Ironi Negeri Kaya Minyak

Susidarto
http://www.suarakarya-online.com/

Indonesia “ditakdirkan” menjadi sebuah negara yang unik. Di tengah kekayaan hasil tambangnya berupa minyak dan gas bumi, ternyata terus mengalami gejolak yang berkaitan dengan pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM). Seperti dikemukakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), kenaikan harga BBM akan dilakukan apabila kondisi ekonomi nasional cukup berat.

Alasannya, antara lain, untuk mengurangi beban subsidi BBM yang sangat tinggi, karena kenaikan harga minyak dunia yang sudah mencapai 116 dolar AS per barel. Sementara asumsi APBN sebesar 95 dolar AS per barel.

Tentu saja, rencana ini (kenaikan harga BBM dengan mengikuti gejolak harga internasional) membuat masyarakat menjadi resah, pasrah, dan panik. Masalahnya, kenaikan harga BBM akan mendorong harga komoditas lain ikut melambung tinggi, alias terjadi inflasi akibat tekanan harga.

Bagi masyarakat awam, kenaikan harga BBM rasa-rasanya memang sulit untuk diterima akal sehat. Bagaimana negara penghasil minyak harus menaikkan harga BBM-nya di tengah krisis yang masih membelit ini? Masyarakat bingung, apa yang menjadi latar belakang di balik kenaikan BBM?

Inilah pertanyaan yang perlu dituntaskan, agar masyarakat semakin bisa mengerti sesuatu yang melatarbelakangi terjadinya kenaikan harga BBM ini.

Menaikkan harga BBM sebenarnya memang tidak bisa ditunda lagi. Masyarakat harus menelan pit pahit ini, agar “perekonomian” nasional bisa terhindar dari penyakit. Kendati demikian, hal ini tetap sulit untuk dipahami dan merupakan ironi dari sebuah negara penghasil minyak bumi. Setidaknya, ada beberapa hal yang mendasari pemikiran ini.

Pertama, Indonesia merupakan negara penghasil minyak mentah dan hasilnya diekspor. Cadangannya di perut bumi, masih cukup besar. Cekungan-cekungan sumber minyak belum semuanya dieksplorasi (diteliti) secara mendetail, terlebih untuk di eksploitasi (ditambang), masih memerlukan waktu yang panjang. Cekungan-cekungan minyak bumi ini merupakan persediaan yang cukup aman untuk jangka panjang ke depan. Artinya, potensi minyak bumi Indonesia masih sangat besar dan merupakan tabungan masa depan.

Penyelundupan?

Melihat kenyataan ini, kenaikan harga BBM merupakan hal yang aneh bin ajaib. Kalau hal ini terjadi di negara yang tidak memiliki cadangan minyak bumi sama sekali, barangkali masih bisa dipahami. Namun, Indonesia ternyata masih menempuh kebijakan menaikkan harga BBM. Alasan klasiknya untuk meningkatkan pendapatan negara selain juga harga BBM di dalam negeri masih kalah jauh di bawah harga internasional, sehingga menyuburkan berbagai bentuk praktik perdagangan ilegal seperti penyelundupan BBM ke luar negeri.

Kedua, sungguh ironis kalau negara penghasil minyak bumi masih mengimpor minyak matang (BBM) akibat terbatasnya kilang pengolahan minyak milik pemerintah (Pertamina) dan juga production sharing dari para kontraktor asing akibat pembagian hasil yang tidak seimbang. Sementara di saat yang sama, yakni di balik kekurangan pasokan minyak matang (BBM) ini, berbagai bentuk penyelundupan minyak matang (BBM) ke luar negeri, diduga masih sangat subur dan berjalan dengan aman akibat dukungan oknum aparat.

Yang luar biasa, berdasarkan temuan di lapangan, lokasi tempat berlangsungnya penyelundupan BBM ini sangat dekat dengan kantor aparat penegak hukum, yakni kantor kepolisian. Yang lebih sungguh luar biasa adalah keterkaitan antara penyelundupan (berarti kelebihan pasokan BBM) dengan fenomena kelangkaan (berarti kekurangan) yang akibatnya menyebabkan kenaikan harga BBM dalam negeri. Jelas, penyelundupan semacam ini tidak bisa dibenarkan di tengah kurangnya pasokan minyak matang (BBM) dalam negeri.

Ketiga, ironisitas lain yang muncul adalah sebagai bangsa yang dikaruniai berkat minyak bumi yang melimpah, ternyata sangat miskin di dalam strategi manajerialnya. Fenomena kelangkaan BBM yang sering kita alami, dan juga gejolak kenaikan harga BBM yang akan datang, bisa disebut pula sebagai buruknya manajemen pencadangan BBM, sebagai komoditas yang strategis. Negara AS memiliki cadangan BBM untuk satu tahun ke depan. Di Indonesia, dengan konsumen yang demikian banyaknya, cadangan BBM yang disimpan ternyata tidak berbilangan bulan atau tahun, namun hanya untuk beberapa hari. Kondisi semacam ini sungguh amat mencemaskan kita bersama.

Oleh sebab itu, apabila pemerintah berniat menaikkan harga BBM dalam beberapa bulan ke depan, maka harus bisa menjelaskan secara jernih matematika dari komoditas BBM. Selama ini berapa produksi maksimal per hari dari kilang yang ada, tidak begitu jelas, dan juga penggunaannya. Kalau semuanya dibuka secara transparan, maka masyarakat akan bisa berhitung, dan kalau perlu ikut berhemat, agar subsidi BBM bisa berkurang drastis. Sebab, langkah penghematan sejatinya merupakan langkah paling tepat, sembari mencari energi alternatif lain, yang nantinya bisa menggantikan peran dominan minyak dan gas bumi.

Langkah cerdas semacam inilah yang perlu dicermati bersama belakangan ini. Kita semua tidak mau terus-menerus “dikerjain” oleh komoditas BBM, yang sejatinya sudah tidak murni lagi harganya. Maklum, transaksi derivative (pasar komoditas) sudah memberikan peluang bagi para pemilik modal besar tak bermoral (bloodied investor) untuk memainkan harga minyak dunia. Bayangkan, di tengah menurunnya konsumsi minyak seperti sekarang ini, ternyata harga minyak tetap bertahan pada kisaran di atas 110 dolar AS per barelnya. Itu berarti ada sesuatu yang harus dibereskan dengan para komoditas yang sungguh sangat strategis ini. ***

Penulis adalah pengamat ekonomi dan praktisi perbankan. /2 April 2012