Mereduksi Karya Sastra

George Soedarsono Esthu
http://www.kompasiana.com/soedarsonoesthu

Ada beberapa teman dekat bertanya kepada saya: “Mas, Om, Pakde, Lik, Mbah, apakah tulisan di Kompasiana itu ada yang sudah bisa disebut karya sastra?” Saya menjawab: “Tidak tahu!”. Ketika saya terus ditanya: “Kenapa tidak tahu?”, saya menjawab yang mau dijadikan ukuran apa.

Saya sedih mendengarkan pertanyaan seperti itu. Itu tandanya apresiasi sastra masih sangat rendah di negeri ini, di sekolah ini, di universitas ini. Para Indonesiais yang cukup banyak tidak pernah menyebut diri sastrawan, tetapi di kartu namanya selalu tertulis sebagai “writer”. Padahal karya mereka menggunakan bahasa sastra.

Sepeninggal H. B. Yasin, kritikus sastra praktis sudah mati. Yang ada saling memuji diantara para penulis itu sendiri. Sebenarnya di tahun 82 an, ketika saya bekerja di Penerbit Gramedia, saya berharap, sahabat saya di bagian Redaksi, Pamusuk NST di kelak kemudian hari akan lahir sebagai kritikus sastra yang tajam. Tetapi entah bagaimana, Batak satu ini lebih Jawa dari orang Solo, baik cara berbicaranya yang sangat lembut bahkan kadang nyaris tak terdengar, juga dalam hal bersikap, ternyata hilang dari peredaran.

Seorang wartawan atau redaktur mau jadi kritikus? Rasanya sangat jauh, karena kebiasaan atau habit mewartakan sebuah berita dengan 5W 1H agak kurang pas untuk menulis kritik sastra. Akan halnya seorang pelaku atau penulis karya sastra, juga tidak layak kalau ia mau menjadi kritikus sastra. Sebab antara pelaku dan pengkritik harus terpisah sehingga ulasannya menjadi obyektif.

Kadang seorang pengkritik sastra didaulat atau diminta menunjukkan karya sastranya, Ini permintaan yang tidak nalar. Seorang kritikus sastra tidak perlu harus menjadi sastrawan. Sebab bagaimana Pramoedya harus menjadi kritikus untuk karya sastrawan lain? Demikian juga terhadap seorang pengajar atau instruktur dalam workshop penulisan fiksi (disini fiksi belum tentu bisa disebut sebagai karya sastra), ia tidak perlu juga sudah sebagai penulis fiksi. Sebab seorang kritikus yang ia pelajari adalah ilmu tentang bagaimana membuat kritik atas karya sastra, bukan bagaimana cara membuat fiksi yang baik, meski ia juga belajar tentang bagaimana menulis fiksi yang benar.

Apakah Sartre bisa dikatakan seorang kritikus? Tidak. Tetapi karya-karya sastranya terutama drama adalah berisi kritik terhadap masyarakat. Di sini seorang penulis karya sastra perlu membekali diri terus-menerus dengan ilmu yang terbaru. Misalnya: jika seorang penulis akan menulis fiksi yang jika dibaca orang akan memberi inspirasi bagaimana caranya mengubah masyarakat, maka ia harus mempelajari filsafat Anthony Giddens. Jika ia akan menulis fiksi yang berisi kritik terhadap masyarakat yang kemaruk beragama, maka ia perlu membaca Nietzsche.

Sebuah karya sastra mesti memiliki ideologi yang jelas. Artinya tindakan dan ucapan para tokohnya harus mencerminkan dan nyata-nyata kita jadikan tokoh untuk menguraikan ideologi pada fiksi yang tengah kita tulis. Dari setitik filsafat Nietzsche tentang moralitas misalnya, bisa kita jadikan ideologi dalam cerita kita. Berikut kutipannya:

“Pernahkan Anda membayangkan sebuah dunia dimana tidak ada kebenaran? Dunia dimana klaim-klaim kebenaran hanyalah selubung semu yang selalu tersingkap. Dunia dimana moralitas hanyalah silsilah yang menyembunyikan nafsu, ketakutan, harapan, dan emosi. Kehidupan yang menghantarkan egoisme-egoisme ningrat, dimana yang kuat berkuasa atas yang lemah. Tidak ada Tuhan. Setiap diri adalah api yang mengobarkan potensi-potensi kekuatan fasis. Kesadaran dalam gerak hanyalah kehendak untuk berkuasa. Dalam dunia seperti ini, kehidupan adalah mabuk dan ekstase para pengkut Dionysos, mentalitas hidup yang menghantarkan imajinasi liar yang menggelora dalam tindakan dan “gairah” hidup. Berkata “ya pada dunia”.

Membaca Nietzsche seperti minum tonik intelektual yang menyegarkan. Sebab ide falsafi yang masyhur akan banyak mengalami interpretasi dan tanggapan sebagai konsekuensi logis. Maka, guyonan yang kadang menyakitkan: seseorang belum pantas dikatakan sebagai mahasiswa filsafat dari periode pertama abad 20 sampai awal-awal abad ini tanpa mengetahui Nietzsche. Sebab, akan sangat janggal jika seseorang mau berspekulasi tentang permasalahan filsafat tanpa mengetahui spekulasi-spekulasi yang dipaparkan oleh Nietzsche.

Gaya tulisannya yang sastrawi dan abstrak banyak menimbulkan interpretasi, sehingga corak pemikirannya tidak bisa tidak, bersifat multi tafsir. Moralitas, kebenaran, kritik terhadaop kebudayaan dan kematian Tuhan adalah beberapa tema yang sangat menarik.

Silakan berkarya dengan pengetahuan tentang Nietzsche yang hanya sekelumit ini. Jika Anda tekun, Anda pasti menghasilkan tulisan yang tidak biasa.

Kesimpulan saya. Di Kompasiana tidak ada karya sastra. Dan tidak ada sastrawan.

27 December 2011
Dijumput dari: http://bahasa.kompasiana.com/2011/12/27/mereduksi-karya-sastra/