Penyair Magelang Baca Puisi di Jerman

M Hari Atmoko
http://www.antarajateng.com/

Penyair Magelang, Jawa Tengah, Dorothea Rosa Herliany, akan membacakan beberapa puisi karyanya di tiga kota di Jerman yakni Bremen, Berlin, dan Koln, untuk mengenalkan kepada publik negeri itu tentang perkembangan sastra modern Indonesia.

“Puisi-puisi karya 1990 hingga 2009 akan kami bacakan pada kegiatan di tiga kota itu,” kata Rosa di Magelang, Jumat.

Kunjungan Rosa ke Jerman antara lain dalam rangkaian Jakarta-Berlin Art Festival (JBAF), 25 Juni hingga 3 Juli 2011.

Rosa yang juga pengelola Rumah Buku Dunia Tera Borobudur, Kabupaten Magelang, merupakan salah satu kurator festival tersebut, terutama bidang sastra. Sedikitnya 30 seniman Indonesia dan Jerman terlibat pada festival tersebut.

Ia mengatakan, pembacaan puisinya di Bremen pada Festival Internasional Kesusasteraan Ke-12 (17-23 Juni 2011), Berlin pada JBAF (25 Juni-3 Juli 2011), dan Koln pada agenda budaya di Orangerie Teater Koln (3-6 Juli 2011).

Ia mengatakan, kumpulan 26 puisinya dibukukan dalam dua bahasa yakni Indonesia dan Jerman berjudul “Skenario Bunuh Diri” (Szenario Eines Selbstmords) untuk selanjutnya beredar di Jerman.

“Kalau yang untuk JBAF nanti masih diterbitkan dalam jumlah terbatas. Tetapi Oktober nanti oleh salah satu penerbit di Jerman akan diterbitkan dengan jumlah yang lebih banyak untuk didistribusikan di Jerman,” katanya.

Puisi karya Rosa dalam bukunya ke-23, “Skenario Bunuh Diri”, yang akan dibaca di Jerman mendatang antara lain berjudul Surat Untuk Nadia, Surat Untuk Lorena, Pohon Yang Kutanam, Catatan Hitam Putih, Sebuah Radio Kumatikan, Buku Harian Perkawinan, Elegi, dan Nikah Pelacur Tak Punya Tubuh.

Ia menjelaskan tentang karya puisinya yang umumnya tentang semangat menjadi manusia yang baik, harapan hidup manusia yang lebih bermakna, upaya mewujudkan perdamaian, dan penghargaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

“Latar belakang inspirasi puisi-puisi itu antara lain karena gelisahan hidup, ketidakadilan, tidak damai, orang terlalu mementingkan materi, hal-hal yang dangkal, perempuan, tidak saling menghargai, tidak jujur. Keadaan yang tidak baik harus disikapi dengan membangun optimisme dan pengharapan,” katanya.

Ia mengatakan, membaca puisi di Jerman sebagai kesempatan dirinya turut mengenalkan karya sastra modern Indonesia kepada publik di negeri itu.

“Karena selama ini masyarakat Jerman pada umumnya mengenal karya seni di negara berkembang seperti Indonesia ini sebatas kesenian tradisional. Padahal di Indonesia juga berkembang sastra modern,” katanya.

Sebagian di antara publik Jerman, katanya, mengenal secara baik sejumlah nama sastrawan besar Indonesia seperti Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, W.S. Rendra, Ahmad Tohari, dan Goenawan Mohamad.

Selama di Jerman, katanya, dirinya juga menjadi salah satu pembicara loka karya tentang menulis dan mengikuti diskusi sastra (Bremen), serta pemateri diskusi sastra di Universitas Humboldt (Berlin).
“Di Koln pembacaan puisi bersama penyair Lena Simanjuntak,” katanya.

Pewarta : M Hari Atmoko, Penyunting : Mahmudah /10 Jun 2011