Dead Poet Society*

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Puisi adalah sebuah tradisi. Ada kesepakatan publik tentang materi yang bisa menyandang identitas sebagai puisi. Bukan asal materi bisa disebut puisi, lebih jauh atau lebih lanjut, tidak setiap jalinan materi memungkinkan disebut puisi cerdas.

Sebuah rakitan kata yang membentuk pengetahuan adalah puisi. Kata-kata yang pada mulanya telah menyandang makna literal, dipekerjakan dan difungsikan hingga sampai pada tataran wacana. Ini kerja yang mirip adonan makanan, bahwa makanan dibentuk oleh seperangkat makanan lain yang diaduk dan diperolah. Parsialitas makanan dari puisi adalah kata.

Pada sebuah puisi, kata-kata mengalami metamorfosis, saling membentuk diri dan bercakap-cakap sehingga memiliki multi makna. Kata dalam makna literal, dan kata dalam makna puisi. Keduanya bisa jadi bertentangan, tetapi tetap dalam satu gambar. Gambar kata, sebuah jalinan abjad, atau karakter bunyi, kumpulan artikulasi, merujuk kepada informasi makna.

Penyair memproduksi makna melalui kata-kata. Pembaca memproduksi makna melalui kata-kata. Penyair dan pembaca dipertemukan dalam ruangan kata-kata. Segalanya ada pada kata-kata. Akhirnya, bagaimanakah membentuk bahasa puisi yang bisa mentransfer pengetahuan penyair kepada pembaca.

Sebelum ke puisi, kiranya perlu dimulai dari pola kerja yang universal, ialah bahasa. Ketika seseorang mengabarkan benda bernama buah apel, rakitan kata-kata mesti dapat membentuk keidentitasan buah apel. Tentang warna-warnanya, tentang bidang-bangunnya, tentang kecapannya di lidah, tentang cara mengapresiasi, bahkan tentang kebiasaan orang-orang tertentu terhadap buah apel. Gambaran yang sama tentang buah apel, antara pembaca dan penyair, merupakan syarat keberhasilan bahasa.

Kisah tentang penggambaran buah apel, mungkin terlalu mudah diaplikasikan. Kesulitan muncul apabila tugas bahasa menginformasikan sesuatu yang bersifat abstrak. Misalnya jalur-jalur kemungkinan, pertimbangan, dan pilihan sikap dari kinerja pikiran. Seseorang punya sikap hidup, bagaimana sikap hidup tersebut dapat terpresentasi dalam bahasa. Juga tentang waktu. Sanggupkah bahasa mengidentifikasi waktu.

Ada semacam ungkapan, penulis mendapatkannya dari cerpenis asal Surabaya, S. Jai, “banyak orang memiliki gagasan besar, dan sedikit orang yang mampu menuliskan kebesaran gagasannya”. Orang lain tidak bisa mengetahui gagasan besar seseorang oleh sebab bahasa yang diungkapkan tidak mengabarkan kekuatan gagasan besar. Bahasa dengan gagasan besar sama seperti puisi yang cerdas. Tidak saja secerdas penciptanya, penyair, malah lebih cerdas lagi.

Puisi yang lebih cerdas dari penyair lahir dari kenyataan “kesamaan informasi antara pembaca dan penulis adalah mustahil”. Perihal keterbatasan potensi rakitan kata. Kata-kata atas dasar pengakuan Jorge Luis Borges, pengarang dari Argentina, “kata-kata telah terkutuk untuk selalu mengkhianati penulis”. Kata-kata senantiasa menambah-reduksi pemahaman yang diproduksi penulis.

Puisi cerdas, lebih cerdas dari penyair, memanfaatkan sifat keterkutukan kata-kata. Keterbatasan kata-kata justru dipakai untuk menginformasikan pemahaman yang jauh melebihi pemahaman penyair. Kata-kata dieksplorasi agar melampaui kapasitas literal. Satu rangkaian kata-kata dapat secara serentak menginformasikan aneka hal, sungguh dilematis, yang penyairnya pun tidak tahu.

Pertanyaan sederhana perlu disorongkan kepada prestasi puisi cerdas. Mengapa kata-kata menjadi sedemikian berbinar, menyeruak ke wilayah-wilayah yang asing. Adakah sesuatu, semacam metode, yang terselip dalam tubuh puisi tersebut. Apakah resiko puisi cerdas.

