Sastra, Jembatan Perjumpaan Antar-Bangsa

Gito Waluyo
http://kabar-banten.com/

SASTRA, hampir setiap bangsa memiliki karya sastra. Lewat sastra beberpa penulis mengutarakan pemikiran-pemikirannya tantang kehidupan, cinta, perjalanan hidup, potik, dan lain sebagainya. Kegiatan-kegiatan sastra sekrang juga muncul dan terus berkembang dari kota hingga ke daerah-daerah.

Kegiatan sastra sepertinya tak pernah berhenti dan mati. Kegiatan sastra terus bergulir untuk menyuarakan dan mendiskuiskan sastra dan karya sastra. Sastra sebagai jembatan perjumpaan antar bangsa mungkinkah? Sastra yang termasuk salah satu dari seni diyakini bisa menjadi jembatan pertemuan antar bangsa.

Dalam sebuah diskusi sastra di Jakarta beberapa waktu lalu, Eka Budianta sastrawan senior mengungkapkan pengalamannya selama bergelut dalam dunia sastra. “Dengan bekal tiga buku puisi, saya dipilih untuk menjadi salah seorang penyair Indonesia dalam Puisi Asean 1978. Di sana saya sadari, puisi mempersatukan paling sedikit 60 orang penyair dari enam negera. Yaitu dari Negara Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina, dan Thailand. Puisi-puisi saya pun mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Jhon McGlynn, dan ke dalam bahasa Mandarin oleh Chew Kok Chang.”

Setelah pertemuan Puisi Asean 1978 karya-karya Eka Budianta terbit bersama penyair Malaysia Amzi Yusoff yang diterbitkan di Unioversiti Kebangsaan Malaysia (UKM) di Kota Bangi. Dan selanjutnya sajak, cerpen, esainya bermunculan dalam berbagai antologi dan terjemahan ke dalam bahasa Belanda, Jerman, Perancis, Inggird, Jepang, Finlandia dan Korea Selatan. “Berkat puisi dan cerpen itu pula saya diundang mengikuti International Writing Program, di Amerika Serikat, mulai Agustus hingga Desember 1987,” ujarnya.

Dalam pertemuan sastra tersebut persahabatan antar bangsa kembali terikat ada sekitar 50 negera yang tergabung dalam International Writing Program. Sastra sebagai jembatan pertemuan antar bangsa menurut Eka, pertama sastra menjadi jembatan pertemuan karena isinya, tema pokok dan substansinya. “Seperti kita lihat bagaimana Shakespeare menampilkan beragam tokoh, hitam dan putih, keras dan lembuat, dungu dan bijak, dan seterusnya. Kita melihat manusia dan keberagamannya membuat sastra menjadi jembatan pertemuan antar bangsa,” Penyebab kedua karena kepntingan bahasa dan latar belakang kebudayan. Karya sastra diajarkan karena perbedaan kultur serta bahasa yang dipakainya.

Sastra akan berhasil menjadi jembatan jika sanggup menyumbangkan persepektif baru. Hal ini banyak dicapai oleh para penulis perempuan, kerana mereka berani menembus batas-batas, larangan dan tabu dalam berpikir, berbahasa, berkomunikasi, membuat karya sastra pantas menjadi jembatan pertemuan antar jender, antar bangsa, antar budaya, dan antar manusia.

Kedalaman cinta kepada sesuatu, seseorang atau sebuah konsep juga membuat karya sastra menjadi jembatan pertemuan. Hak ini dapat dilihat pada kecintaan Andrea Hirata kepada gurunya, kampong halamannya, teman-temannya. Melalui serial Laskar Pelangi, ia mempertemukan berbagai kerinduan dan perhatian masyarakat pada dunia pendidikan. Hal ini tidak sebatas hanya pada kampong halaman dan tanah airnya, tetapi juga dirasakan di tempat-tempat lain.

Penyebab kelima sastra sebgai jembatan pertemuan adlah karena ajaran agama. Sastra juga berkembang sebagai sasrana untuk berbagi isi hati yang dituntun relijiusitas, kebutuhan untuk berketuhanan dan peri-laku hidup beragama. Dalam banyak contoh kita dipertemukan oleh pemikiran maupun ekspresi-ekpresi keagamaan dan rerijiusitas karya-karya Khalil Gibran, Paulo Coelho, Emha Ainun Najib, Anad Krisna, Herman Hesse dan lain sebagainya.

Eka manambahkan, tidak sukar mencatat dan menunjukan betapa pentingnya sastra berperan sebagai jembatn pertemuan antar bangsa. Sekarang jembatan itu harus semakin diperkukuh, diperbanyak dan diperindah. Caranya, bukan hanya dengan membahasnya, tetapi terutama dengan melakukan lebih banyak dialog, lebih banyak memahami, memperkaya, dan meningkatkan kesediaan kita untuk menyukai berbagai budaya, mempelajari berbagai bahasa.***

29 Dec 2011