatkala saya bertandang ke rumahnya. Sebab ia sudah memberi tahu lewat SMS. Agaknya bukan hanya tidak bisa ngomong. Melainkan pula separuh badannya sudah mati. Apabila berjalan ia terseok-seok. Kaki kirinya diseret bila melangkah. Rupa-rupanya ia pernah terserang stroke tanpa pernah saya tahu sebelumnya. Barangkali Mas Gong juga sama, tak tahu kalau teman kantornya itu terserang stroke. Buktinya ia tak pernah menceritakan keadaan Nurdin kepada saya.

* * *

“Mungkin saja Tuhan tersinggung sama dia, Mas,” ujar Cantika, istri saya, tatkala mendengar penuturan suaminya tentang penyakit Nurdin.
Saya diam. Karena belum tahu arah pembicaraannya.

“Selama ini kalau dia bicara selalu sombong. Nah, dengan cara begitu ia tak bisa lagi menyombongkan diri,” lanjut Cantika.
Saya masih diam.

“Coba kalau dia ke sini apa tidak selalu membanggakan diri? Bukankah ia selalu berbuat demikian jika kemari?” tambah Can-tika, “Waktu dia punya motor baru, misalnya. Lalu ketika ke mari dengan membawa mobil. Padahal mobilnya bekas. Apalagi kalau mobil baru?”
Saya tetap diam.

Benar. Setiap kali Nurdin datang ke rumah, hampir dapat dipastikan, akan menceritakan sesuatu yang baru dimilikinya. Bukan hanya ketika ia bisa membeli mobil. Melainkan pula tatkala pertama kali ia punya ponsel. Saya ingat benar saat memberikan kartu nama kepadanya, karena saya pindah tempat kerja.

“Kartu nama seperti ini sebetulnya sudah tidak perlu, Dod. Hape saya ini sudah bisa memuat semua yang ada di kartu nama,” katanya.

Setelah itu ia memindahkan nama, nomor telpon, dan alamat yang tertulis pada kartu nama ke dalam hapenya. Kemudian mengembalikan kartu nama yang baru saya serahkan.

Saat itu, istri saya merasa tidak respek dengan caranya. Ia sama sekali tidak menghargai pemberian saya. Sebab kartu nama saya, yang dibuatkan oleh kantor tempat saya kerja, memang untuk dibagikan. Bukan untuk dibaca dan dikembalikan lagi.

“Kamu jangan ketinggalan teknologi Dod,” lanjutnya. Ada nada sombong dalam kalimat yang dilontarkan,
“Bilang sama suami kamu, Tika. Suamimu itu suruh beli hape. Biar kalau suami kamu pergi ….”

“Coba kalau sekarang ia masih bisa bicara. Mungkin dia akan kemari lagi. Entah apa yang akan dibanggakan lagi kepada kita,” ujar Cantika, membuyarkan lamunan saya.

“Mungkin bisunya teman Mas itu juga kasih sayang-Nya juga. Sebab kalau ia masih bisa bicara pasti akan menyakiti banyak orang. Mulutnya gampang melecehkan orang lain,” tambah Cantika.

Saya masih tetap diam. Rupa-rupanya selama ini Cantika tidak pernah terima suaminya dilecehkan. Tetapi, ia tidak pernah berani mengatakannya kepada saya. Dari ekspresi wajahnya saya bisa menangkap perasaan ketidaksukaanya terhadap Nurdin.

Roman Cantika kali ini persis sama seperti tatkala Nurdin membanggakan anaknya yang disekolahkan di sebuah sekolah swasta dengan bayaran yang mahal. Sementara itu, Jelita, anak kami yang pertama, hanya sekolah di sebuah sd di pinggiran kota Tangerang.

“Apakah mungkin Jelita bisa sukses kalau sekolahnya saja di sana,” kata Nurdin, ketika itu, lalu ia tertawa sendiri, “Buat masa depan anak mestinya kita tak perlu ….”

“Saya tidak tahu kita harus berbuat apa, bersyukur atau justru sebaliknya, setelah tahu teman Mas tidak bisa bicara seperti sekarang ini. Soalnya satu sisi ada positifnya. Dia tak mungkin lagi menyombongkan diri. Dan ini artinya ia telah diselamatkan dari sifat menyaingi Tuhan. Sebab sombong itu hak Tuhan, bukan hak hamba. Tetapi dari sisi lain?” untuk ke sekian kalinya Cantika membuyarkan lamunan suaminya, “Ah, sudahlah! Kenapa kita harus berpanjang-panjang membicarakan Nurdin.”

Setelah berkata demikian, Cantika pergi ke dapur. Meninggalkan suaminya yang baru datang dari rumah Nurdin. Saya menceritakan keadaan Nurdin, lantaran Cantika menanyakan kabar tentang sahabat saya itu. Mendengar berita tentang keadaan sahabat suaminya, ia sama sekali tidak kelihatan ikut prihatin. Padahal, biasanya, Cantika tak pernah demikian. Selalu saja ia akan merasa prihatin bila ada kabar buruk tentang orang lain. Paling tidak, ia akan berkata ‘semoga lekas sembuh,’ semoga dia diberi kesabaran dalam menghadapi cobaan ini,’ semoga cobaan itu cepat dapat diberikan jalan keluar-Nya,” dan kata-kata ‘semoga’ yang lain. Ini artinya, Cantika senantiasa punya atensi dengan cerita saya. Namun, tidak untuk kali ini. Ia sama sekali tak berkata semacam ini.

Sementara itu, saya hanya duduk. Mematung di kursi tamu. Bukan memikirkan keadaan Nurdin. Melainkan memikirkan perubahan sikap istri saya tersebut.***

/4 Februari 2012