Dagang di Semenanjung Dunia Tak Berujung

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

MEMBANDINGKAN visi seorang penyair dengan seorang penyair lain, apalagi apabila mereka terdiri dari kutub-kutub yang berbeda pasti mendatangkan keasyikan yang berkesan. Kalau diteruskan juga kerja membanding itu akan berlipat-lipat dan mencapai tingkat kegalauan yang pasti membuat kita lebih tertarik pada mereka itu atau segera meninggalkannya karena sangat muak.

Misalkan seorang penyair (baca: sastrawan) mempunyai pandangan dunia dan pandangan hidup (Weltundlebenanschauung) yang mengiakan dunia dan kehidupan (Weltundlebenbejahung) dibanding dan dibandingkan dengan mereka yang menidakkan dunia dan kehidupan (Weltundlebenverneinung), lalu dilihat pula dari mana asal mereka yang pasti membuat pan­dangannya juga berbeda, seperti perbedaan timur dan barat, serta agama dan filsafat yang dianut. Agar jangan sampai pada tingkat kegalauan yang dahsyat seperti berdepan dengan gambar fantasmagorik yang membingungkan namun nikmat lebih baik memulainya dengan riang dan seperti saran dan petunjuk Maria Montessori mari meng­hadapi soal-soal aljabar yang paling pelik seperti halnya ber­main-main.

Johann Wolfgang Goethe dalam karya utamanya Faust berkata tentang seorang dagang sebagaimana diungkapkan oleh sang wira cerita pada sajak baris ke-3348 yang berbunyi: Bin ich der Fluechteling nicht, der Unbehauste? Bukankah aku orang dagang itu, yang tak punya rumah? Dan gambaran tentang orang ter(di)asing(kan) dan tak berumah yang mungkin dinamakan orang dagang itu telah disambung dengan sangat sempurna oleh Rainer Maria Rilke dalam salah-satu sajaknya berjudul Herbsstag dengan mengatakan bahwa ia yang sekarang tak berumah, tidak lagi mem-ban­gunnya, ia yang sendiri akan lama bersendiri, akan terjaga, membaca menulis panjang sekali (Wer jetzt kein Haus hat, baut sich keines mehr. / Wer jetzt allein ist, wird es lange bleiben, / wird wachen, lesen, lange Briefe schreiben).

Sedangkan Muhammad Haji Salleh sendiri mengisahkan tentang kedagangannya dengan berkata sebagaimana tertulis dalam Sebuah Unggun di Tepi Danau sebagai berikut, “Saya telah ditakdirkan menjadi dagang, pengembara baru dalam dunia yang kini menjadikan sebagian penghuninya dagang di antara benua, pengalaman dan bangsa. Dagang ini adalah pengembara dunia kecil, tapi pelbagai, dagang ini diserahkan dan menerima dunia ini. Maka dengan rasa separuh bersedia itu saya mengumpul cebisan-cebisan dunia yang ditemui lewat pengalaman konkritnya kerana dunia itu adalah dunianya sendiri, betapa pun buruk atau bertaburan. Itulah yang ada dan harus dimengerti oleh penyair.”

Seorang yang disebut dagang yang luas dikenal dalam kebudayaan Melayu sebenarnya ada dua macam. Jenis yang pertama ialah orang yang kedagangannya tidak karena dorongan keriangan hatinya yang dikenal dalam sajak Goethe di atas sebagai der Fluechtling yaitu orang yang diburu-buru, pelarian atau pengungsi; sedangkan jenis yang kedua ialah orang yang kedagangannya tidak karena terpaksa yang disebut der Fremder dalam bahasa Jerman atau de vreemdeling dalam bahasa Belanda.

Pada tahun 1990 di Belanda terbit sebuah buku yang membahas tentang kedagangan sastrawan dan/atau tokoh-tokohnya berjudul Het Beeld van de vreemdeling-in westerse en niet-westerse literat­uur (Ambo/ Baarn). Dari khazanah sastra Melayu/Indonesia tulisan G L Koster tentang perasaan kedagangan sang penyair dalam syair-syair Melayu berjudul “Auteurschap als oodzakelijk kwaad. Der verteller als vreemdeling in Maleise sjair gedicht”, dan tulisan H M J Maier tentang generasi 45 berjudul “Ik praat hier in mijn eigen vaderland. De retorica van de Generatie ’45 in Indonesia”. Seandainya buku seperti ini diterbitkan lagi kelak setidak-tidaknya ada dua penyair penting dari Dunia Melayu yang harus diteropong; pertama Sitor Situmorang dan yang kedua Muhammad Haji Salleh.

