Menyoal Modernitas Muhammadiyah

Judul Buku : Menggugat Modernitas Muhammadiyah
Penulis : A. Syafii Maarif, dkk.
Penerbit : Best Media Utama, Jakarta
Cetakan : I, Juni 2010
Harga : Rp 32, 000/-
Tebal : 270 halaman
Peresensi : Ahmad Fatoni *)

SEBAGAI ormas keislaman, Muhammadiyah kini tumbuh pesat dengan ribuan amal usaha; mulai dari amal pendidikan, sosial, maupun bidang perekonomian. Lembaga pendidikan (sekolah dan kampus) serta kesehatan (rumah sakit) adalah sekian dari ribuan amal paling menonjol. Di bidang ini, Muhammadiyah jelas bisa dikatakan sebagai pioner atau pelopor bagi kesejahteraan masyarakat dan pencerdasan umat.

Namun, apakah kemajuan pesat di bidang-bidang tersebut juga dialami Muhammadiyah dalam aspek pembaruan pemikiran? Pertanyaan ini kerap mengemuka, utamanya di kalangan aktivis Muhammadiyah. Tak sedikit yang menyebut Muhammadiyah kini berhenti “bertajdid” dalam masalah pemikiran keagamaan. Yang lain lagi mengatakan, Muhammadiyah kini telah telah menjelma bak perusahaan profesional, dengan ribuan amal usaha yang cenderung mementingkan aspek komersil.

Buku Menggugat  Modernitas Muhammadiyah ini mencoba menjawab benarkah modernitas Muhammadiyah telah layu atau bahkan lenyap digerus kemewahan badan usaha milik Muhammadiyah. Semua ini menarik diperbincangkan demi kemajuan ormas ini sebagaimana dikehendaki pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan.

Buku ini terdiri empat bahasan, antara lain: bagian satu (menggugat modernitas Muhammadiyah), bagian kedua (masalah pemihakan sosial Muhammadiyah), bagian ketiga (Muhammadiyah dan masa depan intelektualisme Islam Indonesia), bagian keempat (Muhammadiyah dan pertarungan identitas kontemporer).

Dalam pandangan Nurcholish Madjid (1990), Muhammadiyah memang terbilang sukses dalam pembaruan amaliah dan menjadikannya sebagai organisasi Islam terbesar di dunia muslim. Namun Nurcholish memberi catatan, pembaruan amaliah tersebut memerlukan pembaruan pemikiran, sehingga mampu memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan kekinian yang sangat kompleks. Sementara Muhammadiyah dinilai miskin dalam pemikiran klasik akibat sikap puritannya terhadap hal-hal yang dipandang tradisional.

Modernisme Islam versi Muhammadiyah seolah terbelenggu dalam nalar instrumental seperti alam pikiran modernisme pada umumnya. Nalar organik semacam ini, menurut Haedar Nashir, tampak memberikan tawaran bagi kepentingan hidup yang berorientasi pada efektivitas, efisiensi, dan rasionalisasi. Akan tetapi, kata Haedar, selalu ada yang tercerabut dari alam pikiran instrumental modern itu, yakni hal-hal yang bersifat keruhanian, komunalitas, dan tradisnalitas (h.18).

Dalam pemikiran keagamaan, misalnya, Muhammadiyah sangat berorientasi pada pendekatan bayani (tekstual) sekaligus kurang apresiatif terhadap hal-hal yang bersifat ‘irfani (intuitif, spiritual). Banyak hal disikapi secara organisatoris sekaligus ketarjihan, sehingga mengabaikan hal-hal yang bersifat sosiologis. Fenomena inilah yang sudah lama disuarakan oleh sebagian kalangan mengingat Muhammadiyah yang “kering” dalam pemikiran dan apresiasi kebudayaan.

Nalar intrumental yang melekat kuat dalam Muhammadiyah tentu membawa pengaruh pada relasi-relasi sosial di tubuh organisasi Islam ini. Hubungan-hubungan yang bersifat paguyuban seperti silaturahim personal secara langsung dikalahkan oleh komunikasi sosial yang organik melalui media yang sifatnya tidak langsung, lebih-lebih saat ini teknologi elektronik menguasai setiap jengkal kehidupan.

Gara-gara khawatir terhadap sufisme, orang Muhammadiyah lalu menjadi kering spiritualitas. Karena cemas terhadap kultus individu, kemudian melahirkan sikap tidak hormat kepada pemimpin. Sebab takut terseret pada kemusyrikan, warga Muhammadiyah jarang ziarah kubur, kendati itu merupakan sunnah Nabi. Bahkan banyak yang tidak tahu di mana kuburan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan. Fenomena yang kering seperti inilah yang dikritik Max Weber tentang modernitas, yakni sebagai gejala hilang pesona dunia kemanusiaan.

Hubungannya dengan modernitas, Muhammadiyah senyatanya memberikan perhatian pada masa lalu. Jika Barat memahami modernitas adalah kemajuan, namun berbeda dengan Islam yang memahami modernitas adalah tidak melulu sebuah agenda untuk maju ke depan. Kehidupan ini, sebagaimana sebuah lingkaran, masa lalu dan masa depan akan bertemu. Seseorang yang di masa lalu telah mati, sebenarnya ia sedang pergi menuju masa depan. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadis bahwa anak shalihlah yang paling memiliki otoritas untuk mendoakan kedua orangtuanya. Pandangan demikian harus mulai dipikirkan oleh Muhammadiyah.

Akhir kata, berbagai kritik bahkan gugatan atas modernitas Muhammadiyah yang diteriakkan A. Syafii Maarif, dkk. dalam buku ini hendaknya menjadi perhatian serius para elit dan warga Muhammadiyah mengingat tantangan dan rintangan ke depan yang semakin berat. Muhammadiyah perlu menjabarkan definisi Islam yang berkemajuan, sebagaimana dipopulerkan KH. Ahmad Dahlan, sebagai karakter dasar dalam pembaruan pemikiran dan setiap tindakan.

*) Ahmad Fatoni, Penggiat Pusat Studi Islam dan Filsafat Universitas Muhammadiyah Malang