Strategi Tekstual Pastiche

Ribut Wijoto
http://terpelanting.wordpress.com/

Ketika gagasan tentang puisi telah banyak dituliskan, ketika eksplorasi kata telah banyak dijalankan, dan ketika keragaman bunyi telah banyak dicatat; Apakah seseorang mesti berhenti mencipta puisi?

Terhadap hal ihwal bunyi dan kata, sejarah puisi Indonesia dapat dikatakan masih muda, sekaligus renta. Muda disebabkan usia puisi modern yang belum genap satu abad, terhitung dari munculnya Balai Pustaka. Renta apabila dicermati kegairahan dan keberhasilannya memperlakukan bunyi, dan memperlakukan kata.

Periode tahun 1920-1945, yang biasa disebut angkatan Balai Pustaka dan angkatan Pujangga Baru, melahirkan puisi-puisi yang teramat menghargai rima dan bunyi. Masih berwibawanya bentuk syair, mantra, dan pantun menghasilkan puisi yang berbunga-bunga, erotik, merayu, dan mendayu-dayu. Tercermin dalam karya puisi Sanusi Pane, Sutan Takdir Alisyahbana, Muh. Yamin, Rustam Effendi, dan memuncak pada Amir Hamzah. Pada perkembangan kesusastraan selanjutnya, periode ini kerap dikenang dengan sebutan “periode romantik tradisional”.

Chairil Anwar datang dengan kesan tergesa-gesa, menggebrak, dan angkuh. Periode kepenyairannya, antara tahun 1942-1949, meruntuhkan kode bahasa estetik yang penuh rayuan. Puisi adalah kesederhanaan ungkapan yang menukik dan tajam. Puisi dipahami sebagai “media merenggut perhatian” dan “media anti kompromi”. Maka munculah puisi simbolisme di Indonesia.

Rentang tahun 1950-1966 terjadi gerakan kesusastraan (baca: puisi) yang menegangkan sekaligus menggelikan. Sastrawan (baca: penyair) terkotak-kotak dalam lembaga yang saling bertentangan. Kelompok-kelompok yang mengedepankan ideologi dan estetika masing-masing, tetapi justru para sastrawan tersebut terjebak dalam pola dan bentuk puisi yang seragam. Realisme sosial. Para penyair, entah yang dari LKN, LESBUMI, LEKRA, MANIKEBU, maupun LKK, melalui puisi berteriak terhadap kekuasaan yang kotor dan merindukan pemerintahan yang menghormati hak-hak rakyat. Subagio Sastrowardoyo berhasil dengan cerdas membuktikan kesamaan estetika antara puisi penyair-penyair seperti Taufiq Ismail, Klara Akustia, Bur Rasuanto, Sobron Aidit, dan Rumambi. Keragaman lembaga yang hanya menelorkan keseragaman estetika; realisme.

Seakan menebus kesalahan/ kelucuan perkembangan kode bahasa estetik puisi periode sebelumnya, para penyair periode 1970-an memamerkan keragaman estetik yang menakjubkan. Saat itu, media-media sastra (puisi) ibarat galeri yang menawarkan tumpah-ruah boneka plastik. Rendra memunculkan puisi-puisi balada dan realisme yang jernih. Sekadar menyebut sebagian nama; Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, Sitor Situmorang, Sapardi Sjoko Damono, Abdul Hadi adalah para penyair lirik-simbolik yang memilik keotentikan dan keunikan gaya pengucapan puisi. Sedangkan Remi Sylado dan Emha Ainun Nadjib mempelopori gerakan puisi mbeling, konon mewarisi kegarangan para penyair dadais Perancis pada dekade awal 1900-an. Tetapi, Sutardji Calzoum Bachri, presiden penyair Indonesia, yang paling patut mendapat acungan jempol. Melalui tawaran bentuk puisi mantra, Sutardji mabuk dan menggemparkan benteng-benteng konvensi puisi yang diagung-agungkan para penjaga puisi. Sampai-sampai, A. Teeuw berkomentar “…seandainya karangan ini tidak menyebutkan sajak pada halaman judulnya tidak ada alasan bagi saya untuk membacanya sebagai sajak…” Keberhasilan Sutardji, terutama sekali, melalui usaha “membebaskan kata dari beban makna”.

