Cinta di Ujung Senja

Irwan Kelana *
Republika, 1 Apr 2012

SEJAK awal aku sebetulnya tidak mau datang ke acara reuni ini. Apalagi ketika Muhsin, kawan karibku sewaktu di aliyah dulu, mengatakan bahwa Dini akan datang.

Tapi, Bu Yetty, guru yang paling mengerti tentang diriku, dan kepadanya aku dan Dini sering curhat, memaksaku. “Ilham, datang ya. Ibu kangen sama kamu. Sudah lima belas tahun nggak ketemu,” ucapnya di telepon minggu lalu. Continue reading “Cinta di Ujung Senja”

Bidadari dalam Cahaya Putih

Eko Tunas
Suara Merdeka, 1 April 2012

LARON-LARON beterbangan memburu cahaya, mengepak-kepakkan sayap pada lampu neon di depan rumah orang tua Sanu. Sanu suka karena Monica begitu senang menyaksikan gerombolan serangga bersayap di seputar cahaya putih. Bahkan di mata Sanu, perempuan bermata burung dara itu seperti bidadari berhujan-hujan laron. Tubuh tinggi padatnya seperti menari, saat menggeliat sambil mengebitkan laron kehilangan sayap. Continue reading “Bidadari dalam Cahaya Putih”

Tuhan dari Garis Start hingga Finis

Jannus T.H. Siahaan
http://www.lampungpost.com/

SETELAH K.H. Abdurrahman Wahid menjadi presiden, agama yang hak-hak sipil penganutnya diakui negara, bertambah dengan bergabungnya Konghucu.

Ia melengkapi agama yang sudah lebih awal diakui, seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Tetapi sebenarnya masih terdapat begitu banyak agama “lokal”, yang jumlah penganutnya berkisar di angka ratusan. Sebut misalnya Tolotang, Kaharingan, Waktu Telu, dan lainnya. Continue reading “Tuhan dari Garis Start hingga Finis”

Mengenang Penyair Afrizal

Ribut Wijoto

Sulit dipungkiri, perayaan eksplorasi bahasa puitik pada dekade 1990-an terimbas dari puisi-puisi Afrizal Malna. Selagi para penyair sibuk dengan puisi religius, puisi terlibat (baca: sastra kontekstual), puisi imaji-simbolis, atau puisi kontemplatif; Afrizal mencuat dengan puisi hiperealis. Sebuah puisi yang simpang siur dengan ikon-ikon teknologi, budaya massa, pop, juga kebiasaan masyarakat menghabiskan waktu di super market. Continue reading “Mengenang Penyair Afrizal”

Leopardi

Hasif Amini
Kompas, 07 Mei 2006

TUBUHNYA yang ringkih dan sakit-sakitan sejak kecil membuat ia jauh dari pergaulan orang ramai. Wajah yang buruk (atau tak sebagus yang tampak dalam sejumlah lukisan potretnya) dan rasa percaya diri yang tipis rupanya membuat riwayat hatinya sering ditoreh kegundahan. Ia pun lebih banyak menenggelamkan diri ke dalam lautan buku di perpustakaan milik ayahnya—seorang bangsawan cendekia di kota kecil Recanati, Italia, yang tak cakap mengelola kekayaan keluarga dan telah menyerahkan semua urusan pencaharian kepada sang istri. Continue reading “Leopardi”

Bahasa »