Wadah Sastra Kreatif untuk Para Pemula

Amanche Franck Oe Ninu, Mario F. Lawi
http://kupang.tribunnews.com/

DUSUN itu bernama FLOBAMORA. Dusun itu dunia sunyi. FLOBAMORA namanya, karena ada Flores, Sumba, Timor, Alor, bahkan Solor, Adonara, Rote, Sabu, dan Semau.

Tak ada yang terlalu fantastis, apalagi bombastis. Hanya ada keanekaragaman yang menjadi satu. Hanya ada beberapa gagasan yang mau jadi sepaham dan searah. Hanya ada banyak hati yang ingin mencinta. Dan hanya ada beberapa anak muda dari berbagai pulau, latar belakang pendidikan, bahkan suku dan agama yang ingin bersatu di dusun kami FLOBAMORA.

Coba lihat, ada Mario dari Manggarai, ada Izack Sonlay dari Kefa, Timor Tengah Utara, ada Christo Ngasi berdarah Ende kelahiran Sumba, ada Janu Gonzaga dari Naibonat Kupang, ada Pion Ratulolly dan Abner Sanga dari Adonara.

Kami pun berbeda agama. Arky Manek seorang frater calon imam Katolik. Semy Balukh, wartawan Timor Express, adalah seorang Protestan. Abdul Madjid seorang muslim yang taat, berdarah Adonara. Bahkan ada Abang Ragil Sukriwul, anak muslim Jawa yang sudah lama tinggal di Kupang dan sangat mencintai Flobamora.

Ada pula beberapa teman kami dari Fakultas Teologia UKAW Kupang yang ingin bergabung bersama kami. Kami memang berbeda. Namun perbedaan itu tidak lantas menjadi pemisah di antara kami.

Kami malah menganggap keanekaragaman itu sebagai kekayaan untuk saling mengisi dan memberdayakan. Sesungguhnya kami telah belajar ber-Bhineka Tunggal Ika di Dusun FLOBAMORA.

Persekutuan Beberapa Komunitas

Dusun FLOBAMORA bukan tanpa tujuan. Dusun itu tertata dari beberapa komunitas sastra. Kami berkumpul karena satu visi yakni kemajuan para penulis sastra FLOBAMORA tercinta. Kami belajar memberi yang terbaik dari diri kami demi pengembangan bersama.

Untuk menjadi satu dan kuat serta sungguh berwarna FLOBAMORA, maka bergabung dan bersekutulah dalam cita rasa sastra FLOBAMORA, beberapa komunitas sastra di Kota Kupang.

Beberapa komunitas sastra itu, antara lain, Komunitas Sastra Rumah Poetica, Komunitas Sastra Laskar Manajemen, Komunitas Sastra Seminari Oepoi, dan Komunitas Sastra Seminari Tinggi Sint Mikhael.

Beberapa penyair dan penulis sastra muda yang bergabung bersama kami bukan dari empat komunitas ini. Namun kecintaan mereka akan sastra menghantar mereka datang ke Dusun FLOBAMORA.

Kami bukan apa-apa di dunia sastra. Kami memang masih muda, namun bara api semangat dan cinta yang kuat akan tanah ini menjadi motivasi bagi dusun FLOBAMORA. Anak-anak muda Dusun FLOBAMORA tidak berjalan sendiri. Seakan ada yang berkata: You’ll never walk alone. Lu sonde akan jalan sandiri.

Hari itu, Sabtu, 19 Februari 2011, kami berkumpul di Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui sebagai satu keluarga Dusun FLOBAMORA demi pengembangan diri.

Bapak Dr. Marsel Robot, sastrawan senior Nusa Tenggara Timur, hadir bersama kami pada kesempatan itu. Ada Romo Sipri Senda Pr yang sering mempublikasikan puisinya di Pos Kupang dengan nama pena Prim Nakfatu, juga seorang pastor muda pencinta sastra, Romo Patris Neonnub, Pr.

Ketiganya hadir bersama kami sebagai senior yang menuntun yunior, dan kakak yang menguatkan adiknya dalam semangat kasih dan kebenaran. Kami berbicara dari hati ke hati, saling menerima sebagai saudara, lalu kami bersepakat membangun Dusun FLOBAMORA ini dengan kegiatan dan karya sastra yang sungguh khas anak nusa ini.

Sastrawan muda Pion Ratulolly, Ketua Laskar Sastra Kupang dan peserta Temu Sastrawan Indonesia 2010, dipercayakan menjadi koordinator kelompok ini. Di akhir pertemuan itu ada pementasan spontan dari Dr. Marsel Robot dengan puisinya, Nyanyian Pesisir, dan Ragil Sukriwul dengan puisinya yang bernuansa Flobamora. Pada kesempatan itu, kami bersepakat untuk menerbitkan buku antologi cerpen dari beberapa penulis pemula Dusun FLOBAMORA.

Pion Ratulolly, koordinator kelompok ini, mengusulkan juga agenda pembicaraan untuk mengantisipasi Temu Sastrawan Indonesia Oktober 2011 di Ternate. Novelis Pion juga pernah menjadi duta Flobamora pada perhelatan akbar para pujangga dan penyair tanah air.

Apresiasi Kreatif dan Kritik yang Berbobot

Tak sampai di situ saja jumpa kami. Senja di Seminari Mikhael itu seolah menjelma menjadi saat kairos untuk terus berlangkah menuju pengembangan diri yang kreatif dan inovatif. Perjumpaan kedua, kami lakukan di tepi pantai Waskita Pasir Panjang Kupang pada hari Sabtu 12 Maret 2011 lalu.

