Sastrawan tak Ditentukan Usia

Budi P Hatees
http://www.analisadaily.com/

Apakah ada yang salah jika seseorang bisa menulis sajak, cakap menulis cerpen, cerdas menulis esai sekaligus piawai menulis naskah drama? Tentu saja tak ada yang salah, jika seorang penyair juga bisa menulis cerpen atau sebaliknya. Itu lumrah adanya.

Tentu, tidak sedikit manusia seperti itu di dunia ini. Seorang Rendra muda, ternyata, sama bagusnya ketika menulis sajak, cerpen dan ketika menulis naskah teater. Bila kemudian Rendra kurang dikenal sebagai penulis cerpen, bukan lantaran cerpen yang dihasilkannya kurang bagus. Begitu juga Sutardji Calzoum Bachri, bukan lantaran cerpen atau esai yang ditulisnya kurang bagus, jika dia lebih dikenal sebagai penyair.

Dalam tulisan YS Rat, “Menjadikan Jelas ‘Kelamin Sastrawan Pemula’” (Analisa edisi 12 Februari 2012), seseorang yang seperti itu -kaya akan talenta kreativitas menulis- dipandang sebagai sesuatu yang “tak jelas jenis kelaminnya”. Dengan kata lain, seorang sastrawan harus jelas pilihan kreativitasnya-saya tak pakai istilah YS Rat soal jenis kelamin itu- apalagi jika masih pemula. Artinya, gagasan yang hendak disampaikan YS Rat tentang jenis kelamin itu semata-mata ditujukan kepada kreativitas para pemula di dunia kreativitas berkesusastraan.

Sebab itu, yang perlu dipertanyakan justru adalah konsep pemula itu. Setelah membaca tulisan YS Rat, saya tak menangkap adanya variabel tentang konsep pemula itu. Apakah pemula yang dimaksud berkaitan dengan variabel usia seseorang atau usia keterlibatan seseorang dalam dunia kreativitas berkesusastraan. Tentu, YS Rat perlu membuat uraian perihal ini.

Jika yang dimaksud adalah usia keterlibatan dalam berkreativitas di dunia kesusastraan, maka kita bisa mengelompokkan YS Rat ke dalam pengagum cara berpikir usang atau konservatif dalam melihat kreativitas berkesusastraan. Sampai awal dekade 2000-an, para pendatang baru di dunia kreativitas berkesusastraan diremehkan dengan menyebut mereka sebagai pemula.

Karena itu, para pemula dibiarkan berproses sendiri, berdinamika sendiri dan kurang begitu dihargai hasil kreativitasnya. Kreativitas para pemula itu tidak mendapat penghargaan, terutama karena dekade awal 2000-an itu, seseorang baru memperoleh status sebagai sastrawan, penyair, atau cerpenis apabila sudah mendapat beatifikasi dari para senior. Ketika itu, dunia kreatif berkesusastraan sangat kuat ditandai senioritas, seolah-olah sastra sangat ditentukan oleh siapa yang lebih dahulu lahir.

Tentu, hal semacam itu menegasikan kreativitas. Menyebut seseorang sebagai pemula merupakan pengaburan sekaligus merusak makna kreativitas. Ini serupa halnya dengan penolakan atas filosofi dunia kreatif itu sendiri sekaligus pengingkaran terhadap dunia ilmu pengetahuan. Kreativitas dalam berkesusastraan bukan mukzizat yang turun dari langit, tapi sesuatu yang bisa diasah dan dikembangkan. Kreativitas berkesusastraan mensyaratkan pentingnya berdinamika, berdialog, dan berkreativitas itu sendiri.

Dengan demikian, tak berlebihan jika dikatakan bahwa kreativitas di dunia kesusastraan (kesenian umumnya) tak ada kaitannya dengan usia muda. Di dalam dunia kesusastraan, yang ada cuma karya bagus.

