Membaca Sastra bersama Dewan Kesenian Jakarta

Andi Gunawan
http://www.kompasiana.com/ndigun

Setelah sukses di Kopitiam Oey Sabang dan Kopitiam Oey Salihara, kini giliran Dewan Kesenian Jakata (DKJ) menggelar Gerakan Indonesia Membaca Sastra (GIMS) di Kafe Tjikini, Cikini, Jakarta Pusat. GIMS kali ini akan membacakan novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja dan Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Pembacaan akan berlangsung setiap Jumat (2, 9, 16 Desember), 16.00-19.00 WIB. Dalam setiap pembacaannya akan tampil enam-tujuh orang pembaca yang merupakan para peminat sastra Indonesia dari Jakarta dan sekitarnya. Termasuk para peserta terbaik Lokakarya Baca Sastra 2011 yang merupakan hasil kerja bareng DKJ dan Komunitas Salihara. Beruntung, saya adalah salah seorang peserta lokakarya tersebut.

Atheis dan Bukan Pasar Malam dipilih dengan pertimbangan bahwa kedua novel ini merupakan mutiara cemerlang dalam sastra Indonesia dan telah menjadi karya klasik dengan caranya masing-masing. Atheis yang terbit pertama kali pada 1949 dan diangkat ke layar perak pada 1974 menegaskan satu masa ketika ideologi ini “berpikir bebas” menjadi bagian penting dari kaum intelektual Indonesia, dengan bayang-bayang masa revolusi dan Indonesia yang berangkat menjadi negara modern. Hingga hari ini tegangan antara nilai-nilai tradisional-religius dan modern-sekuler masih menjadi persoalan penting bagi masyarakat Indonesia.

Sementara Bukan Pasar Malam yang terbit dua tahun setelah Atheis merupakan salah satu karya penting Pramoedya Ananta Toer. Di dalamnya kita menyaksikan sisi kelam kehidupan seorang pejuang di masa revolusi dan bagaimana Jakarta menjadi bagian penting dari perubahan itu. Menjadi masyarakat urban di Jakarta artinya merelakan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan kita, yang bisa jadi bertolak belakang dengan yang dibayangkan orangtua kita. Semacam kontradiksi antara harapan dan kenyataan, antara masa lalu dan masa kini, antara kiri dan kanan. Sebuah ironi yang getir bahwa hidup memang bukan pasar malam.

GIMS adalah sebuah gerakan bersama yang mencoba menghidupkan kegairahan membaca sastra di kalangan masyarakat luas. Dengan gerakan ini diharapkan kegiatan membaca sastra menjadi kegiatan yang menyenangkan, bukan lagi sebagai sebuah tugas, apalagi dari guru bahasa Indonesia. Sehingga ia bisa menjadi pengisi waktu luang warga Jakarta yang menikmati sore atau petang di kafe, komunitas sastra, dan ruang-ruang publik lainnya. Syukur-syukur, kelak ia bisa menjadi semacam gaya hidup warga Jakarta yang mencintai sastra atau kesenian pada umumnya.

Gerakan ini juga mencoba membangkitkan kembali kepedulian kita kepada karya-karya sastra Indonesia yang penting alias kanonik. Selama ini kita mengenal karya-karya sastra Indonesia yang penting, beberapa malah diajarkan di sekolah-sekolah, tetapi selebihnya kita hanya tahu judul dan nama pengarangnya. Dengan gerakan ini kita diajak langsung menikmati kekuatan dan keindahan sastrawi karya tersebut seraya mengaitkannya dengan kehidupan kita hari ini.

Seluruh kegiatan pembacaan akan direkam dan hasilnya akan diolah menjadi audiobook dan disumbangkan ke perpustakaan komunitas Mitra Netra, sebagai sebentuk kepedulian kita membantu ketersediaan buku-buku sastra bagi kaum tuna netra. Selama setahun ke depan diharapkan akan dihasilkan 12 audiobook sastra Indonesia Klasik berkualitas baik.

Sebagai sebuah gerakan bersama, tentu saja, ia tidak bisa dilakukan sendirian, tetapi dengan mengajak sebanyak mungkin pihak untuk menyebar-luaskannya. Gerakan ini sendiri pertama kali digagas Ayu Utami dari Komunitas Salihara. Ia kemudian mengajak sejumlah pihak untuk mendukungnya, termasuk DKJ.

________________02 December 2011
*) Anak Indonesia dan Tukang Cerita. Untuk kalimat pendek, colek saya di @ndigun
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2011/12/02/membaca-sastra-bersama-dewan-kesenian-jakarta/