Kesempatan ini sungguh merupakan pengalaman yang mendidik dan membesarkan jiwa sastrawi kami sekalian. Beberapa di antara anggota Dusun FLOBAMORA menghadirkan karya cerpen dan puisi mereka di hadapan temn-temananya, sedang yang lain mendengarkan dengan penuh perhatian dan siap mengapresiasi.

Tape Recorder di Kampung Kami, cerpen karya Amanche Franck, yang pernah dipublikasikan di rubrik Imajinasi Pos Kupang, ditampilkan pada awal kegiatan kritik ini. Ragil Sukriwul, sang pujangga yang pernah hadir di Temu Sastrawan Indonesia tahun lalu, mengkritik cerpen ini.

“Cerpen ini bernuansa lokal, namun kalau sedikit dikonkretkan lagi, maka karya ini akan lebih berbobot dan berpesan kuat untuk para pembaca,” begitu kritik Ragil untuk karya Amanche.

Si Pemilik Tape Recorder ini pun manggut-manggut setuju sambil berkisah tentang terbatasnya space (ruang) di media untuk sebuah karya cerpen.

Selanjutnya, Pion Ratulolly dengan karyanya, Laki-Laki Bertahi Lalat di Pinggang. Dengan semangat bak bernyala, Pion melontarkan gagasannya perihal kebobrokan moral dalam masyarakat lewat karyanya ini.

Karya mahasiswa FKIP UNDANA ini bercerita tentang nasib malang seorang dara Adonara yang diperkosa pamannya sendiri. Ironisnya, pamannya itu juga adalah pemangku adat di kampung itu. Pion memang membongkar kebobrokan masyarakat lewat beberapa karyanya. Selain dua cerpen ini, sebuah cerpen menarik datang dari Janu Gonzaga.

Calon imam Keuskupan Agung Kupang ini menulis sebuah cerpen absurd berjudul, Mencintai Seorang Pria Penulis. Cerpen ini berkisah tentang kisah kasih seorang wanita dengan pacarnya yang menjadi penulis. Mereka akhirnya terperangkap dalam ketakbermaknaan cinta lantaran pria itu selalu kembali ke hal-hal yang sama dan yang rutin.

Hidup terasa absurd karena si pria dan si wanita itu seperti berjalan dari satu kebosanan ke kebosanan yang lain. Cinta mereka akhirnya tak bermakna dan tak berjejak. Karya ini kemudian diapresiasi oleh beberapa teman.

Menurut beberapa teman, karya ini seharusnya kuat apabila si cerpenis lebih jeli lagi dalam menggambarkan realitas absurd dalam setiap alur cerita.

Setelah Janu memaparkan hasil karyanya, giliran tiga penyair muda membawakan puisinya. Ragil Sukriwul, Abner Sanga, dan Mario F. Lawi masing-masing dengan judul, To’o Kasi Beta Doi Do, Beta Lapar E, dan Harapan.

Kedua puisi pertama ini menghadirkan nuansa Flobamora yang khas dan kaya. Puisi To’o milik Ragil yang masuk dalam nominasi antologi puisi Temu Sastrawan Indonesia 2010 mengangkat kisah lirih seorang anak yang mati ditinggal To’o- nya yang selalu memberinya uang.

Begitu pun puisi Abner Sanga yang memprotes secara jujur rawan pangan di tanah Flobamora ini. Mario F. Lawi yang mencipta puisi Harapan-nya dengan nada religius, mendapat sambutan hangat, karena kedalaman religiositas yang terkandung dalam karyanya.

Hadir pula sore itu, seorang anak Amanuban Timor Tengah Selatan, dia seorang wartawan Harian Timor Express, Gatra Banunaek namanya. Dia berjanji akan membantu kami dalam publikasi karya dan kegiatan kami lewat media.

Sore itu sungguh indah di tepi pantai Pasir Panjang. Ombak memecah karang. Lontar berdiri tegar. Teluk Kupang begitu damai. Anak-anak Dusun FLOBAMORA pun memecah sunyi dengan senandung puitis dan prosais. Mereka seakan berdiri tegak. Kedamaian seperti mendekap mereka.

Di tepi pantai itu, mereka berapresiasi dan saling memberi kritik yang membangun diri. Bagi anak-anak Dusun FLOBAMORA apresiasi dan kritik sastra yang berbobot dan membangun sejatinya mesti disalurkan secara baik, benar, dan indah, pada tempat dan waktunya, positif dan negatif, dan dalam suasana penuh persaudaraan.

Di akhir jumpa itu, kami berjanji untuk terus membangun dusun kami dengan karya dan kegiatan sastra yang kreatif dan inovatif, karena bagi kami BAE SONDE BAE FLOBAMORA LEBE BAE…

Salam Sastra FLOBAMORA.*

____________________21 Maret 2011
* Amanche Franck Oe Ninu adalah Frater, calon imam Keuskupan Agung Kupang, tinggal di Seminari Tinggi Sint Mikhael Penfui.
* Mario F. Lawi adalah mahasiswa semester II FISIP Jurusan Ilmu Komunikasi UNDANA Kupang.
Dijumput dari: http://kupang.tribunnews.com/read/artikel/59087/wadah-sastra-kreatif-untuk-para-pemula