Manusia dan Dunia

Asarpin

Kita adalah manusia-manusia yang belum selesai.
–Carlos Fuentes.

Secarik kalimat Carlos Fuentes itu menyempil dalam esainya yang telah diterjemahkan dengan sangat bagus oleh Rizadini dan diterbitkan jurnal Prosa No. 2/2002, dalam sutu paragrap yang menyinggung Octavio Paz….”Kepiatuan masa hidup kita dilihat dalam puisi dan pemikiran Paz sebagai suatu tantangan yang mesti diatasi lewat perubahan terus-menerus dalam pengetahuan manusia, dari semua pengetahuan manusia. Kita belum selesai berpikir, berimajinasi, berakting. Masih ada kesempatan untuk mempelajari dunia; kita adalah manusia-manusia yang belum selesai”.

Fuentes bicara tentang manusia mempelajari dunia, sementara Paz, kita tahu, tidak sedang mewartakan sabda Tuhan menciptakan dunia, melainkan Tuhan mengucap dunia. Tentu saja ada sikap arif dalam kalimat “mempelajari dunia” dan “mengucap dunia” itu, tidak sebagaimana kaum saintis atau filosofis dan aktivis, yang kerapkali terlampau gagah ingin menciptakan dan mengubah dunia yang fana ini.

Puisi, dengan begitu, bisa jadi sebagai hal yang memang tak selesai, sebagaiamana seorang yang terus ingin “mempelajri dunia” dan pada saat yang sama: ingin “mengucap dunia” terus-menerus. Kita teringat pada renungan Rivai Apin dalam sebuah sajak berjudul Dari Dua Dunia Belum Sudah:

Padaku tak usah lagi diceritakan, bahwa ada yang dibawa
Aku hanya bisa menekankan kepala pada papan meja
Buncah oleh itu kata yang belum punya bumi tapi telah
mengejar pula
ke dalam dunia yang belum sudah

Dunia dan manusia. Apakah yang kita bayangkan hari ini? Dari ”manusia belum selesai”, ”tuhan mengucap dunia” Octavio Paz, hingga ”dunia yang belum sudah” Rivai Apin, adakah rahasia yang tersembunyi di situ? Apakah makna kata ”belum sudah” di situ?

Tanpa kosokbalinya, kita mungkin tak memahami arti sesungguhnya dari kata belum, tanpa kata sudah. Namun jika dua kata ini bergandengan, seperti kata belum sudah, apakah yang terbayang adalah rahasia kehidupan?

Ya, memang kita adalah ”manusia-manusia yang belum selesai” tapi tanpa rasa malu masih ”mengejar pula ke dalam dunia yang belum sudah” itu.

__________
*) ASARPIN, lahir di dekat hilir Teluk Semangka, propinsi Lampung, 08 Januari 1975. Pernah kuliah di jurusan Perbandingan Agama IAIN Raden Intan Bandar Lampung. Setelah kuliah, bergabung dengan Urban Poor Consortium (UPC), 2002-2005. Koordinator Uplink Lampung, 2005-2007. Pada 2009 mengikuti program penulisan Mastera untuk genre Esai di Wisma Arga Mulya, 3-8 Agustus 2009. Tahun 2005 pulang lagi ke Lampung, dengan membuka cabang Urban Poor Linkage (UPLINK). Di UPLINK pernah menjabat koordinator (2005-2007). Menulis esai sudah menjadi bagian perjalanan hidup, yang bukan untuk mengelak dari kebosanan, tapi ingin memuaskan dahaga pengetahuan. Sejak 2005 hampir setiap bulan esai sastra dan keagamaan terbit di Lampung Post. Kini telah beristri Nurmilati dan satu anak Kaila Estetika. Alamat blognya: http://kailaestetika.blogspot.com/