Kedua penyair ini dapat dipandang sama karena kedagangannya. Dan kedagangan mereka membuahkan karya-karya yang samasekali berbeda. Sitor Situmorang tumbuh dengan setengah liar sambil mereguk kebebasan Perancis, lengkap dengan eksistensialisme yang dijalaninya di Paris ketika filsafat itu sedang marak-maraknya membakar Eropa. Muhammad Haji Salleh senantiasa melangkah ber­hati-hati dengan puritanisme Inggeris yang selalu menyembunyikan gejolak hati.

Dalam menghadapi perempuan, kegarangan Sitor Situmorang samasekali bukan tandingan Muhammad Haji Salleh, dan hal ini memang sudah dapat diketahui dari eksistensialisme Perancis versus puritanisme Inggris. Dalam sajak “La Ronde” Sitor mengisahkan: Adakah yang lebih indah / dari bibir padat merekah? / Adakah yang lebih manis / dari gelap di bayang alis? dan diikuti oleh semua gambaran yang biasa dalam mimpi lelaki.

Dalam keadaan yang hampir serupa Muhammad Haji Salleh menceritakan dalam “cetera yang keenambelas – Sajak-sajak Sejarah Melayu” sebagai berikut: anum, kupilih dari seratus dayang istana / kerana kau melembutkan suaraku, / memulakan rindu kepada malam, / memadamkan marah kepada sultan, anum, kupilihmu dari seratus kampung. // kini, di tengah malam bening / kita berdua hanya, / beraja di istana ini, / aku sultan dan kau permaisuriku, / pasang-penuhlah hidup ini untuk sekarang, / bulan yang bergantung di tiang layar / dan memasukkan bayangannya ke muka selat / tentu faham bagaimana / aku kasih kepadamu. // dan ghairah sebesar ini / tak perlu esok. / malam ini / kita kumpulkan / segala yang ada pada dua manusia muda / di dalam suatu mangkuk waktu agung.

Siapakah Muhammad Haji Salleh @ Dagang di Semenanjung Dunia Tak Berujung itu? Ia lahir di Taiping (Perak, Semenanjung Tanah Melayu) pada 26 Maret 1942; berhasil menyandang gelar doktor filsafat di Universitas Michigan dengan kitab-katam-kaji berjudul “The Development of Malay-Indonesian Poetry, 1945-70”.

Penciptaan sajak secara serius baru digelutinya pada tahun 1963. Sampai hari ini ia telah berhasil menerbitkan beberapa kumpulan sajak, di antaranya Sajak-sajak Pendatang (1973), Ini Juga Duniaku (1975), Sajak-sajak Sejarah Melayu (1981), Dari Seberang Diri (1982), Kalau, Atau dan Maka (1988), Watak Tenggara (1993) dan Beyond the Archipelago (1995).

Salah-satu karya Muhammad Haji Salleh yang sampai dari pencinta kesusastraan di Malaysia ialah sebuah buku tipis yang diterbitkan oleh The Toyota Foundation dalam tiga bahasa yaitu bahasa Melayu, Inggeris dan Jepang. Buku tipis yang berjudul mengilir timur / flowing east / (dalam huruf kanji dan hiragana) too kara too e dapat merupakan rangsangan bagi para penyair muda yang sedang meniti hari-hari mereka.

Dari tujuh buah kumpulan sajak karya Muhammad Haji Salleh yang pernah diterbitkan dari tahun 1973 sampai tahun 1993 tercipta sebuah puncak piramida berupa sebuah buku kumpulan yang diberi judul Sebuah Unggun di Tepi Danau. Untuk memperkokoh kandungan buku ini di dalamnya disertakan pula serangkaian sajak-sajak baru dengan memakai judul “Jurnal Eropa” yang dihasilkan semasa ia mengajar pada fakultas Sastra di Universitas Leiden (Belanda) selama tahun 1993-1994.

Dalam perjalanan budayanya Muhammad Haji Salleh telah berhasil memetik hasil yang senantiasa dijanjikan sang waktu berupa Anugerah Sastra Kebangsaan Malaysia pada tahun 1991 dan juga SEA Award yang meliputi kawasan Asia Tenggara. Memang nampak-nampaknya Muhammad Haji Salleh memang ingin dikenang sebagai Dagang di Semenanjung Dunia Tak Berujung. Selamat dan sejahteralah senantiasa! ***

6 November 2011