Teks Seperti Seks

Hasan Junus
http://www.riaupos.co/

Kesenangan pada teks sebenarnya seperti kesenangan pada seks. Keduanya sama-sama merupakan kenikmatan yang dapat membangkitkan gairah hidup. Kalau seks dimainkan secara alami pada muaranya akan mencapai orgasmus badani; kalau teks dihadapi dengan cara memainkannya secara sungguh-sungguh ia akan membawa orang sampai pada orgasmus intelektual. Baik seks maupun teks pada hakikatnya sama-sama merupakan penghidangan. Ada dua macam kesenangan atau kenikmatan biasa yang disebut ‘plaisir’ dan yang kedua kenikmatan puncak yang dinamakan ‘jouissance’.

DEMIKIANLAH kira-kira pendapat kritikus sastra Perancis Roland Barthes. Setidak-tidaknya hal itu tertera dalam salah-satu bukunya Le Plaisir du texte (1973; Keseronokan Teks) sehingga secara berseloroh ada seorang pakar ilmu sastra yang menyarankan agar membaca judul buku itu sebagai Le Plaisir du sexe yaitu Keseronokan Seks. Menarik, bukan? Logika selanjutnya bisa menjadi; kecuali kalau Anda tak menyukai seks maka bisa saja Anda tak menyukai teks.

Menurut Barthes ada dua macam kesenangan atau kenikmatan yang senantiasa dirasakan manusia; pertama, kenikmatan biasa yang disebut plaisir. Kedua, kenikmatan puncak yang dinamakan jouissance. Untuk mencapai jouissance pembaca dapat bebas merdeka mendekati teks dari arah mana saja yang disukainya, seperti halnya pendekatan seks bagi mereka yang tak terikat aturan akhlak yang ketat. Lalu terjadilah permainan bebas dalam menggauli teks. Hasil pergaulan yang bebas (ingat pula dengan seks) inilah tercapainya jouissance atau orgasmus intelektual. Tak heran kalau Barthes lalu berkata bahwa baginya bahasa itu cabul-lucah dan karena itulah aku kembali padanya (For me, language is obscene, and that is why I continually return to it).

Namun bukan cuma Rolland Barthes yang menekankan seks sebagai saingan teks. Michel Foucault juga dalam karyanya 3 jilid Histoire de la sexualite (1976-84) memaparkan tentang sikap Barat terhadap seksualitas sejak zaman Yunani Lama. Dalam bukunya itu Foucault menyatakan, seksualitas merupakan produk kekuasaan yang jauh lebih positif daripada kekuasaan yang menekan seksualitas. Dulu pada Abad Pertengahan dan sekitarnya seksualitas cuma masalah tubuh. Pada awal abad ke-20 wacana seks menjadi masalah ilmu. Wacana modern tentang seksualitas dikokohkan dengan munculnya psikoanalisa. (Lebih jauh tentang buku ini lihat Madan Sarup, An Introductory Guide to PostStructuralism and Postmodernism, The University of Georgia Press, Athens, 1993, hlm. 71-72).

Siapa Barthes?
Roland Gerard Barthes lahir di Cherbourg (Perancis), 12 November 1915 dan meninggal-dunia di Paris pada 26 Maret 1980. Karya-karyanya Systeme de la mode (1967), L’Empire des signes (1970) berpengaruh pada bidang-bidang linguistik, psychoanalisa dan antropologi modern. Tulisannya tentang semiotik yang menumpukan perhatian pada lambang-lambang dan tanda sebagaimana dirintis Ferdinand de Saussure telah banyak sekali membantu bangunan intelektual yang penuh dengan gegap-gempita pada abad ke-20 terus bergerak sampai ke akhir abad.

Sejak 1970 teori-teori Barthes sudah sangat berpengaruh bukan saja di Perancis tapi juga di sekotah Eropa dan AS. Karya “otobiografi”nya yang terkenal sekali berjudul Roland Barthes par Roland Barthes (1975; terjemahan bahasa Inggeris: Roland Barthes by Roland Barthes) dan Fragments d’un discours amoureux (1977; terjemahan ke dalam bahasa Inggeris: A Lover’s Discourse) berisi antara lain kepedihan peristiwa cinta.

Beberapa koleksi tulisan-tulisan yang terbit secara posthumous termasuk A Barthes Reader (1982) dan Incidents (1987). Ada pula catatan yang memberitahu pembaca tentang sikap homoseksualitas Barthes. Namun seorang penulis Malaysia, A. Rahim Abdullah, bertanya seperti yang disampaikannya pada tulisan “Kesusasteraan Bandingan: Menempatkan Sastra Melayu dalam Kontinum Sastra Dunia” dalam Abdul Ahmad, Kesusasteraan Bandingan Sebagai Suatu Disiplin (Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1994, hlm. 5).

Adakah takrif teks sastra Melayu sejajar dengan takrif yang dibuat Roland Barthes –sesuatu yang amat simbolik– sehingga kita mampu melihat perbedaan yang jelas antara karya dan teks?

Sedangkan penulis Malaysia yang lain, Zawiah Yahya, menyatakan pada tulisannya “Budaya Tempatan Sebagai Sistem Perlambangan untuk Menginterpretasi Sastera Kolonial” dalam S Jaafar Husin, Pengantar Kesusasteraan Bandingan (Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia, Kuala Lumpur, 1994, hlm. 109) menyatakan bahwa “Barthes memberi kuasa kepada pembaca untuk melahirkan makna dengan ‘membuka’ teks pada permainan koda yang tidak terbatas.” Perkenalan selintas dengan Roland Barthes ini seyogianya dapat membuka jalan mengenal lebih jauh pemikiran orang yang telah mempengaruhi secara luas parohan terakhir abad ini. Bagi para pengarang, berkaryalah dengan pesona yang menggairahkan, menciptakan teks yang menarik seperti seks. Barangkali hanya orang tak memerlukan seks sajalah yang tak menghiraukan teks.***

18 Maret 2012