Peta perkembangan puisi Indonesia, yang singkat tapi teramat padat, dapat dibanggakan sanggup merangkum peta perkembangan puisi yang telah pernah ada di bumi. Tentu dengan beberapa perkecualian. Beragam pengucapan puisi merebak, beragam aliran puisi menyeruak memenuhi dokumentasi apresiasi puisi, bahkan menyesakkan bagi kemungkinan eksplorasi lanjutan. Seakan tiada lagi tempat untuk memunculkan kreasi, segalanya telah ada. Pada kondisi ini, pada kejenuhan gagasan tentang bahasa, gagasan tentang puisi; menulis puisi bisa dianggap tindakan subversif.

1

Tapi, apakah seseorang mesti berhenti menulis puisi? Pastiche hadir sebagai jawaban. Perayaan pengucapan dan semburan kode budaya merupakan ciri puisi pastiche, sebab pastiche adalah strategi tekstual yang memungkinkan pengambilan gagasan atau bentuk-bentuk pengucapan dari teks-teks sebelumnya.

Puisi yang lahir dari campur-aduk puisi-puisi. Menurut Christ Baldick, pastiche adalah karya sastra yang disusun dari elemen-elemen yang dipinjam dari berbagai penulis lain, atau dari penulis tertentu di masa lalu. Yasraf Amir Piliang menambahkan, pastiche merupakan bentuk-bentuk teks atau bahasa estetik dari berbagai fragmen sejarah, sekaligus mencabutnya dari ‘semangat jamannya’, dan menempatkannya dalam konteks ‘semangat jaman’, masa kini.

Begitulah, terbuka kemungkinan mencipta puisi dari kutipan/ penggalan puisi-puisi penyair lain atau penyair masa lalu. Tinggal mengombinasikan, tanpa perlu menambah pretensi apa-apa.

2

Adalah tidak mungkin, seseorang menulis puisi apabila belum pernah mengenal puisi. Pada prinsipnya, seluruh puisi adalah rekonstruksi dari puisi sebelumnya. Jelajah metamorfosa yang mengalami penambahan dan reduksi. Tetapi arogansi penyair menolaknya, para penyair menutupi proses kreatif kepenyairannya dengan istilah-istilah orisinalitas, temuan, ilham, gagasan, bahkan suara-suara bawah sadar. Seolah-olah, puisi yang dicipta begitu saja menyembul dari ketiadaan.

Afrizal Malna, penyair yang dianggap lokomotif pembaharuan puisi era 1990-an, adalah contoh menarik dalam kasus (baca: strategi tekstual) puisi pastiche. Geliat puisi Afrizal mampu mengelabui pembaca/ pemerhati sastra tanah air, sehingga ia dibaptis sebagai penyair gelap ataupun penyair pencipta tradisi. Padahal puisinya dibangun atas rangkaian kutipan pengucapan puisi sebelumnya. Juga rangkaian kode-kode budaya. Para pembaca puisi karya Afrizal banyak yang tercengang dan tergagap-gagap dalam mengidentifikasi dan meraih pemahaman semiotik, pengalaman baca yang tidak sesuai dengan horison harapan, berlainan dengan pengalaman membaca karya puisi penyair kebanyakan. Diksi-diksi dan larik-larik puisi Afrizal seakan pernah dikenali, tapi kapan, dan entah di mana.

Sebuah puisi memang memilih pembaca dari kalangan tersendiri, apalagi pada jaman terkini, realitas pengetahuan telah bergerak semakin menjauh dan spesifik. Satu bangunan fenomena, bisa jadi, terbentuk oleh sekian macam fenomena lain yang saling menumpuk, bersilangan, bertubrukan, dan saling melemahkan. Begitu juga pada teks puisi, ada kesejarahan di belakangnya, ada bahasa yang berlain-lain. Mungkin bahasa yang telah mati (tidak dipergunakan, tidak terdokumentasi), tapi lebih banyak lagi bahasa yang melekat dalam serangkaian konsep dan pola pengucapan masyarakat. Entah masyarakat lisan, entah masyarakat tulis. Penyair menggunakan salah satu bentuk pengucapan dalam kode bahasa estetik puisi. Inilah yang membedakan puisi pastiche dengan puisi konvensional, teks dibentuk oleh campur-baur pengucapan.