Puisi diklaim cerdas tentu karena berpotensi menjelajahi banyak tema, gemar mengarungi lautan pokok persoalan. Sikap atas tema pun berlain-lainan. Karakter kata-katanya inspiratif. Ini merupakan batasan yang ambigu, sangat mungkin, alasan-alasan lain dapat disodorkan, dan alasan tersebut dapat dimaklumi akal.

Tapi perlu ditengok puisi “Meditasi” dari Acep Zamzam Noor. Angin itu hanya duduk-duduk di halaman. Merenungi bunga-bunga. Musik hanya lewat. Juga waktu. Larik-larik puitik Acep terasa menyentuh kepekaan indrawi. Benda-benda abstrak menemukan bentuk visual yang konkret. Angin yang duduk-duduk, musik lewat, juga waktu. Mata seakan melihat benda-benda bergerak. Menyaksikan benda-benda berperilaku layaknya manusia. Pembaca ditantang memproduksi makna dari waktu karena bentuk waktu telah dikonkretkan Acep.

Perlu ditengok pula puisi “Tetua Kampung” dari W. Haryanto. Kami seperti desah pohon, pohon yang mencari hidup, di udara, hidup yang berbiji, kepura-puraan, sejarah yang lain, keyakinan kami begitu mengejutkan, membuat gerimis berhenti. Rakitan kata-kata W. Haryanto telah menciptakan konteks bagi sesuatu yang laten pada diri manusia: kepura-puraan. Penciptaan konteks tersebut menjalin komunikasi antara puisi dengan pembaca. Artinya, pembaca sebagai “manusia umum”, manusia yang tidak mungkin terbesas dari sifat “pura-pura” merasa terlibat dalam puisi. Pengalaman puisi, semula milik penyair Haryanto, bergerak menjadi pengalaman pembaca.

Lain Acep, lain W. Haryanto, lain pula puisi Kriapur dalam menjalin komunikasi dengan pembaca. Pada puisi berjudul “Aku Ingin menjadi batu di Dasar kali” terdapat pengucapan yang bersifat kultural. Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan. Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu – Yang mati terkapar di sangkar-sangkar pedih waktu. O, aku ingin jadi batu di dasar kali. Menanti datang saat abadi.

Perulangan puisi Kriapur, ditandai dengan kata pembuka yang, mengingatkan kepada bentuk perulangan mantra. Pola pengucapan yang khas, berulang-ulang, untuk mencapai situasi transendental. Perulangan pun semakin dipertajam dengan ucapan “O”. Sebuah sentakan yang membuat situasi semakin magis. Sama seperti bentuk pengucapan orang bersembahyang. Artinya, Kriapur telah mereproduksi pola-pola pengucapan yang telah ada dalam masyarakat untuk mendekatkan diri dengan pengalaman pembaca.

Dari ketiga hasil karya ketiga penyair di atas, dapat disodorkan pula tiga cerapan karakter puisi cerdas. Pertama, greget tubuh artinya rakitan kata mampu menyentuh keindraan manusia. Panorama yang dapat dibau, didengar, ataupun dicecap lidah. Gagasan menjadi mudah diterima ketika pembaca sudah meresponnya melalui keindraan. Kedua, greget kemanusiaan artinya jalinan kata-kata memasukkan unsur-unsur laten dalam kejiwaan dan perilaku manusia. Semisal rasa sedih, kesepian, ketakutan, penmgkhianatan, kerinduan, ataupun kepura-puraan. Tugas penyair tinggal memberi konteks atas kejiwaan manusia tersebut. Pertaruhannya terdapat pada “subyektivitas sikap” sekaligus “konkretisitas peristiwa”. Ketiga, gramatik tradisi artinya penyair meminjam ungkapan atau pola bahasa yang telah ada dalam tradisi. Entah tradisi pada intern puisi maupun ekstern sastra. Misalnya Kriapur yang meminjam pola mantra. Cukup banyak pola bahasa dalam masyarakat. Kesemuanya dapat diadopsi dalam puisi. Kelisanan di Indonesia dikenal amat beragam, di sini penyair bebas menggunakan pola bahasa Indonesia dengan karakter Sunda, Jawa, atau Batak. Bahkan, penyair dapat saja menggunakan slank atau kreol.

