Sastra Semarang Punyakah Masa Depan

Achiar M Permana
http://www.suaramerdeka.com/

KEPADA siapa masa depan sastra Semarang digantungkan? Masih patutkah berharap pada Triyanto Triwikromo, S Prasetyo Utomo, atau generasi seumuran mereka? Tidak adakah sastrawan baru yang lebih muda, lebih cemerlang, dan lebih produktif yang hadir sesudah masa keemasan Triyanto dan kawan-kawan habis?

Ya, pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang menjadi pemantik bagi para sastrawan muda Semarang untuk menggeliat. Mengabarkan keberadaan. Menepis stigma kemandulan.

Belakangan, mereka terlihat lebih giat untuk menggelar acara kesusastraan. Lihat saja, ketika para pegiat sastra itu menggelar pembacaan puisi, Rabu (28/3) malam, di halaman kampus Bahasa dan Sastra Indonesia (BSI) Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Unnes, Sekaran, Gunungpati.

Pementasan itu merupakan rangkaian terakhir dari “Lawatan Puisi” di sejumlah kampus yang diprakarsai Komunitas Hysteria. Sebelum di Unnes, lawatan serupa mampir di bulevar dan Fakultas Sastra Undip, IAIN Walisongo, IKIP PGRI, dan Universitas Dian Nuswantoro. Semalam (29/3), Hysteria menggelar diskusi “Melacak Keterputusan Estafet Kesustraan Semarang” lewat forum Ngobrol Sastra dan Rerasan Budaya di Joglo Sastra Undip.

“Setiap kali bertemu dengan teman-teman sastrawan muda dari kota lain, pasti saya ditanya, ada apa dengan sastra Semarang. Kenapa tidak ada kabar beritanya?” kata Adin, motor Komunitas Hysteria. “Dan selalu saja, saya tidak bisa menjawab.”

Dia mengatakan, Semarang pernah mengalami masa jaya dalam kepenyairan, dan kesusastraan secara umum. Itu terjadi ketika Keluarga Penulis Semarang (KPS) masih eksis, dan para anggotanya aktif melahirkan karya.

Tanda lain atas kejayaan itu adalah munculnya gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP) yang antara lain dimotori Triyanto Triwikromo.

“Namun, regenerasi tidak berjalan, dan setelah era itu praktis tidak ada lagi kabar kelahiran sastrawan muda Semarang. Padahal, walaupun sekarang masih produktif, Triyanto suatu saat mati, dengan atau tanpa tanda kutip, dan harus digantikan yang lebih muda,” imbuh mahasiswa Fakultas Sastra Undip itu.

Kurang Terkonsep

Makanya, Adin bersama para pegiat sastra di pelbagai kampus menggelar pentas dengan semangat “Siapa saja membaca puisi siapa saja” seperti di kampus Unnes malam itu.

Hasilnya, tak terlampau mengecewakan. Belasan pencinta sastra berhasil dibuat duduk menjadi pemain sekaligus penikmat.

Ganti berganti, mereka tampil sebagai pembaca puisi pada panggung artistik yang disiapkan para pegiat sastra Unnes, sebagai sahibul bait.

“Sayang, saya melihat perhelatan ini masih kurang terkonsep dengan baik. Akibatnya, banyak mahasiswa lain yang abai dan tidak merasa terlibat,” komentar Ribut Achwandi, mahasiswa Sastra Indonesia Unnes.

30 Maret 2007