MIGRASI DARI KAMAR MANDI

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran dengan kematian dalam pikiran: “Neraka adalah orang-orang lain.” Tak ada yang memberi tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi setelah hari-hari kemerdekaan, di Pekalongan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orang juice tanpa masa lalu di situ, di bawah tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, dan alat-alat pembakar bahasa. Tetapi mikropon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak terduga.

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggalkan dirinya sendiri. Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang lain.

Puisi Afrizal Malna berjudul “Migrasi dari Kamar Mandi”, salah satu puisi dari antologi Arsitektur Hujan (1995) dan disertakan pula pada antologi Kalung dari Teman (1999) bercerita aku lirik bersama tokoh engkau menyaksikan pertunjukan drama Pintu Tertutup karya Jean-Paul Sartre. Dari situlah, narasi puisi dimulai.

Pola narasi seperti itu, Chairil Anwar pernah memakainya dalam puisi “Lagu Biasa”. Puisi yang berkisah aku lirik dan tokoh engkau menyaksikan pertunjukan musik “Ave Maria”. Goenawan Mohamad juga memakai dalam puisi “Di Beranda Ini Angin Tak Kedengaran Lagi”. Atau narasi Iwan Simatupang dalam puisi “Hari Paskah di Vondelpark”. Atau Subagio Sastrowardoyo dalam puisi “Suatu Ketika”. Atau narasi Sitor Situmorang dalam puisi “Pertunjukan Bernarda Alba”. Kesemua puisi di atas dibangun dari narasi aku lirik dan tokoh pendukung yang memertautkan kisah dalam pertunjukan atau tontonan dengan kisah pribadi, atau juga dengan kisah umum yang lebih sublim. Antara realitas pertunjukan (teks lakon) dikaitkan dengan realitas umum, atau pertautan antara persoalan aku lirik dalam pertunjukan dengan aku lirik dalam puisi dan/ atau dengan aku manusia dalam realitas puisi. Artinya, bagaimana seseorang memproduksi komunikasi dengan lingkungannya.

Puisi yang berpijak pada puisi, atau pada karya sastra lain, mengisyaratkan runtuhnya kekokohan realitas sebagai sumber penciptaan. Seseorang bertindak tidak lagi hanya oleh sebab fakta,

Puisi “Migrasi dari Kamar Mandi” memang sangat menonjolkan peran aku lirik. Teks puisi dengan ilustrasi yang khusus (peristiwa khusus) dan dengan penyikapan khusus. Tokoh aku seakan enggan pengalamannya disamai oleh orang lain. Seperti dalam larik /lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu/, /Mereka telah melebihi diriku sendiri/. Model pengucapan yang sering mewarnai puisi gaya ekspresif. Model yang menjadi ciri puisi-puisi Chairil Anwar, tapi selanjutnya umum dipergunakan oleh penyair realisme pada pereode 1950-1966. Pada Chairil menandai sikap keangkuhan-eksistensialis seseorang yang hendak “berperilaku beda” dengan lingkungannya. Pada puisi realis menandai perwujudan aku yang menafsirkan dan aku yang punya pendapat bagi tradisi/budaya bangsa. Pada puisi Afrizal, motivasi kehendak kurang lebih sama dengan puisi-puisi sebelumnya.

Selanjutnya, aku lirik bermetamorfosis menjadi aku publik, meyakini diri sebagai wakil massa. Pengalaman yang dijalani aku dianggapkan dialami pula oleh setiap manusia. Pengalaman aku adalah pengalaman yang universal. Seperti dalam larik, /Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ/, /Migrasi telah kehilangan waktu, kekasihku/. Di sini, puisi berposisi sebagai simbol, sebagaimana layaknya puisi simbolisme. Sejarah puisi di Indonesia banyak dimuati oleh puluhan bahkan ratusan penyair simbolis. Lepas dari karya puisi tersebut berhasil atau gagal, pilihan simbolis Afrizal malna jelas bukan pilihan khusus.

