Cerpen yang Meneguhkan Diri Perempuan

Judul Buku : Perempuan di Kamar Sebelah
Penulis : Chairil Gibran Ramadhan
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : Pertama, Januari 2012
Tebal buku : xvi+200 halaman
Harga : Rp 39.800,-
Peresensi : Khotibul Umam *
http://www.malang-post.com/

Sudah tidak terhitung lagi kasus-kasus yang menempatkan perempuan pada sudut yang terpojokkan. Seperti yang kita ketahui, pada zaman sebelum datang Islam, di Arab sana, perempuan dikubur hidup-hidup itu sudah menjadi kebiasaan yang wajar.

Di Indonesia sendiri, catatan kasus pelecehan terhadap perempuan sangatlah panjang. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perkosaan oleh pacar, orang sedarah, maupun orang tak dikenal, dan lainnya menjadi bukti sahih bahwa kebanyakan perempuan masih belum mendapat tempat yang layak dimata laki-laki.

Menjadi menarik bahwa Chairil Gibran Ramadhan begitu sangat menghargai perempuan. Lewat beberapa antologi cerpennya yang terkumpul dalam buku berjudul “Perempuan di Kamar Sebelah”, dia berdarah-darah untuk berempati dan bersimpati dalam cerpen-cerpennya, dengan cara “mengubah diri” menjadi perempuan demi kedalaman makna.

Buku ini berisi 16 cerpen yang beberapa diantaranya pernah dimuat di media cetak nasional dan internasional. Sebut saja: Menuggu Sepi, Menjelang Subuh, Halte, Kalung, Vonis, Seribu Bintang, Serigala di Tengah Kota, dan lainnya. Semua cerpen Chairil ini merupakan refleksi dari potret kehidupan perempuan Indonesia dengan segala dinamikanya.

Hebatnya, meski antologi cerpen tersebut fiksi, namun hal yang menjadi latarnya adalah fakta. Hampir semua ceritanya dibungkus dalam latar belakang peristiwa bersejarah di Indonesia, mulai dari penjajahan Jepang, peristiwa Malari, Tragedi Tannjung Priok, tragedi DOM Aceh dan Papua, sampai tragedi Mei 1998.

Semua itu merupakan catatan buruk dalam sejarah bangsa ini yang tidak boleh dilupakan begitu saja. Melainkan harus dijadikan bahan perenungan dan pembelajaran bangsa yang sangat mahal tentunya.

Akhir cerita yang bahagia maupun yang menyedihkan, semuanya tetap memiliki satu kekuatan dahsyat di dalamnya, yaitu kekuatan seorang perempuan yang bisa membuat kita terpukau dan akhirnya mengantarkan kita pada pencerahan jiwa.

Oleh karena itu, ada banyak sekali pelajaran yang dapat dipetik oleh pembaca, karena buku yang diepilogi oleh Ibnu Wahyudi ini kaya akan pengalaman dan nilai-nilai kehidupan. Bagi para pembaca perempuan, semoga bisa terbantu menemukan kekuatan diri dan mampu memahami kelemahan diri, sehingga dapat terpacu untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Adapun bagi para pembaca laki-laki, semoga bisa lebih bisa untuk memahami dan menghargai perempuan dengan segenap kekuatan dan kelemahan yang dimiliki. Karena seperti yang dituliskan dalam sebuah lagu: Karena wanita ingin dimengerti.

*) Khotibul Umam, Penerima Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) Kemenag di IAIN Walisongo Semarang. /11 Februari 2012