Ubud Festival 2011 Berlaku pada Diri Sendiri

Saut Poltak Tambunan
http://www.analisadaily.com/

Pasca terror bom pertama di Bali tahun 2002, berbagai upaya digegas untuk recovery. Di antaranya, nama Ubud tiba-tiba mencuat dalam khasanah sastra internasional. Ubud, kota kecil sebelah utara Denpasar itu sejak tahun 2004 menjadi ajang festival sastra bergengsi setiap tahun, hingga mendapat predikat sebagai ‘Among the Top Six Literary Festival in the World’s’ dari Harper Bazaar, UK.

Perhelatan akbar sastra Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2011 digelar tanggal 5-10 Oktober 2011. UWRF ke-8 ini diramaikan 132 pengarang dari hampir 30 negara. Mencerahkan, karena sekurang-kurangnya 36 pengarang di antaranya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Putu Wijaya, Andrea Hirata, Djenar Maesa Ayu, bahkan praktisi hukum Todung Mulia Lubis tampak hadir dalam beberapa sessi.

Sayangnya tak satu pun pengarang dari Medan atau Sumatra Utara. Padahal terbayang andai festival semacam ini diadakan di sekitar Danau Toba, misalnya di Cootage Toba Tabo Tuktuk Siadongan. Bukankah Medan pernah menjadi kiblat sastra di negeri ini?

Para penulis berbaur dengan ribuan partisipan yang datang atas inisiatif sendiri. Berbagai sessi diselenggarakan selama 6 hari pada 40 lokasi di kawasan Ubud. Hotel, cafe, museum, restoran, puri, villa, bale banjar, sekolah dan Universitas Udayana berubah menjadi ruang sastra bagi para penulis, budayawan, penikmat sastra dunia serta jurnalis. Hangat dalam debat-diskusi, performance and exhibition, film screening, literary feast, workshop, book launches, poetry slam, story telling dan lain-lain.

UWRF 2011 mengusung thema “Nanduring Karang Awak: Cultivate the Land Within”, diangkat dari puisi Geguritan Salampahan Laku karya sastrawan Bali abad ke-20, Ida Pedanda Made Sideman. Thema ini sangat relevan dengan krisis global kesetaraan dan kerukunan yang berkeadilan. Bertanam pada diri sendiri, tetap optimis menandur kebajikan dan menyemai ketulusan dalam menggali potensi diri sendiri. Dalam konteks yang lebih luas menggagas gegas pada kearifan lokal ketika hukum dan moralitas kekinian tak lagi menjamin rasa adil dan damai.

Sejak 2008 UWRF telah menerbitkan empat antologi bilingual karya para penulis terpilih Indonesia, Reasons for Harmony (2008), Compassion and Solidarity (2009), Harmony in Diversity (2010). Untuk tahun 2011 UWRF menerbitkan antologi dengan judul sesuai thema: Nanduring Awak Karang, Cultivate The Land Within. Buku ini memuat petikan novel, essay, puisi, drama dan cerpen karya 17 pengarang Indonesia: Alan Malingi, Arafat Nur, Avianti Armand, Ida Ahdiah, Jaladara, Komang Ariani, Pinto Anugerah, Ragdi F Daye, Rida Fitria, Sandi Firly, Sanie B Kuncoro, Satmoko Budi Santoso, Saut Poltak Tambunan, Wahyu Arya, Budy Utamy, Fitri Yani dan Irianto Ibrahim.

Antologi ini dibiayai bersama oleh UWRF dan HiVOS, sebuah NGO nirlaba asal Belanda yang memandang seni dan budaya punya peran kunci dalam pembangunan demokrasi dan masyarakat pluralistis. HiVOS mendukung UWRF sejak 2007 dan membuka kesempatan kepada para pengarang Indonesia untuk masuk tataran sastra internasional.

Janet De Neefe (Festival Founder And Direction) serta Kadek Purnami (Community Development Manager UWRF 2011) adalah dua nama yang sudah akrab dengan peserta sejak awal seleksi. Bersama Drs. Ketut Suardana, M. Phil (Chairman Mudra Swari Saraswati Foundation) serta ratusan peninjau dari berbagai negara, media nasional dan internasional, para volunteer lokal dan asing serta dukungan masyarakat adat Ubud, sukses mengemas festival dalam kesetaraan yang hangat.

Tidak seluruh penulis yang diundang menyandang predikat ’kelas dunia’, sebagian justru berasal dari kelas ‘emerging’, apalagi kebanyakan pengarang dari Indonesia belum memiliki karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Justru itulah differensiasi festival ini. Terciptanya kesetaraan proporsional membuat semua peserta festival segera akrab bersapa serta berdebat-diskusi di cafe dan sudut-sudut ruang diskusi.

Aroma sastra terbuar di seluruh kawasan Ubud. Meski – kecuali Sapta Nirwanda, Dirjen Promosi Wisata Budaya Pariwisata RI yang hadir membuka festival secara resmi, tidak terlihat kehadiran peran pemerintah.

Di telapak jagad Ubud kita ditating setara. Bersila sama rendah menengadah sama tinggi. Tak penting kau berarah dari benua kelingking atau jempol, jari tengah telunjuk atau jari manis. Sungguh di sini dunia tak berdinding apalagi berpintu. Mawar bermekaran tak berduri, lebah menyarung sengat, singa menyusut taringnya.

Di telapak jagad Ubud kita mengasah aji Nanduring Karang Awak – bertanam pada diri sendiri, menandur kebajikan meladang ketulusan. Di bawah langit yang sama kita semai asa bahwa kelak akan tiba masa menuai damai dengan bernas terbaik. Tak perduli kau berlain ragam warna bentuk raga dan tutur bahasa.

Di telapak jagad Ubud kita menari dalam kidung yang sama. Bersulang kita me’lissoi’ – mengguncang, hingga larut endapan kepelbagaian. Gilirganti kita lantun menjadi syair dan irama. Tak ada pesta tak bersudah. Sayupkan saja salam perpisahan itu, mari berlupa kita segera akan berjarak. Lalu biarkan dian ini terus bernyala.

Ubud, Menandur Kebajikan Meladang Ketulusan. /20 Nov 2011