Solo dalam narasi hotel

Bandung Mawardi *
http://www.solopos.com/

Alkisah, Hidjo mau meneruskan studi ke Belanda. Seorang pribumi dari kalangan elite di Solo hendak menghirup napas intelektualitas di negeri penjajah.

Hidjo pergi ke Belanda menggunakan alat transportasi kapal. Hidjo harus pergi dulu ke Batavia karena kapal jurusan ke Belanda bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok.

Keluarga dan kekasih turut mengantar keberangkatan Hidjo ke Batavia. Mereka menginap di Hotel Jawa selama sekian hari. Hotel ini menjadi ruang singgah, ruang perpisahan, ruang intimitas keluarga.

Hidjo hampir tiap hari ”selalu berkumpul dengan tunangannya serta orang tuanya yang menginap di Hotel Jawa.”

Petikan kisah itu ada dalam novel Student Hidjo (1918) karya Marco Kartodikromo. Novel ini telah mengisahkan elite, kota, modernitas, keluarga dan hotel.

Sosok Hidjo sebagai representasi manusia zaman modern telah memiliki pengertian hotel sebagai tempat menginap, makan, minum dan berkumpul. Hotel itu menandai modernitas di Batavia.

Hotel juga mengartikan uang, kelas sosial, gaya hidup. Narasi hotel awal abad XX ini mungkin bisa jadi ingatan untuk mengartikan hotel abad XXI.

Sosok Hidjo asal Solo dan Batavia sengaja saya hadirkan untuk jadi tautan atas kebijakan Pemerintah Kota Solo memberikan izin pendirian 19 hotel baru di Solo.

Kabar ini mungkin mengejutkan dengan pengandaian Solo bakal sesak hotel alias kota berlimpahan hotel.

Kebijakan ini berdasarkan dalih atas progresivitas Solo dalam urusan turisme, investasi, politik, olahraga, seni.

Dalih-dalih ini memungkinkan ada angan menarasikan Solo melalui makna hotel. Pemerintah Kota Solo menghendaki agar hotel-hotel baru kelak turut mendefinisikan Solo sebagai kota meeting, incentive, convention, exhibition (MICE).

Persoalan geografis, arsitektural dan fungsionalisasi hotel sejak mula jadi perdebatan. Sebaran hotel baru bakal menimbulkan pelbagai efek: ekonomi, sosial, politik, kultural. Hotel diharuskan sanggup melakukan dialog dengan ekologi kota dan ”mencipta” intimitas resepsi warga kota.

Hotel selalu menggerakkan makna jalan, kampung, pedagang, tukang becak, sopir taksi, turis. Hotel seolah mengandung arti puncak atas perubahan makna kota.

Hotel memang menandai arus modernitas kota-kota di Hindia Belanda sejak abad XIX. Hotel-hotel di Batavia, Bandung, Surabaya, Jogja, Medan dan Makassar dihadirkan untuk meladeni kebijakan kolonial dalam mengonstruksi peradaban kota dan mengembangkan turisme.

Laju pemaknaan hotel itu terus menjadi tanda kota-kota di Indonesia. Kota identik dengan hotel. Pesta, resepsi pernikahan, seminar, pendidikan dan latihan, kongres, digelar di hotel sebagai selebrasi kemodernan dalam pengertian ruang (modernitas) dan peristiwa. Publik mulai akrab dan mengartikan hotel bergantung latar politik, ekonomi, sosial, pendidikan. Abad XX bisa diakui sebagai abad hotel!

Solo ada dalam arus pemaknaan hotel. Kota ini moncer sejak awal abad XX sebagai kota politik, seni, pendidikan, ekonomi. Kita bisa menilik dari sejarah mengenai pertemuan dan ketegangan napas modernitas-kapitalisme dan acuan tradisionalitas di Solo.

Kondisi ini memungkinkan Solo menggeliat dalam tampilan material: jalan, rel, hotel, toko, gedung, sekolah, pasar, bioskop. Solo bergerak menjadi modern. Hotel lekas menandai ada pertumbuhan ekonomi, ekspresi gaya hidup modern, nafsu turisme. Solo sebagai ruang kemodernan memerlukan hotel demi progresivitas harga diri alias citra kota.

