Godi Suwarna, Hantu, dan Sastra Sunda

Soni Farid Maulana
http://cangra.multiply.com/

Aya manuk ngagarapak dina hate
Luncat kana dahan ngarangrangan
Nu kasampak bulan tinggal bangkarakna
Bangkar dirurub ku indungpeuting

EMPAT larik puisi di atas dipetik dari puisi Maskumambang karya sastrawan Sunda Godi Suwarna. Puisi yang secara keseluruhan menggambarkan kegelisahan sang penyair yang dibayang-bayangi oleh maut itu, terdapat dalam kumpulan puisi tunggal Godi Suwarna yang pertama, yang diberi judul Jagat Alit.

Dalam perkembangan dan pertumbuhan sastra Sunda modern, Godi merupakan sastrawan Sunda pertama yang mendapat tiga Hadiah Sastra Rancage untuk tiga kategori penulisan karya sastra. Masing-masing untuk Blues Kere Lauk (kumpulan puisi, 1992), Surat Sarwasatwa (kumpulan cerita pendek, 1995), dan Sandekala (novel, 2008).

“Alhamdulillah, apa yang saya kerjakan selama ini tidak sia-sia. Mudah-mudahan apa yang saya tulis selama ini bisa memberikan sumbangan yang cukup berarti bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra Sunda,” ujar Godi Suwarna dalam percakapannya dengan penulis, Rabu (12/2/2008) di Gedung Kesenian Rumentang Siang Jln. Baranang Siang No. 1 Bandung.
**

DALAM penuturannya, Godi mengatakan, bahwa dirinya berkenalan dengan sastra Sunda lewat ibunya, Titik Suwartika (75) yang sering membacakan cerita demi cerita horor yang dimuat di majalah Sunda Mangle, ketika masih duduk di bangku SD Neglasari Panawangan, Kampung Cirikip, Desa Cinyasag, Kabupaten Ciamis.

“Dongeng yang saya suka pada saat itu adalah dongeng-dongeng horor, seperti hantu dan kuntilanak. Ibu saya jika membaca dongeng pandai memainkan suasana, sehingga saya sering ketakutan sendiri!” jelas Godi, mengenang masa lalunya. yang dikatakannya sangat indah.

Setelah lancar membaca, Godi mulai membaca sendiri cerita demi cerita yang dimuat di majalah Sunda tersebut. Hingga duduk dikelas 6 SD, cerita yang disukainya itu selain dongeng tentang hantu dan alaman siluman, adalah tentang cerita wayang.

“Baru menginjak SMP saya mulai suka membaca karya sastra seperti yang ditulis oleh Kang Wahyu Wibisana. Tapi yang paling saya suka pada saat itu karya-karya roman yang ditulis oleh H.S. Josaniar. Cerita-cerita pencintaan yang ditulis oleh H.S. Josaniar itu serasa saya sendiri yang menjadi tokohnya,” jelas Godi, yang berkali-kali mendapat Hadiah Sastra Lembaga Basa dan Sastra Sunda (LBSS) Bandung untuk penulis puisi dan cerita pendek, yang dipublikasikannya di berbagai media berbahasa Sunda.

Dikatakan Godi, yang mendorong dirinya mulai suka membaca karya sastra yang ditulis oleh sastrawan moyan Wahyu Wibisana tiada lain adalah berkat dorongan Eno Suwarna, ayah Godi Suwarna.

“Ayah saya pecinta berat karya-karya Kang Wahyu Wibisana. Ketika saya membaca karya-karya Kang Wahyu, mula-mula terasa aheng. Hal itu disebabkan karena pengetahuan saya yang serba terbatas, dan mulai terbuka pada cakrawala kehidupan yang lebih luas. Selain itu kosa kata yang saya kuasai dalam bahasa Sunda pun mulai bertambah pula,” papar Godi, penulis kumpulan cerita pendek Murang-maring (1980).

Tentu saja, selain karya Wahyu Wibisana, Godi membaca pula karya-karya para pengarang Sunda lainnya yang dimuat di majalah tersebut. “Sejak itu saya mulai suka menulis dalam bahasa Sunda. Saya merasa bahwa setiap saya selesai menulis, ada kepuasan tersendiri. Keindahan bahasa Sunda telah menyihir saya,” tutur Godi. Namun demikian, apa yang ditulisnya itu tidak berani dipublikasikan selain disimpan untuk diri sendiri.

