Tebaran Buku di Jalan

Indira Rezkisari
Republika, 01 Juni 2008

BERHENTI sejenak dari mengayuh sepeda, beberapa orangtua kemudian bermain bulutangkis sembari menunggu anaknya menyelesaikan bacaan. Cukup banyak pengendara sepeda yang mampir ke perpustakaan di Jl Sudirman, Jakarta, itu, Ahad (25/5).

Ada pula orangtua yang memilih bermain congklak bersama anaknya. Azmun (40 tahun), misalnya, malah membaca buku anak-anak yang tersedia di rak usai berolahraga di Senayan. Ia berteduh di bawah rindangnya pohon. ”Idenya menarik ya,” kata Azmun yang datang ke Senayan naik bus dengan keluarganya dari Bekasi. ”Kita nggak cuma bisa lari aja di stadion, tapi bisa baca-baca juga.”

Hari itu, ruas Jl Sudirman-Thamrin dibebaskan dari kendaraan pribadi. Di seberang halte bus Transjakarta depan Polda Metro Jaya, Forum Indonesia Membaca menggelar buku-buku dan membangun ‘perpustakaan’ di badan jalan jalur cepat. Tempat yang teduh di bawah rimbunnya pohon.

Perpustakaan itu sederhana saja. Beratapkan pohon rindang yang teduh, beberapa buku tertata dalam rak kayu. Pengunjung dipersilakan mampir dan membaca. Bebas. Boleh membaca tetap di atas sepeda atau sembari duduk lesehan di aspal yang tertutup terpal sisa spanduk acara Forum Indonesia Membaca sebelumnya.

Bagi Forum Indonesia Membaca, perpustakaan bukan sekadar tempat membaca buku. Karena itu perpustakaan tidak harus berada dalam ruangan khusus yang sepi tanpa suara. ”Perpustakaan adalah tempat orang beraktivitas,” ujar Dessy Sekar Astina, direktur program Forum Indonesia Membaca.

Di sana, berteman bising dari kendaraan umum yang lalu lalang di jalur lambat, kegiatan ‘perpustakaan jalanan’ itu tak sebatas membaca buku. Ada pembacaan cerita, bermain mainan tradisional seperti yoyo, congklak, dan gasing, belajar melipat kertas dengan teknik Jepang (origami), hingga belajar mengenal pemilahan sampah. ”Kegiatan di sini fleksibel banget,” kata Dessy.

Mau bermain atau membaca, semua terserah anak. Forum Indonesia Membaca memang menargetkan perpustakaan di jalan ini untuk anak-anak. Bermain adalah salah satu upaya menarik minat baca. Begitu pula dengan pelajaran origami atau pemilahan sampah yang ada di perpustakaan jalanan. ”Semua supaya anak terdorong mencari informasi,” ucap Dessy, ”Di mana informasi dicari, ya bisa dari buku.”

Itulah, kata Dessy, makna sejati perpustakaan. Tempat aktivitas mencari informasi berlangsung. Bukan tempat menumpuk buku. Dessy mencoba memaparkan fungsi perpustakaan yang sesungguhnya, yakni pusat mencari informasi. Artinya, perpustakaan seharusnya menjadi tempat bertukar informasi atau berbagi pengetahuan. Tidak melulu cuma untuk membaca.

Maka, keterbatasan tempat bukan halangan. Kegiatan di perpustakaan bisa dilakukan di mana saja. Mulai dari jalanan, kebun, sampai selasar ruang sekolah yang sempit. ”Lebih baik perpustakaan ada sepekan sekali, tetapi selalu penuh kegiatan,” kata dia. Perpustakaan bernama Book in the Public Space sudah dua kali dibuat Forum Indonesia Membaca. Pertama kali mereka mengadakan perpustakaan di jalan pada hari bebas kendaraan bermotor Maret 2008.

Ternyata, pada Mei ini bukan cuma mereka yang membawa buku ke tengah jalan. Perpustakaan Umum Daerah DKI Jakarta turut membuka perpustakaan serupa di Bundaran HI. ”Pancingan kami berhasil,” ucap Dessy, ”Lebih banyak buku lebih baik.”

Budaya baca orang Indonesia, menurut Dessy, sebenarnya tinggi. Sayangnya akses terhadap buku sulit. Harga buku yang mahal membuat orang memilih mengalokasikan dananya bagi kebutuhan lain. Perpustakaan seharusnya bisa jadi tempat mengentaskan keterbatasan itu. Semakin banyak informasi yang dibaca, semakin tinggi pula kemampuan seseorang memilah informasi. Tak hanya dari buku, perpustakaan yang kaya aktivitas dapat berfungsi sebagai tempat berdiskusi mencari pengetahuan.

Klinik perpustakaan
Selain menyediakan buku dan beragam permainan, perpustakaan di jalan membagi kiat mengelola perpustakaan atau library clinic. Hazniel Tiara mengaku khusus datang di perpustakaan di jalan ini untuk berdisuksi tentang perpustakaan. Orang tua murid sekaligus anggota Komite Sekolah SDN 12 Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, sedang mencari cara untuk menghidupkan perpustakaan di sekolah anaknya.

SDN 12 sebenarnya sudah punya perpustakaan. ”Tapi, tidak bisa membuat anak-anak tertarik membaca,” kata pria yang berprofesi sebagai konsultan pendidikan itu. Perpustakaan di jalan menginspirasi Hazniel untuk menerapkan pola serupa di sekolahnya. Ia mengaku banyak belajar dari perpustakaan di jalan. Salah satu contohnya adalah pemilahan sampah. SDN 12 sudah memiliki dua tempat sampah dalam kelas. Satu untuk sampah organik dan anorganik. Setelah praktik langsung tentang pemilahan sampah, anak diharapkan terpacu mencari informasi lebih lanjut. ”Selain melihat sendiri, informasi paling baik dapatnya dari buku,” kata Hazniel.

Untuk murid SDN 12, yang sebagian besar datang dari golongan ekonomi menengah ke bawah, perpustakaan adalah solusinya. Buku yang sulit dibeli bisa dicari di perpustakaan. Masalahnya ialah bagaimana membangun perpustakaan yang menarik bagi anak. ”Kalau cuma ada dan tidak dikemas, ya nggak menarik,” kata Hazniel. Perpustakaan yang penuh dengan kegiatan bisa menjadi sumber pembelajaran bagi anak.

Menurut Dessy, membangun perpustakaan sesungguhnya tidak susah dan tidak mahal. Perpustakaan di jalan dibangun dari barang bekas. Terpal bekas sebagai alas. Rak buku ringan yang mudah diangkut. Sampai congklak dan gasing pinjaman dari para relawan. Yang terpenting adalah cara menarik minat orang untuk mampir ke perpustakaan itu.

SDN 12, kata Hazniel, memang belum punya perpustakaan yang menarik. Pustakawan pun mereka tidak punya. ”Caranya sedang dicari,” ujar Hazniel. Tidak perlu yang terlalu canggih, yang penting bagus dan menarik. ”Karena anak-anak perlu tahu how to use books,” sambung Hazniel.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/06/pustaka-tebaran-buku-di-jalan.html