YS Rat
http://www.analisadaily.com/

DUA tulisan, Bila Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin? oleh Hasan Al Banna dan Sastrawan tak Ditentukan Usia oleh Budi P Hatees, dimuat bersamaan di Rubrik Rebana (Analisa, Minggu, 26 Februari 2012). Sebagai pemicu jelas, tulisan saya berjudul, Menjadikan Jelas “Kelamin” Sastrawan Pemula di rubrik dan surat kabar sama (Minggu, 12 Februari 2012).

Bermula dari niat sekadar mengabarkan sejumlah perbedaan kondisi yang mempengaruhi dan kebiasaan antara para pemilik bakat sastrawan dekade 1980-an, hingga menjelang akhir 1990-an. Demikian pula mereka yang mulai bergiat pada tahun 2000-an serta sekadar saran yang sebaiknya dilakukan, dugaan akan munculnya reaksi tak pernah melintas di benak penulis. Terutama yang diarahkan terhadap sepenggal saran, para pemilik bakat sastrawan hendaknya juga merasa perlu memiliki “kelamin” yang jelas, dalam artian pada masa-masa awal berkarya tak sekaligus merangkap mencipta puisi dan cerpen misalnya.

Baik terhadap tulisan Bila Sastrawan Pemula Menentukan Kelamin? oleh Hasan Al Banna, maupun Sastrawan tak Ditentukan Usia oleh Budi P Hatees. Berkenaan dengan tanggapan dan pendapat mereka mengenai saran penulis hendaknya para pemilik bakat sastrawan merasa perlu memiliki “kelamin” yang jelas, sama sekali tak sepatutnya penulis tak membenarkannya.

Sekadar jawaban dan penjelasanlah yang hendak penulis torehkan dalam kesempatan ini. Pada tulisan Hasan Al Banna, dia mengajukan pertanyaan di antaranya; apakah sastrawan muda baru boleh menunaikan kreativitas menulis puisi dan cerpen sekaligus kalau masa awal kepenulisan sudah berlalu? Ah, bagaimana menentukan ukuran waktu yang dibutuhkan sastrawan muda untuk dikatakan sudah melampaui batas masa awal kepenulisan?

Jawan terhadap pertanyaan pertama sebenarnya telah tergambar dalam bagian akhir dari tulisan, Menjadikan Jelas “Kelamin” Sastrawan Pemula, pada kalimat; …, selain semangat berkarya, hendaknya mereka juga merasa perlu memiliki “kelamin” yang jelas.

Penggunaan kata hendaknya, bukan hendaklah, memperlihatkan apa yang penulis kemukakan sekadar saran. Sama sekali tak dimaksudkan hanya membolehkan sastrawan muda menulis puisi dan cerpen sekaligus setelah masa awal kepenulisannya berlalu.

Oleh karena tak dimaksudkan hanya membolehkan sastrawan muda menulis puisi dan cerpen sekaligus setelah masa awal kepenulisannya berlalu, terhadap pertanyaan bagaimana menentukan ukuran waktu yang dibutuhkan sastrawan muda untuk dikatakan sudah melampaui batas masa awal kepenulisan, tak perlulah penulis menjawabnya.

Budi P Hatees dalam tulisannya berjudul, Sastrawan tak Ditentukan Usia, antara lain menulis; Setelah membaca tulisan YS Rat, saya tak menangkap adanya variabel tentang konsep pemula itu. Apakah pemula yang dimaksud berkaitan dengan variabel usia seseorang atau usia keterlibatan seseorang dalam dunia kreativitas berkesusastraan. Tentu, YS Rat perlu membuat uraian perihal ini.

Jika yang dimaksud adalah usia keterlibatan dalam berkreativitas di dunia kesusastraan, maka kita bisa mengelompokkan YS Rat ke dalam pengagum cara berpikir usang atau konservatif dalam melihat kreativitas berkesusastraan. Sampai awal dekade 2000-an, para pendatang baru di dunia kreativitas berkesusastraan diremehkan dengan menyebut mereka sebagai pemula.

Pada alinea kesebelas tulisan Menjadikan Jelas “Kelamin” Sastrawan Pemula, penulis memaparkan; Sakadar data selintas, tercatat sedikitnya ada puluhan nama pengisi rubrik budaya/seni surat kabar, yang rata-rata kelahiran Sumut tahun 1980 ke atas dan karyanya mulai dipublikasikan tahun 2000-an. Di antaranya masih terus berkarya, sebagian lagi hanya beberapa kali karyanya dimuat di surat kabar.

Di bagian itu sangat benderang penulis mendahulukan, …rata-rata kelahiran Sumut tahun 1980-an ke atas… daripada, …karyanya mulai dipublikasikan tahun 2000-an. Ini menggambarkan, di antara mereka ada yang karyanya pertama kali dipublikasikan malah bukan tahun 2000, tapi sangat mungkin baru dalam tahun 2011. Dengan demikian, jelaslah sama sekali penulis tak mempermasalahkan usia keterlibatan seseorang dalam dunia kreativitas berkesusastraan sebagaimana dugaan Budi P Hatees.

Dalam tulisan itu pun jelas tak penulis ada menyatakan, sampai awal dekade 2000-an, melainkan tahun 2000-an. Makna daripadanya jelas berbeda dengan sampai awal dekade 2000-an yang dikemukakan Budi P Hatees.

Tahun 2000-an merupakan rentang waktu bermula dari tahun 2000 hingga 2099, sedangkan sampai awal dekade 2000-an berarti cuma sebatas tahun 2000, hingga 2001. Jadi, tak benar ada peremehan terhadap para pendatang baru di dunia kreativitas sastra karena tak sekali pun penulis membuat pembatasan sampai awal dekade 2000-an.

Lantas, siapa melarang sastrawan “berkelamin” ganda? *

/04 Mar 2012

Categories: Esai