* * *

Tidak ada yang salah jika seseorang bisa menulis sajak, cakap menulis cerpen, piawai menulis naskah drama sekaligus juga cerdas menulis esai. Setiap sastrawan memiliki dinamikanya masing-masing. Faktor bacaan yang melimpah membedakan setiap sastrawan. Jika seseorang berdinamika sejak awal dengan membaca sekian banyak genre karya sastra, bukan hal yang aneh apabila kemudian ia giat menulis semua jenis genre karya sastra.

Sebuah institusi penerbit buku di Jakarta, sejak lama meluncurkan program yang mencengangkan, Kecil-Kecil Punya Karya, dan telah menghasilkan anak-anak kecil yang berkreativitas di bidang kesusastraan dan meng hasilkan sejumlah buku yang tak bisa diremehkan. Usia muda mereka bukan penghalang bagi anak-anak itu untuk menulis jauh lebih bagus dari apa yang dihasilkan penulis yang lebih tua.

Begitu juga halnya dengan dinamika para mahasiswa di Sumatra Utara dalam dunia kesusastraan. Sejumlah nama yang diabsen YS Rat dalam tulisannya adalah sosok-sosok sastrawan yang dinamikanya pantas dibanggakan. Mereka bisa terus berdinamika di tengah-tengah iklim sastra di Sumatra Utara yang para seniornya masih menganut pandangan konservatif dalam melihat kreativitas semata milik orang tua.

Kreativitas mereka yang menonjol, yang karya-karyanya mampu bicara di luar Sumatra Utara -bahkan ada yang tak pernah muncul di Sumatra Utara tapi sanggup bicara di luar Sumatra Utara- seharusnya menjadi sebuah momentum untuk introspeksi diri. Kenapa mereka sukses tanpa campur tangan para senior?

Banyak karya sastra yang bagus dan dihasilkan sastrawan Sumatra Utara, ternyata, tidak dipublikasikan di Sumatra Utara. Cerpen-cerpen Hasan Al Banna yang paling bagus tidak muncul di Sumatra Utara, misalnya. Artinya, inilah momentum untuk mulai membuang jauh konsep tentang pemula dan bukan pemula dalam dunia kreativitas berkesusastraan. Karena dunia kreativitas tak mengenal usia.

Kreativitas berkesusastraan, apakah dia menghasilkan sajak, cerpen, esai, novel atau naskah drama, sesungguhnya hasil dari mengolah bahasa (kata atau aksara). Penulis adalah orang yang bekerja memakai sarana aksara.

Seorang penyair menolah aksara untuk menghasilkan sajak. Seorang cerpenis menghasil cerpen. Seorang novelis menghasilkan novel. Ketika seorang penyair mengolah aksara untuk menghasilkan cerpen, tentu saja tidak ada aturan yang dilanggarnya. Sama seperti ketika FX Rudy Hartono menghasilkan karya senirupa dengan hanya menata huruf-huruf tertentu, maka tak ada aturan yang dilanggarnya.

Jika seseorang memperbaiki kemampuannya mengolah aksara, lalu menghasilkan bukan saja sajak, tetapi juga cerpen, novel, esai atau naskah drama, tentu saja bukan hal yang mustahil dilakukan. Orang tersebut pada dasarnya bekerja dengan ide juga pengalaman, maka ide dan pengalaman tinggal diolah agar menjadi bagian yang organis dengan karya sastra. Sangat mungkin jika hasil olahan itu justru memunculkan hal-hal baru, semacam strategi-strategi baru teks sastra.

Tidak heran bila akhir-akhir ini dunia kreativitas cerpen mengalami perubahan dengan masuknya strategi teks puisi ke dalam pola penulisan cerpen. Artinya, kepiawaian seseorang dalam menulis sajak, cerpen, esai dan naskah drama akan saling mendukung hingga tercipta karya-karya sastra yang lebih andal.

Akhir kata, bukan usia yang menetukan kualitas karya sastra. Selamat berkarya kepada sastrawan Sumatra Utara dan teruslah berdinamika.

Budi Hatees; sastrawan tinggal di Sipirok. /26 Feb 2012