Semangat “Berlayar” Orang-orang Tegal

Akhmad Sekhu *
kompasiana.com/akhmadsekhu

Jangan ngaku sebagai wong Tegal kalau tidak punya KTP bergambar kapal, demikian seorang teman dengan penuh kebanggaan mengatakan hakekat jati dirinya sebagai orang Tegal.

Tegal yang berslogan sebagai Kota Bahari memang wilayahnya persis berada di daerah pesisiran pantai utara, atau disingkat pantura. Mayoritas masyarakat Tegal, salah satunya adalah sebagai nelayan, dan lagu Nenek Moyangku Pelaut pun tidak hanya terdengar gagah tapi juga menjadi ada relevansinya di Tegal karena tidak sekedar dinyanyikan, melainkan juga dilakoni oleh sebagian besar masyarakat Tegal.

Orang-orang Tegal dikenal sebagai orang-orang yang hebat berlayar. Ada yang kapalnya berlayar antar pulau yang masih dalam kawasan wilayah Indonesia, tapi banyak juga yang kapalnya berlayar antar negara, bahkan antar benua dari benua Asia, benua Amerika, hingga benua Eropa.

Menjaga Semangat “Berlayar”

Lalu bagaimana dengan warteg yang bertebaran di kota megapolitan Jakarta? Yang berdagang warteg memang adalah orang-orang Tegal, tapi semangat usahanya untuk tetap “berlayar” dalam arti semangat merantau demi mendapatkan penghidupan yang lebih baik.

Meski “berlayar” merantau, tapi perantau Tegal yang sebagian besar adalah laki-laki tetap melabuhkan “pendamping hidupnya” di Tegal. Maksudnya, ia merantau ke Jakarta, tapi memilih istrinya berasal dari Tegal dan istrinya tetap tinggal berada di Tegal. Sehingga sebulan sekali ia dapat pulang untuk “melabuhkan” kerinduan pada keluarga; anak-istri tercinta.

Maka dari itu, transportasi Tegal-Jakarta bisa berkembang begitu sangat pesat. Dapat dicatat, ada bis Sinar Jaya, Dedy Jaya, maupun Dewi Sri, yang sangat banyak. Transportasi ini dengan “setia” setiap bulan mengantar mereka p-p Jakarta-Tegal. Kesuksesan mengelola transportasi ini membuat penggurus transportasi Tegal-Jakarta kemudian dipercaya oleh Pemda DKI Jakarta untuk mengelola feeder busway. Kesuksesan menjaga semangat “berlayar” orang-orang Tegal adalah kuncinya yang dapat menjadi acuan pengelolaan transportasi ibu kota, bahkan seluruh Indonesia.

Sepertinya hanya orang Tegal yang merantau tapi sedemikian kerapnya sebulan sekali pulang ke kampung halaman. Kalau orang Padang memang dikenal orang merantau, tapi orang Pandang yang merantau baru akan pulang kalau merasa sudah meraih kesuksesan. Orang Pandang berprinsip; pantang pulang sebelum sukses! Tapi orang Tegal setiap bulan pulang, meski belum sukses karena orang Tegal bukan hanya berprinsip; mangan ora mangan sing penting ngumpul, makan tidak makan yang penting berkumpul, sebagaimana orang Jawa biasanya. Tapi juga sebisa mungkin menjaga semangat “berlayar.” Jadi meski merantau tetap selalu dapat meluangkan waktu untuk keluarga.

Meski demikian, orang Tegal yang merantau tetap menjaga makna ritual mudik lebaran. Terbukti, meski pulang sebulan sekali, mereka tetap saja membludak begitu banyak turut arus berdesak-desakan dalam mudik lebaran ke kampung halaman.

Ajang Silaturahmi, Proses Memperbaiki Nasib

Ada perbedaan yang gamblang antara pulang sebulan sekali dibanding dengan mudik lebaran, karena pulang sebulan sekali hanya bermuara pada keluarganya saja, yaitu anak-istri tercinta. Sedangkan mudik lebaran tidak hanya keluarganya, tapi sanak-saudaranya dan handai taulan. Dalam lebaran, silaturahmi sangat penting sekali, karena seperti mengumpulkan tulang-tulang berserakan untuk bersatu, dari keluarga-keluarga kecil kemudian disatukan menjadi keluarga besar, yang biasanya menggelar acara “hahal bi halal.”

Dari pertemuan keluarga besar inilah yang menjadi sumber berkembangnya arus urbanisasi dari Tegal-Jakarta sehingga bisa dipastikan antara arus mudik dengan arus balik tentu selalu lebih besar arus baliknya. Meski tampaknya arus mudik lebih padat sekitar H -3 lebaran, tapi arus baliknya tersebar merata jumlah penumpangnya sampai H +30 lebaran, jadi memang penumpangnya tidak tampak berdesak-desakan, tapi bisa sebulan penuh rata-rata bis ada penumpangnya.

Dalam rentang waktu sebulan itu, mereka dapat berinteraksi antar keluarga lebih lama, untuk intens saling kunjung-mengunjungi. Disini, ajang silaturahmi berkembang menjadi proses memperbaiki nasib. Orang yang sukses “berlayar” mengajarkan cara-cara mencapai kesuksesannya pada orang yang belum atau tidak sukses, bahkan menebar kesuksesan bagi saudara-saudaranya yang belum “berlayar” untuk ikut “berlayar” seperti dirinya agar dapat meraih kesuksesan bersama-sama.

Begitu semangatnya orang-orang Tegal “berlayar” tentu patut kita sambut dengan baik, meski mereka berbuat mulai dari sanak-saudaranya, tapi paling tidak dari lingkungan kecil itu kemudian pelan tapi pasti menyebar ke lingkungan lebih besar. Mereka bagian dari kehidupan kita yang hidup bersama masyarakat, yang semoga, semangat “berlayar” mereka bisa menginspirasi bangsa ini bersemangat untuk bangkit menuju kehidupan yang lebih baik.

*) Akhmad Sekhu, penulis kelahiran Tegal, kini “berlayar” ke Jakarta.
Dijumput dari: http://sosbud.kompasiana.com/2009/10/20/semangat-berlayar-orang-orang-tegal/