Model pemaknaan hotel dan kota ini merupakan salinan dari proyek kolonial dalam ”mencipta” kota-kota modern di Sumatra dan Jawa. Jan Breman dalam Menjinakkan Sang Kuli: Politik Kolonial pada Awal Abad ke-20 (1997) mengisahkan tentang pemodernan Medan melalui industri perkebunan kolonial dan hotel. Medan berubah menjadi kota modern secara drastis disebabkan aliran modal, peningkatan jumlah penduduk dari berbagai etnis, administrasi kolonial dan pergerakan politik nasionalisme.

Ruang historis
Hotel-hotel di Medan mengesahkan agenda politik, identitas, kolonialisme, uang, hiburan, gaya hidup. Oranje Hotel di Medan pernah jadi ruang historis diskusi politik kontroversial. Hotel ini dipilih oleh Indische Bond untuk seruan politis dari seorang anggota parlemen asal Belanda bernama H van Kol.

Laporan dan ocehan tokoh ini menimbulkan perdebatan sengit atas lelakon kuli kontrak di Deli. Nasib para kuli kontrak, kaum kapitalis dan kota diurusi di hotel sebagai ruang (politik) kemodernan ala kolonial.

Hotel di Batavia justru pernah jadi ruang politik melawan kolonial. R Goenawan dalam mengelola Hotel Medan Prijaji di Batavia turut mengembuskan napas Islam dan resistensi terhadap kolonialisme.

Hotel itu jadi ruang propaganda dan semaian gagasan-gagasan politik dalam naungan Sarekat Islam. Hotel itu jadi ikon dari pembesaran jumlah anggota Sarekat Islam (Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, 1997).

Politik kolonial ditandingi dengan gerakan politik melalui pemaknaan hotel. Makna politik ini muncul karena para pedagang bumiputera muslim dari berbagai daerah kerap menginap saat menjalankan bisnis di Batavia.

Hotel sanggup menarasikan anasir-anasir modern tentang kota, politik, ekonomi, nasionalisme.

Hotel-hotel di Jawa pun identik dengan turisme. Achmad Sunjayadi (2011) dalam uraian turisme awal abad XX di Hindia Belanda menemukan ada gairah pendirian hotel-hotel di Jawa berkaitan dengan pamrih turisme.

Hotel menjadi fasilitas pokok untuk mengundang turis menikmati eksotisme Hindia Belanda. Hotel-hotel itu dikelola oleh kaum Eropa, Tionghoa dan pribumi. Makna hotel sebagai dalih turisme terus dianut sampai sekarang.

Solo juga kentara mengartikan diri sebagai kota turisme dengan peningkatan jumlah hotel (berbintang) demi memenuhi standardisasi dan citra diri.

Fragmen historis itu acuan untuk mengangankan nasib Solo bertaburan hotel (berbintang). Kota ini mengakarkan diri ke tradisi tapi lekas terlena di buaian modernitas.

Kemonceran Solo dalam selebrasi politik, ekonomi, seni, turisme memang telah memikat publik di berbagai penjuru Indonesia dan negara-negara asing. Solo pun memerlukan hotel.

Kita jadi mengerti bahwa hotel adalah ruang selebrasi berbagai agenda dan ruang pendefinisian kota. Solo berlimpah hotel tapi produksi makna kota mungkin luput dari publik.

Hotel telah mengubah persepsi ruang, subjek, waktu, peristiwa. Nalar-imajinasi tradisional lekas tergantikan pembatasan, peringkasan, pengecilan, peringkusan. Berbagai agenda bisa dilakukan di hotel tanpa rikuh soal sakralitas, identitas, tradisionalitas.

Hotel sebagai penggerak modernitas telah mengubah dan menggantikan relasi manusia dengan kota dalam kosmologi kejawaan. Hotel itu uang, pakaian, pesta, makanan, ranjang, televisi, kamar mandi. Segala hal dan peristiwa bisa ada di hotel tapi manusia bisa tak ada saat alpa diri. Begitu.

28/12/201
*) Bandung Mawardi Pengelola Jagat Abjad Solo