Memahami “Shakespearean Tragedy”

Donny Syofyan *
http://padangekspres.co.id/

Pada umumnya, drama dikelompokkan dalam dua jenis, yaitu tragedi dan komedi. Pengelompokan ini didasarkan pada cara pandang filosofis drama tersebut terhadap hakikat hidup manusia. Pandangan hidup yang khas dalam drama tragedi terletak pada penegasan bahwa manusia harus menerima suratan nasib yang tidak dapat dihindarkan. Jadi, drama tragedi adalah drama yang menampilkan tokoh yang sedih dan muram.

Keadaaan ini biasanya mengantarkan tokoh-tokohnya kepada keputusasaan dan kehancuran. Drama ini juga mengacu kepada drama serius yang melukiskan konflik di antara tokoh utamanya yang berakhir dengan malapetaka dan kesedihan. Namun, tragedi juga menggambarkan kenyataan bahwa meskipun kita harus menghadapi dan menerima suratan nasib, kita juga punya kebutuhan yang kuat untuk memberi makna pada nasib kita.

Oleh karena itu, semangat drama tragedi tidaklah pasif, melainkan penuh dengan semangat perjuangan, yakni perjuangan untuk memberi makna pada nasib hidup manusia. Salah satu sastrawan hebat yang memiliki keunikan dalam lakon-lakon tragedi adalah William Shakespeare. Secara detail ciri-ciri dan substansi utama dari pelbagai lakon karya Shakespeare adalah sebagai berikut.

Pertama, lakon-lakon tragedi dalam karya Shakespeare pada umunya adalah kisah seorang pahlawan atau protagonis, laki-laki (hero) maupun perempuan (heroin). Paling banyak dua orang. Pengecualian hanya terjadi pada lakon-lakon tragedi cinta, di antaranta Romeo and Juliet dan Antony and Cleopatra. Sementara, lakon-lakon tragedi lainnya, termasuk Macbeth, hanya memiliki bintang-bintang tunggal. Karenanya, kisah tragis terkait erat dengan satu orang tokoh.

Kedua, lakon-lakon tragedi selalu berujung kepada kematian si tokoh utama setelah melewati masa-masa berat penderitaan dan kesedihan. Tokoh-tokoh utama dari lakon Shakespeare berasal dari kalangan atas, seperti para raja, bangsawan, atau orang-orang kelas biru. Penderitaan yang mereka alami sangat tragis, tidak lazim, dan luar biasa. Tokoh-tokoh utama, secara tak terduga, jatuh dan tercampak dari kedudukan yang tinggi, mulia, atau terhormat menuju kehancuran. Catastrophemengambil proporsi yang sangat monumental. Adegan-adegan yang mengisahkan penderitaan dan bencana yang luar biasa tersebut bergerak melebihi dan melewati kemampuan sang tokoh sehingga mengundang rasa takut dan iba para penonton.

Kenapa lakon-lakon tragedi Shakespeare mengambil orang-orang besar, katakanlah raja atau pangeran, sebagai tokoh-tokoh utamanya? Jawabannya karena kematian seorang besar akan memberikan pengaruh yang besar bagi masyarakat sekitarnya, termasuk rasa takut dan iba yang dirasakan masyarakat. Kematian seorang petani, misalnya, dianggap tidak berdampak apa-apa bagi munculnya rasa takut dan iba dibandingkan dengan kematian seorang pangeran. Sebaliknya, kesalahan dan kematian seorang pembesar bisa mempengaruhi kehidupan suatu bangsa dan kesejahteraan sebuah kerajaan. Jadi, kejatuhan seorang raja sudah barang tentu melahirkan efek yang sangat kontras, dibandingkan hal sama yang terjadi atau melanda orang-orang biasa saja. Singkat kata, bisa dikatakan bahwa lakon-lakon Shakespeare adalah kisah penderitaan luar biasa yang menggiring kepada kematian kalangan atas.