Banyaknya adopsi pada puisi, sedangkan tujuannya bukannya adopsi tersebut, membikin karya puisi sebagai karya yang multimateri. Nasib buruk menimpa materi yang diadopsi. Bila materi adopsian diandaikan sebagai sebuah struktur maka struktur tersebut dipakai bukan untuk tujuan yang sebenarnya. Struktur dipinjam untuk menjelaskan atau menarasikan hal lain. Misalnya pola mantra dipinjam bukan untuk memantrai roh sebagaimana para dukun, tubuh disinggung bukan untuk menjelaskan tubuh. Peminjaman dipergunakan untuk melangkah sampai kepada hal-hal yang jauh lebih besar dari kapasitas sebenarnya. Struktur pun runtuh. Batas-batasnya telah di-tebas oleh puisi. Struktur diperkaryakan sehingga kehilangan karakter-karakter utamanya.

Kinerja puisi ini menjadikan posisi kata bukan lagi literal. Kata menjadi metafor. Kecerdasan puisi pun beralih kepada kekuatan metafor. Paul Ricoeur pada buku The Rule of Metaphor (Toronto: University of Toronto Press, 1977, halaman 197-198) Recoeur menuliskan “Kekuatan metafor, tentunya adalah untuk merintis logika baru atas reruntuhan pendahulunya… Lalu dapat saja diusulkan bahwa cara bicara yang kita sebut metafor, yang awalnya dianggap penyimpangan itu, sebenarnya sama dengan yang telah melahirkan segala bentuk ‘medan semantik’. Kekuatan puisi pun terletak kepada daya jelajahnya dalam memasuki banyak tema. Puisi yang mampu merangsang pembaca untuk menciptakan aneka tema dengan aneka sikap atas tema. Itulah puisi cerdas.

Tetap perihal puisi yang kecerdasannya melampaui penyair, ada pengalaman menarik dari penyair yang puisinya pernah dipublikasikan Jurnal Kalam dan pernah juara 1 Peksiminal tahun 2002: Deni Tri Aryanti. Pada suatu ketika, Deni menyelesaikan satu puisi tentang “ironi aku lirik atas realitas”. Puisi telah selesai ditulis, hanya saja judul belum ada. Dalam kebingungan, tanpa sengaja, Deni sedikit menundukkan kepala. Pandangan tertumpu pada stavol (penyelaras arus listrik) buatan Jepang bermerk Yamaguchi. Dan jadilah, kata Yamaguchi dipilih sebagai judul puisi.

Mula judul puisi Deni berupa “iseng’. Perilaku iseng yang cemerlang. Dengan pilihan judul “Yamaguchi”, tentunya berasosiasi pada identitas Jepang, pembaca akan dihadapkan pada beberapa opsi makna. Yamaguchi sebagai tanda hubungan Indonesia dengan Jepang. Mengingatkan pada trauma penjajahan Jepang terhadap Indonesia, meski 3,5 tahun tapi masih berbekas hingga kini. Mengingatkan kepada usaha Jepang untuk membentuk kejayaan Asia Timur Raya. Mengingatkan kepada serbuan produk Jepang ke luar negeri, pun juga Indonesia. Mengingatkan pada Jepang sebagai negara hiper-kapitalis, lebih dibanding Amerika dan Eropa. Puisi Deni Tri Aryanti secara lugas mengakomodasi semua opsi tema melalui konteks atas judul.

Puisi cerdas, bukan puisi yang senantiasa kaku terhadap gagasan penyair. Justru puisi dimaksudkan untuk menjelajahi tema-tema yang penyair belum tentu membayangkan. Bila ini telah tercapai, puisi jadi lebih cerdas dari penyair. Hanya saja, ada penyair lebih cerdas dari puisi. Kata-kata diperlakukan selayak kerajinan tangan. Kasus terjadi pada penyair yang ingin membentuk puisi sebagai bayang-bayang diri. Gagasan berat pun dibebankan kepada kata-kata, lantas puisi tidak lagi bebas meraih banyak medan tema.

_______Studio Gapus

*) Ini merupakan judul film, bercerita tentang pembentukan komunitas yang orang-orangnya ingin bebas dari tekanan aturan-aturan. Salah satu jalan yang ditempuh: puisi.
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/7/