Yusri Fajar *
http://www.surya.co.id/

Bagi mayoritas masyarakat Indonesia, berlebaran di kampung halaman selalu dinantikan. Selain menjadi tradisi sakral, mudik juga bagian dari upaya menjaga ikatan dengan daerah asal. Apalagi jika sanak saudara dan keluarga berada di kampung. Para pendatang yang tinggal di kota-kota besar, ketika mudik ke kampung yang jauh dari keramaian, secara tidak langsung menegaskan identitas sebagai pendatang yang menggantungkan harapan di kota. Mereka berbondong-bondong mudik, meninggalkan wilayah metropolitan, menuju wilayah-wilayah pinggiran. Dengan ritual mudik, kota dan desa terhubung dalam jalinan silaturahmi. Meski pasca mudik, desa seringkali termarjinalkan dan tetap mendapat julukan ‘udik’.

Ketika sebagian besar orang-orang berlebaran di tanah air, nun jauh di sana, ada sebagian masyarakat Indonesia yang tenggelam dalam rasa rindu, menghayati gema takbir di masjid-masjid negeri Jerman. Mereka berusaha mengingat kampung halaman. Para diplomat, mahasiswa, peneliti, wartawan dan beberapa kelompok pendatang dari Indonesia di mancanegara tidak bisa merasakan mudik secara fisik. Namun pada hakikatnya hati mereka mudik ke tanah air.

Ketika saya tugas belajar di Jerman, mulai tahun 2008 sampai 2010, saya tak bisa merasakan suasana Lebaran dan budaya mudik di Indonesia. Biaya mudik fisik ke Indonesia mahal. Berlebaran di Jerman menjadi pilihan penuh pengalaman.

Suasananya jelas berbeda. Di Indonesia acara mengunjungi tetangga untuk bersalam-salaman, menikmati hidangan dan bercengkrama menjadi pemandangan di berbagai kota dan desa. Di Frankfurt dan Bayreuth, dua kota Jerman tempat saya pernah tinggal, perayaan Lebaran dilakukan di Masjid dan Kedutaan Besar RI setelah Salat Id.

Yang perlu disyukuri adalah ada teman-teman dari Indonesia yang menghadirkan tradisi Lebaran dengan membuat makanan dan jajanan khas Lebaran, sehingga nuansa berlebaran di tanah air bisa sedikit dirasakan.

Jika menggunakan baju baru saat Lebaran di Indonesia menjadi bagian dari budaya berlebaran, di Jerman banyak orang Indonesia yang tak lagi memedulikannya. Tak ada teman sesama pendatang yang akan mengomentari pakaian. Di Indonesia, pakaian baru saat Lebaran menjadi representasi ‘gengsi’, pencapaian finansial, dan tradisi Lebaran. Makanan dan baju mencerminkan kebudayaan yang berhubungan dengan gaya hidup dan kebiasaan.

Di masjid-masjid Jerman, suasana Lebaran lebih bernuansa multikultural. Hal ini tidak terlepas dari heteregonitas pendatang dari berbagai belahan bumi. Latar belakang mereka juga beragam. Ada yang mahasiswa, pencari suaka politik, korban peperangan, pekerja, sampai mereka yang bermigrasi karena menikah dengan orang-orang asli Jerman.

Mereka, termasuk saya dan teman-teman dari Indonesia, disatukan dalam solidaritas sesama pendatang yang mempraktikkan budaya dan ritual keagamaan yang telah mengakar sejak tinggal di negeri sendiri. Perasaan sama sebagai pendatang itulah yang membuat suasana menjadi akrab.

Dalam pertemuan dan ramah tamah yang biasanya dilaksanakan setelah Salat Id, berbagai cerita dari para pendatang mengalir saat menikmati hidangan. Dalam Lebaran di sebuah masjid yang dikelola para pendatang dari Turki yang pernah saya ikuti, acara ramah tamah diiringi irama musik timur tengah yang dimainkan oleh beberapa mahasiswa dan pendatang asal Turki. Dalam percakapan-percakapan dengan para pendatang saya pernah mendengar kisah seorang warga Turki yang terusir dari negaranya, berbeda pandangan dengan rezim yang berkuasa. Meskipun demikian, orang-orang Turki mayoritas masih setia menjalankan kebudayaan negeri mereka. Musik, makanan dan berbagai isi percakapan dalam suasana Lebaran di negeri Jerman mencerminkan kerinduan akan budaya sendiri dan membuktikan bahwa meski tinggal di negeri orang, budaya sendiri tak akan mudah tergantikan.

Suasana Lebaran di negeri seberang, tidak hanya dirasakan oleh pendatang. Komunitas pendatang biasanya mengundang warga asli Jerman untuk bergabung. Maka perayaan Lebaran menjadi media integrasi budaya. Penerimaan warga asli itulah yang menyadarkan saya bahwa ada orang-orang asli Jerman yang dengan senang hati menerima pendatang.

Meskipun fenomena kerusuhan dan diskriminasi terhadap pendatang di beberapa negara Eropa, menunjukkan bahwa ada juga yang belum bisa menerima eksistensi imigran. Padahal jika orang-orang asli Eropa paham, salah satu pesan yang ditanamkan dalam hati pendatang adalah pesan menjaga persaudaraan di negeri orang. Dan pesan ini adalah bagian dari tradisi Lebaran yang damai, saling menerima dan memaafkan. Walaupun bumi Asia-Afrika, asal para pendatang, dan Eropa pernah terlibat perang, perseteruan dalam jaman penjajahan hingga era sekarang, tak ada salahnya untuk bermaaf-maafan lalu menghentikan segala bentuk prasangka negatif, diskriminasi dan dominasi. Mungkinkah?

2 September 2011
*) Alumnus Uni Bayreuth Bayern Jerman/Pengajar Sastra FIB Unibraw Malang. yusfasastra@yahoo.com

Categories: Esai