Bahasa Alay, Sebuah Budayakah?

M. Syahrizal
http://www.analisadaily.com/

Dari sudut pandang linguistik, Bahasa Indonesia salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah Bahasa Melayu Riau (wilayah Kepulauan Riau sekarang) dari abad ke-19.

Dalam perkembangannya dia mengalami perubahan akibat penggunaanya sebagai bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” diawali sejak dicanangkannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap digunakan

Bahasa Indonesia, bahasa sangat bagus dan banyak dari orang asing yang belajar Bahasa Indonesia untuk kehidupannya. Sayang kita sendiri sebagai penerus bangsa ini, malah menjauhkan diri dari bahasa kita sendiri. Banyak dari kalangan pemuda sekarang lebih suka menggunakan bahasa alay dibandingkan dengan bahasa Indonesia yang tersusun secara sistematis.

Bahasa Alay adalah singkatan dari Anak layangan, Alah lebay, Anak layu atau Anak kelayapan yang menghubungkannya dengan anak jarpul (Jarang Pulang). Paling terkenal adalah Anak layangan.

Dominannya, istilah ini menggambarkan anak yang menganggap dirinya keren secara gaya busananya. Menurut Koentjaraningrat, Alay adalah gejala yang dialami pemuda dan pemudi Bangsa Indonesia, yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan, dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsissan cukup mengganggu masyarakat pada umumnya.

Bahasa alay mungkin bahasa kedua pada saat sekarang ini di kehidupan Bangsa Indonesia bagi para pemuda yang ada saat ini. Saat ini bahasa alay sudah ada kamusnya, untuk menterjemahkan segala sesuatu tentang bahasa alay yang digunakan dalam komunikasi, yang dianggap kebanyakan orang sebagai tradisi.

Bahasa alay digunakan dalam suatu komunitas tertentu. Sekarang ini bahasa alay sudah merebak di kalangan masyarakat Indonesia dalam komunikasi baik secara lisan maupun secara tulisan. Sungguh sangat disesalkan begitu banyak orang asing untuk belajar bahasa Indonesia, bahkan mereka rela membayar sampai berjuta-juta hanya untuk belajar bahasa yang sangat sulit penyusunannya dan bahkan bahasa tersulit ke – 3 di Asia.

Bahasa Alay menurut Sahala Saragih, dosen Fakultas Jurnalistik Universitas Padjajaran, merupakan bahasa sandi yang hanya berlaku dalam komunitas mereka. Tentu saja itu tidak mungkin digunakan ke pihak di luar komunitas mereka, misalnya guru dan orangtua.

Bahasa alay yang dapat merusak citra penggunaan bahasa Indonesia yang tersusun secara sistematis. Bahkan bukan hanya Bahasa Indonesia yang memiliki Kamus Besar, tetapi bahasa alay juga mempunyai kamus besar yang disingkat KBBA (Kamus Besar Bahasa Alay). Inilah kehidupan sekarang ini banyak dari pemuda yang lebih suka menggunakan bahasa alay ketimbang Bahasa Indonesia yang sudah sejak lama mereka kenal.

Sedikit contoh bahasa alay:

“heii, lamb knall yupz! nmAquw Gneshaa . . !”

“l3h knl n mnt n0 hp 9 bwt nmbh tm3n”

“U 9Hy D! HuMZzZ. . . ???”

Bahasa alay atau bahasa Indonesia?

Bahasa alay yang merupakan bahasa sandi atau singkatan bagi kalagan tertentu dalam komunikasi dan biasanya itu bisa melalui sms, facebook, twiterr, dan media lainnya. Bahasa alay banyak digunakan oleh para anak muda dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Anak layangan atau alay ini sama seperti komunitas lainnya, memiliki bahasa tersendiri. Sebagian besar hanya komunitas mereka yang mengerti dan memahami tulisan maupun bahasa mereka. Mengapa dikatakan sebagian besar hanya anak alay yang mengerti bahasa ataupun tulisan mereka, dikarenakan bahasa alay sangat sulit di mengerti atau dibaca oleh orang awam yang tidak biasa berbahasa alay.

Bahasa alay ini banyak digunakan oleh sebagian selebritis dan kalangan remaja tertentu lainnya. Secara perlahan bahasa ini juga merambah kalangan remaja terutama di kota-kota besar seperti Bandung.

Menurut Babbie (1989) yang dikutip dalam suatu situs internet menyebutkan, di dunia sekitar kita terdapat dua realitas. Pertama realitas eksperimensial (experimential reality). Kedua realitas penyetujuan (agreement reality).

Realitas eksperimensial maksudnya, orang mengetahui realitas sebagai akibat dari pengalaman langsung orang tersebut dengan dunianya. Realitas penyetujuan adalah sebagai akibat dari kabar (informasi) orang lain yang dia terima dan orang lain serta dirinya sendiri pun turut mendukung (setuju atau membenarkan) adanya realitas dimaksud.

Tidak dipungkiri hingga sekarang bahasa alay semakin luas pemakaiannya dan semakin banyak para remaja bahkan orang dewasa menggunakan penulisan atau pengucapan bahsa alay karena adanya unsur daya tarik yang membuat banyak orang yang sebelumnya kurang paham akan bahasa alay ini menjadi ingin tahu dan akhirnya mengikuti menggucapkan atau menulis dengan bahasa alay.

Dampak penggunaan bahasa alay dalam sistematis Bahasa Indonesia

Dampak positif dengan digunakannya bahasa Alay adalah remaja menjadi lebih kreatif. Terlepas dari menganggu atau tidaknya bahasa Alay ini, tidak ada salahnya kita menikmati tiap perubahan atau inovasi bahasa yang muncul. Asalkan dipakai pada situasi yang tepat, media yang tepat dan komunikan yang tepat juga.

Dampak negatifnya adalah penggunaan bahasa Alay dapat mempersulit penggunanya untuk berbahasa Indonesia dengan baik dan benar. Padahal di sekolah atau di tempat kerja, kita diharuskan untuk selalu menggunakan bahasa yang baik dan benar. Tidak mungkin jika pekerjaan rumah, ulangan atau tugas sekolah dikerjakan dengan menggunakan bahasa Alay. Karena, bahasa Alay tidak masuk ke dalam tatanan bahasa akademis.

Begitu juga di kantor, laporan yang kita buat tidak diperkanankan menggunakan bahasa Alay. Jadi, ketika situasi kita dalam situasi yang formal jangan menggunakan bahasa Alay untuk komunikasi.

Dampak negatif lainnya, bahasa Alay dapat mengganggu siapapun yang membaca dan mendengar kata-kata yang termaksud di dalamnya. Karena, tidak semua orang mengerti akan maksud dari kata-kata Alay tersebut. Terlebih lagi dalam bentuk tulisan, sangat memusingkan dan memerlukan waktu yang lebih banyak untuk memahaminya.

Bahasa Alay secara langsung maupun tidak, telah mengubah masyarakat Indonesia untuk tidak mempergunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Sebaiknya bahasa Alay dipergunakan pada situasi yang tidak formal seperti ketika kita sedang berbicara dengan teman. Pada komunitas yang mengerti dengan sandi bahasa Alay tersebut. Kita boleh menggunakannya, tetapi jangan sampai menghilangkan budaya berbahasa Indonesia.

Penulis; mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Medan/ 11 Mar 2012