Gadis Tegar Itupun Menangis

Sr. Sebastiana. CIJ
Pos Kupang, 27 Sep 2009

KAMPUS itu lengang dan sunyi, yang tertinggal hanya bebarapa satpam penjaga kampus. Langkah kakinya lambat seakan sarat beban yang harus dipikulnya. Tapi pandanganku tertuju pada wajahnya yang ayu nan cantik meski ia tak tahu aku sedang memperhatikannya. Dalam hatiku aku bergumam, “Ah, gadis cantik yang malang, betapa tragisnya hidupmu.”

Mawar, itulah namanya. Seindah dan secantik orangnya, namun tak seindah jalan hidupnya yang penuh dengan liku-liku perjuangan dan air mata. Aku kenal dia sejak pertama kali kami masuk universitas. Ia gadis peramah dan lincah dan lumayan smart di semesterku. Seiring dengan berjalanya sang waktu, akhirnya aku mengenal Mawar, yang di balik kecantikan dan keramahanya memikul beban yang sangat berat.

Ia sebenarnya lahir dari keluarga terpandang dan berpenghasilan cukup, karena ayahnya seorang yang cukup berpengaruh di kantor pemerintahan di kabupaten itu.

“Kak, aku benci papaku yang beristri lagi,” curhatnya padaku di suatu sore ketika dosenku tak masuk.

“Ia tak pernah pedulikan ibu, aku dan adik-adikku lagi. Kini kami hidup melarat. Gaji papaku semuanya diambil istri mudanya. Kami benar-benar telantar. Kak, aku ingin dia mati saja,” katanya penuh geram. Aku diam, dalam hati berkata,” malang sekali nasibmu, Mawar.”

Perjalanan waktu membuatku semakin mengenal Mawar. Ia gadis yang berjiwa besar, kuat dan tak pernah putus asa. Tetapi, aku sendiri tak mampu untuk berbuat lebih sekedar menolongnya, sebatas menjadi sahabat, yang setia mendengarkan dan memberi semangat pada saat ia putus asa. Yah, hanya itu yang bisa kulakukan.

“Kenapa wajahmu pucat? Kamu sakit ya, sebaiknya kamu pulang istirahat, Mawar. Jangan paksa kuliah, nanti pingsan dalam kelas.” Setelah aku bujuk akhirnya ia pun kembali ke rumahnya.

Mawar adalah gadis tegar, ia tidak pernah menyerah pada keadaan sulit. Dengan semangat ia belajar karena cuma satu tekadnya ia ingin membahagiakan ibunya dan dapat membiayai adik-adiknya kelak.

“Kak, aku harus pulang cepat, pekerjaanku belum selesai. Besok aku harus kembalikan kepada pemiliknya.” Dalam kebingungan aku menganggukkan kepalaku.

“Oh, hati-hati ya, sampai jumpa besok.” Aku masih bingung dengan sikapnya, tapi aku tahu dia sibuk karena ia tinggal bersama tantenya. Jadi harus membereskan segala urusan rumah tangga termasuk masak dan mengurus kebersihan rumah.
Siang ketika kami mengikuti kuliah logika, aku tak melihat dia di antara teman- teman.

Kupikir dia mungkin terlambat karena lalu-lintas macet. Jam kuliah pun selesai, tapi ia juga tak ada di antara teman-teman. Aku gelisah dan bertanya pada teman yang lain, apakah Mawar datang kuliah, tapi aku mendapatkan jawaban bahwa ia tidak datang.

“Hai, selamat pagi, Kak. Maaf, kemarin aku tak datang kampus karena semalam aku tidur telat untuk habiskan pekerjaanku,” katanya penuh penyesalan.
“Tidak apa-apa karena kemarin dosen masuk hanya untuk memberikan tugas akhir semester. Minggu depan kita kumpul untuk diambil nilainya, sebagai nilai ujian akhir semester,” kataku. Kemudian aku mengajaknya untuk ke kantin sekedar makan bakso. Sementara makan, ia menceritakan keadaan ibunya yang mulai sakit-sakitan di kampung.

“Kak, aku lelah, capai dan putus asa. Bayangkan, aku tak punya waktu untuk bersenang-senang seperti teman-teman lain, bisa pergi pesiar, bercerita santai dan bebas mendapatkan kasih sayang orangtua tanpa dibebani berbagai tuntutan hidup yang keras dan kejam. Mereka tinggal sms atau telepon orangtua ketika membutuhkan uang atau tanpa diminta pun orangtua memiliki kewajiban untuk mengirimkan uang membiayai anak-anak mereka. Sedangkan aku? Aku harus duduk semalaman untuk bekerja, menerima terjemahan dari orang-orang untuk kukumpulkan uang itu sebagai uang foto kopi modul atau uang sekolah. Bahkan sisanya aku kirim untuk membeli obat untuk mama yang sedang sakit di kampung.”

Hatiku terenyuh, ingin menangis rasanya, tapi kukumpulkan segenap kekuatanku untuk tetap tersenyum bangga padanya, meski dadaku terasa sesak. Kulihat butiran air matanya mengalir deras, di sela tangisan ia berkata,” Kak, kenapa Tuhan begitu kejam padaku? Apa salahku? Kenapa ia mengambil semua kebahagiaan ini di saat aku sangat membutuhkanya.

Kadang aku cemburu pada teman-temanku, mereka selalu tersenyum, tertawa bebas, dan menikmati apa artinya masa muda, tetapi aku setiap saat memikirkan bagaimana membayar SPP, bemo, foto kopi modul yang dosen berikan setiap kali masuk kuliah. Aku ingin mati saja biar beban ini hilang dari hidupku.”

“Mawar, kamu tahu, aku bangga padamu!” kataku di saat ia berhenti menangis. “Di usiamu yang masih muda, kamu sudah belajar menghadapi kekerasan hidup ini. Kamu wanita luar biasa. Tunjukkan kepada kedua orangtuamu bahwa kamu adalah anak kebanggaan mereka.”

Seiring berjalannya waktu, masa kuliah pun berakhir. Mawar adalah salah satu mahasiswa berprestasi di kampusku dengan bergelar S.Pd Bahasa Inggris. Ketika MC menyebut namanya, ia salah seorang mahasiswa berprestasi, dari sudut gedung terlihat senyum bangga seorang ibu dengan tangisan dan air mata haru. Aku tersenyum dan mengangkat kedua jempolku.

“Sahabat, aku bangga padamu. Kamu luar biasa.” Kini tak ada lagi air mata sedih, yang ada hanyalah senyuman bangga dan puas karena Tuhan pasti memperhitungkan setiap air mata dan derita para hambanya. (*)

Dijumput dari: http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/09/gadis-tegar-itupun-menangis.html