“Migrasi dari Kamar Mandi” juga menyajikan larik-larik yang impresif. Misalnya, /menawarkan manusia mati dalam sejarah orang lain/, /masih merasa heran dengan kematian dalam pikiran/, /orang-orang berbenah meninggalkan dirinya sendiri/. Model pengucapan impresionis kerap dipakai oleh penyair Abdul Hadi W.M, Hartoyo Andangjaya, Sitor Situmorang, dan Sanusi Pane. Keuntungan yang diraih dari pengucapan impresionis adalah adanya kesan mendalam atau penghayatan terhadap kenyataan hidup. Seruan moralitas dan penyikapan hidup yang sangat tidak terbantah, disebabkan sublimasi realitas. Penyair bertindak seolah-olah dirinya nabi.

Ditinjau dari segi penceritaan, puisi “Migrasi dari Kamar Mandi” dapat digolongkan dalam ragam puisi imajis. Kata-kata ditampilkan secara cermat dan efisien sehingga mewujudkan gambaran visual yang konkret. Tercermin dalam larik-larik, seperti; /Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya/, /Lalu aku kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu/, /Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ/. Melalui visualisasi nuansa maupun gagasan, puisi terhindar dari kesan menggurui dan non-alternatif. Pembaca disodori realitas yang nampaknya obyektif, tanpa pretensi, padahal pemunculan siku realitas tersebut mengalami seleksi yang tentu saja tidak kosong provokasi. Semacam, tuturan yang mengarah pada tuntunan. Ragam bahas imajis sering digunakan dalam penulisan berita jurnalistik, lahir dari ketidakmungkinan memperkatakan seluruh penampakan dan kejadian. Misalnya, berita perkelahian antara siswa SMU dengan siswa STM. Tulisan wartawan sangat berperan menentukan pihak yang salah atau yang benar. Cukup dengan menunjukkan, ke arah mana, nuansa atau gambaran kelicikan melekat. Dalam hal ini, segala warna atau gejala tidaklah netral. Misalnya, baju kotor diidentikan dengan ketidakdisiplinan, teriakan dipolitisir sebagai kepongahan, rambut gondrong dianggap penyebab keonaran. Model imajis memenuhi karya puisi Sapardi Djoko Damono, Goenawan Mohamad, B.Y. Tand, atau Rendra pada awal kepenyairannya.

Puisi “Migrasi dari Kamar mandi” mengutip secara utuh kalimat drama Pintu Tertutup karya Sartre, yaitu; “Neraka adalah orang-orang lain”. Kegiatan ini bukanlah hal baru. Jauh sebelum berdiri bangsa Indonesia, ketika raja-raja masih berkuasa, bentuk puisi yang dikenal hanyalah mantra. Pada mantra itulah, kalimat-kalimat kitab sering dikutip secara utuh. Juga ketika telah dikenal bentuk syair dan gurindam dua belas. Hamzah Fansuri (1600-an) dan Raja Ali Haji (1800-an) gemar mengutip langsung ayat-ayat Al-Qur’an. Pada puisi modern kegiatan mengutip langsung, entah dari teks pusi atau teks lain di luar puisi, tidaklah surut. Hampir setiap angkatan sastra memiliki bergudang penyair pengutip. Sekadar satu contoh, penyair Rayani Sriwidodo dalam puisi berjudul “Penjara Cermin”, ia mengutip langsung Kitab Lukas 1:3, “Sesungguhnya engkau akan hamil….” Baik pada penyair Rayani maupun pada penyair Afrizal, sumber kutipan tidak diberi makna atau tafsiran ulang. Yang dilakukan, pemindahan konteks realitas sehingga pembaca, mungkin saja, memaknai berbeda.

Pembaitan puisi “Migrasi dari Kamar Mandi” menggunakan margin penuh (rata kanan), ini pun bukan hal baru. Leon Agusta dalam antologi bertajuk Hukla hampir selalu melakukan hal yang sama. Begitu juga, Radar Panca Dahana dalam antologi Lalu Waktu, beberapa puisi disajikan dengan margin penuh. Secara ruang penampakan, pembaitan rata kanan mengesankan bentuk kotak-kotak. Mengingatkan pada bentuk lukisan kubisme, yaitu berciri siku-siku dan kotak-kotak. Aliran kubisme muncul disemangati oleh penolakan terhadap realitas tunggal, semangat menjungkalkan keangkuhan rasionalitas yang hanya mampu memberi kuasa legal pada peminggiran orang-orang yang dianggap tidak waras. Apabila “tuduhan” tentang semangat kubisme benar, puisi Afrizal Malna hanya memproduksi ulang sebuah pemberontakan yang baku. Seperti upacara Tiban (upacara memanggil hujan) dari Tulungagung yang kini menjelma kesenian murni.

Pembaitan rata kanan, sebagai sebuah tipografi yang mandiri dan disengaja menghasilkan ruang, adalah pengulangan juga. Penyair Sutardji Calzoum Bachri dalam puisi “Tragedi Sihka dan Winka” mengambil tipografi zigzag, Danarto dalam puisi “Viva pancasila” mengambil tipografi balok, Emha Ainun Nadjib dalam puisi “Natal” mengambil tipografi pohon. Puisi seperti ini, kerap dikenal dengan sebutan puisi konkret.

Lebih ekstrem lagi, puisi-puisi Afrizal Malna juga masih menggunakan perangkat-perangkat konvensional sebuah puisi. Misalnya perangkat bahasa kiasan, majas, citraan, sarana retorika, dan enjabement.

Puisi “Migrasi dari Kamar Mandi”, dengan pemakaian bahasa estetik yang beragam, tidak dapat dikatakan wakil sebagai salah satu aliran pengucapan puisi. Tidak simbolis, tidak ekspresif, tidak impresif, tidak juga imajis. Puisi karya Afrizal ini berciri semua pengucapan tersebut, sekaligus tidak dapat dikatakan wakil dari semua pengucapan tersebut. Ia berdiri di semua tempat, sekaligus tidak berdiri di kesemuanya. Inilah puisi pastiche.

Pemakaian sebuah bahasa, bagaimana pun juga, membawa pengaruh terhadap pembentukan realitas. Bahwa, bahasa tidak saja reproduksi realitas, tapi menciptakan realitas. Masyarakat puisi, atau, masyarakat di dalam karya sastra (puisi). Dari masyarakat puisi akan nampak, bagaimana sikap teks (gagasan penyair terhadap realitas, tentu bukan sikap langsung, tetapi yang terbaca dari puisi).

3

Karya puisi pastiche, puisi karnaval kutipan, merupakan kerja lanjutan dari pembacaan sejarah. Karya puisi talah mengadopsi bentuk-bentuk teks lain dengan lagak ragu dan sedikit malu-malu. Puisi dikamuflase dengan intensitas satu gaya atau kemutlakan orisinalitas. Ciri dari puisi-puisi modernisme, hanya ada satu niat dalam penciptaan dan satu pilihan dalam ucapan. Misalnya, puisi-puisi Subagio Sastrowardoyo yang memang intens menggunakan metode pengucapan simbolis-eksistensialis. Ia meyakini dirinya otentik melalui pencarian ilustrasi yang spesifik. Padahal, secara metode, karya puisi tersebut turunan dari sejarah panjang bentuk puisi, baik yang ada di tanah air maupun yang ada di dunia luas. Memang pastiche juga menggunakan intensitas gaya, hanya saja, intensitas yang berbeda. Puisi pastiche intens menggunakan gaya yang dibentuk oleh carut-marut sekian banyak gaya, centang-perenang kutipan puisi terdahulu.

Tumbuhnya karya sastra (baca: puisi) pastiche membarengi kejenuhan atau kritik terhadap polah-tingkah budaya modernisme. Tawaran modernisme yang berupa kemajuan dan teknologi telah banyak memangsa korban, tidak hanya alam raya, tapi juga eksistensi manusia. Modernisme melangkah pada pola oposisi biner, dua kutub yang saling diperlawankan. Ada siang-malam, miskin-kaya, benar-salah, sosial-alam, dll. Salah satu kasus yang memilukan; apabila seseorang telah meyakini arus maju sebagai kebenaran, maka otomatis, ia meyakini arus mundur sebagai kesalahan. Menjalani kebenaran, berarti juga, menganggap yang lain menjalani kesalahan. Sekian banyak perang dan penjajahan adalah tragedi dari manifestasi modernisme. lalu muncullah wacana postmodernisme, demikian juga pada sastra (puisi), dan pastiche adalah salah anak yang dikandung.

Puisi pastiche adalah perang terhadap konsep sejarah yang linier, tunggal, dan mutlak. Pembangkitan kode bahasa estetik puisi masa lalu atau pencabutan kode budaya yang menjadi ciri jaman tertentu di masa lalu; menolak gerak sejarah yang mengacu pada kemajuan. Pada puisi pastiche, kemajuan justru dipahami akan bergerak menuju tempat paling purba, atau kedatangan adalah keberangkatan. Ibarat pembalap formula I yang menempuh sirkuit, seberapa pun cepat ia memacu kendaraan, toh akan kembali pada garis start, terkecuali ada kecelakaan.

Puisi pastiche juga dapat dipahami melalui pandangan lain, jalan pintas sehingga puisi pastiche lebih dihormati sebagai pembaharuan. Semacam gagasan, apabila ada yang dapat disebut gagasan. Yaitu, melalui distribusi kode dan perbedaan setting realitas.

Penggunaan atau penempelan berbagai macam kode bahasa estetik puisi dan kode budaya dapat disejajarkan dengan pola puisi surealisme. Andre Breton dalam Manifesto Surealisme ketiga, tahun 1936, mengenalkan surealisme sebagai pola penyajian yang mirip dengan psikoanalisa Sigmund Freud, yaitu pola realitas mimpi. Ada banyak logika dalam satu realitas, ada banyak teks dalam satu teks, ada banyak ruang dalam satu waktu, ada banyak waktu dalam satu waktu. Karya puisi surealis dibentuk oleh jalinan teks-teks kecil yang membangun satu kesatuan.

Berbeda dengan puisi surealisme (yang bercorak kekinian), puisi pastiche mengacu pada kode-kode masa lalu, semacam ziarah dalam gelanggang artefak. Orientasinya pun berbeda, puisi surealisme cenderung mengarah ke masa depan yang agung, sedangkan puisi pastiche mengarah ke masa lalu yang agung. Puisi pastiche dapat memposisikan puisi surealis dalam salah satu deret target kutip, bersanding dengan puisi-puisi bentuk lain. Mungkin puisi surealis juga bisa memosisikan puisi pastiche sebagai bahan pembentuk teks, tapi tentu tidak seberani puisi pastiche, yang kadang kala tanpa tahu malu mengutip teks secara utuh. Pada titik perbedaan ini, puisi pastiche adalah gagasan baru dalam kancah kesusastraan.

Puisi pastiche adalah pemenuhan keinginan untuk mengenang masa silam. Seperti lelaki tua yang bersandar di kursi, di beranda rumah, di suatu sore yang basah. ia mencium sejuk sepoi angin, ia menyaksikan hijau daun-daun, ia menguap bersama rekah kembang-kembang. Ia berdehem-dehem mengikuti dendang nyanyi nostalgi, lagu terpopuler semasa ia masih berjuang merebut kemerdekaan. Ia, si lelaki tua, mengambil majalah kanak-kanak, dan meyakini; ia ada dalam setiap dongeng tentang perang.

Pembaharuan yang dilakukan puisi pastiche adalah justru pada ketidakbaharuannya. Puisi pastiche tidak menghardik, tidak menyatakan salah pada puisi bentuk apapun. Puisi pastiche hanya memasangkan kembali wajah-wajah masa kecil, menyodorkan pengalaman-pengalaman masa silam. Ibarat sebuah permainan, puisi pastiche berada di luar permainan; sehingga terhindar dari kalah dan menang. Puisi pastiche bereaksi sekaligus bersaksi, berpakaian sekaligus telanjang.

Penyair yang memakai strategi tekstual pastiche, selain Afrizal Malna, adalah; Goenawan Mohamad dalam Misalkan Kita di Sarajevo, Octavio Paz dalam “Kisah Dua Taman”, dan Indra Tjahyadi dalam Yang Berlari Sepanjang Gerimis.

_______ Studio Teater Gapus
Dijumput dari: http://terpelanting.wordpress.com/page/13/