Ketiga, lakon Shakespeare memuat unsur-unsur yang sambung menyambung, yakni kelemahan manusia dan pertanggungjawaban. Kelamnya tragedi yang berlangsung tidak terjadi begitu saja, dan tidak juga sekadar dikirim dari seseorang. Lebih daripada itu, tragedi yang menimpa pelakon utama dalam karya-karya Shakespeare merupakan akibat perbuatan si tokoh utama sendiri. Karenanya, pusat dari tragedi berada pada tindakan sang tokoh utama. Si tokoh akhirnya menyadari kelemahan dan kesalahan yang telah diperbuatnya. Sayangnya, itu semua sudah terlambat dan tak mampu mencegah kematiannya, seperti penyesalan seorang Othello atas kesalahan dan prasangkanya terhadap Desdemona sebelum akhirnya ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Othello membunuh Desdemona bukan lantaran kencangnya hasutan Iago, tapi lebih karena kelemahan seorang Othello. Sayang keinsafan selalu datang terlambat sampai akhirnya ia bunuh diri buat merebut kembali maruah yang hilang dan terserak.

Keempat, lakon tragedi Shakespeare biasanya menampilkan keadaan yang tidak normal—kegilaan, somnambulisme, dan halusinasi, hal-hal supernatural, dan peruntungan atau nasib. Keadaan yang tak normal sebetulnya bukanlah penyebab lahirnya momen-momen dramatis. Prilaku Lady Macbeth yang berjalan sambil tidur (somnambulism) tidak punya pengaruh apa-apa terhadap peristiwa yang terjadi sesudahnya. Macbeth tidak membunuh Raja Duncan karena melihat belati di langit; ia menyaksikan belati di langit karena ia akan membunuh Raja Duncan. Kegilaan King Lear, seperti Ophelia, bukan disebabkan konflik tragis tapi sebagai akibat konflik tragis.

Unsur-unsur supernatural, dalam banyak kasus, bisa dijelaskan sebagai ilusinasi yang terjadi pada lakon-lakon utama. Hal-hala supernatural tidak berdampak terhadap tindakan tapi selalu ditempatkan dalam hubungan paling dekat dengan para tokoh. Hal tersebut memperkuat dan memberikan bentuk yang berbeda terhadap gerakan yang hadir dan memberikan pengaruh pikiran yang setengah terbentuk atau rasa bersalah yang menakutkan pada Macbeth atau kecurigaan dalam Hamlet.

Akhirnya, peruntungan atau nasib juga menempati posisi yang tak kalah pentingnya dalam lakon Shakespeare. Seseorang yang memulai dan menjalani sebuah arah peristiwa namun tak kuasa mengontrol dan melakukan perhitungan terhadapnya adalah sebuah fakta yang tragis. Shakespeare boleh jadi menggunakan kejadian-kejadian tragis untuk membangkitkan kesadaran kita. Hanya saja, penggunaan berbagai peristiwa dalam urutan yang tragis sudah barang tentu akan memperlemah, kalaupun tidak menghancurkan, hubungan kausalitas dari tokoh, perbuatan atau tindakan, dan katastrofi (catastrophe). Shakespeare menggunakan semua itu dengan hemat dan hati-hati, terutama di saat suatu tindakan atau peristiwa nyaris tidak terhindarkan. Ini bisa terlihat tatkala Romeo tidak pernah menemukan surat Friar Lawrence, Juliet tidak siuman beberapa saat sesudahnya, atau Desdemona kehilangan sapu tangannya persis di saat-saat yang amat genting.

Kelima, konflik yang berlangsung lebih sebagai petarungan internal tokoh-tokoh utama dalam lakon. Kekuatan apapun dalam jiwa manusia—baik atau jahat, apakah bersifat gelora personal ataupun prinsip-prinsip impersonal—keraguan, hasrat, keculasan, atau gagasan, atau apapun yang menghidupkan, menggoncangkan, memiliki, dan menggiring jiwa seorang manusia, semuanya adalah kekuatan spiritual yang membangkitkan gejolak jiwa terdalam tokoh-tokoh dalam lakon tersebut. Ambisi pengkhianatan bertemu dengan loyalitas dalam diri seorang Macbeth, begitu pula dengan patriotisme dalam Madcuff dan Malcolm. Tapi pada saat yang sama, kekuatan yang ada dalam jiwa merupakan kombinasi dengan tekanan di luar dirinya, seperti godaaan para tukang sihir maupun Lady Macbeth sendiri. Ini semua memperluas cakrawala tentang definisi seorang hero atau protagonis.

___________12/02/2012
*) Donny Syofyan, Penulis adalah Dosen FIB Universitas Andalas