Ketika menginjak SMA, yang pada waktu itu Godi sekolah di SMA Pasundan, Tasikmalaya, dunia tulis menulis agak terlupakan, namun demikian kegemarannya membaca karya sastra justru semakin meningkat. Mulai duduk di bangku SMA, Godi mengenal karya Rendra, Trisnoyuwono, Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad dan sejumlah karya sastra lainnya.

Lantas apa sebabnya dunia tulis-menulis agak terlupakan? Sebab saat itu Godi larut dalam dunia kenakalan remaja, meski tidak melakukan tindak kriminal. “Pada saat itu saya kokoboyan. Acap kali berkelahi. Tapi bila patah hati nangis juga. Nah saat patah hati itulah, saya mulai lagi menulis. Ketika teman-teman mengetahui bahwa saya pandai menulis puisi cinta, maka saya banyak order menulis puisi cinta,” kata Godi sambil tertawa. Apa sebab? Karena apa yang ditulis Godi sungguh manjur membuat teman-temannya pada punya kekasih, sedang Godi sendiri pada saat itu dalam status jomblo.
**

SETAMAT SMA Pasundan Tasikmalaya, Godi melanjutkan kuliah di Jurusan Bahasa Indonesia di Fakultas Keguruan Sastra dan Seni (FKSS) IKIP Bandung (1976). Di Bandung Godi mulai berkenalan dengan Wawan S. Husin, yang saat itu sudah malang melintang dalam dunia kesenian di Bandung. Selain itu, berkenalan pula dengan Tatang Sumarsono.

Saat kuliah, selain aktif di Teater Nutug, Godi mulai menulis lagi. Tapi dalam bahasa Sunda. Pada saat itu pula perkenalan Godi dengan tokoh-tokoh sastrawan Sunda yang sudah moyan pun, tak dilewatkannya. Pengetahuannya tentang kebudayaan semakin luas, terutama setelah berkenalan dengan pelukis Popo Iskandar, yang dikemudian hari menjadi mertuanya.

“Saat liburan semester saya pulang ke Panawangan. Di rumah orang tua saya, saya kembali membaca majalah Mangle. Lalu saya kembali menulis satu dua puisi Sunda, yang saya kirim ke majalah tersebut. Alhamdulillah apa yang saya kirim itu dimuat. Sejak itulah saya kemudian merasa yakin bahwa dunia saya dalam tulis menulis adalah dalam bahasa Sunda dan bukan dalam bahasa Indonesia,” ujar Godi.

Puisi demi puisi yang ditulis Godi pada saat itu memenangkan pula Hadiah Sastra Mangle. Selanjutnya. Godi tidak puas hanya bisa menulis puisi, Godi kemudian mulai menulis cerita pendek. Cerita demi cerita pendek yang ditulis Godi pada saat itu bukan cerita yang ditulis dalam gaya ucap realis, akan tetapi menggunakan gaya ucap surealis. Hasilnya cukup menggemparkan jagat sastra Sunda pada saat itu. Misalnya seperti cerita tentang Rahwana, yang semula jahat, oleh Godi dibikin jadi orang yang baik hati, dan yang jahat malah Rama.

“Cerita yang saya tulis untuk pertamakalinya itu adalah mempertemukan tokoh mitos Sunda, Sangkuriang dengan Odhiphus tokoh mitos Yunani. Kedua tokoh tersebut mempunyai penderitaan yang sama, yakni sama-sama jatuh cinta pada ibu kandungnya sendiri,” kata Godi Suwarna yang pernah aktif di Studiklub Teater Bandung (STB) asuhan Suyatna Anirun.

Cerita pendek surealis yang ditulis Godi, yang turut memberikan warna baru bagi perkembangan dan pertumbuhan sastra Sunda itu, dikumpulkan dalam antologi cerita pendek Serat Sarwasatwa (1995) yang memberinya Hadiah Sastra Rancage untuk bidang menulisan cerita pendek. Setelah itu, Godi mulai menulis novel.

Dalam pandangan Rendra, kemampuan Godi Suwarna dalam menulis karya sastra dan membaca puisi, cukup memukau. Penulis sastra yang cemerlang dalam bahasa ibu. “Puisi-puisi yang dibacakan dan ditulis oleh Godi Suwarna itu cukup segar. Saya bisa menikmatinya saat ia membacakan puisi-puisinya. Dalam konteks yang demikian Godi tampaknya mampu mengungkapkan perasaannya yang mendalam dengan bahasa ibu yang dikuasanya,” kata Rendra, dalam sebuah kesempatan sepulang mengikuti acara 70 Tahun Ajip Rosidi Unpad, Bandung.

Saat itu Rendra sepanggung dengan Godi.***

Dijumput dari: http://cangra.multiply.com/journal/item/70?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem