Tikus dan Kucing

Sam Edy Yuswanto
Republika, 15 April 2012

SEPULANG bertugas dari luar kota, Marni, istriku, menyambut kedatanganku di depan pintu rumah dengan wajah gemas. “Pokoknya Mas mesti nyari kucing, sore ini juga!”

Huft, badan penat begini, langsung disambut ceracau nyinyir istri. Hei, dia bilang aku harus nyari kucing? Buat apa?

“Kucing? Heh, bukannya kamu paling alergi dengan hewan berbulu itu?” kataku seraya tersenyum geli.

“Kalo bukan karena tikus-tikus sialan itu, pasti nggak bakalan aku mau miara kucing, Mas!” sahut Marni dengan bibir mengerucut.

“Apa? Tikus? Memangnya…,” tentu saja aku langsung terkejut mendengar cerita tentang hewan yang juga tak begitu kusukai dari bibir istriku.

“Iya, Mas. Semalam aku sampai nggak bisa tidur gara-gara tikus itu berkeliaran di dapur, ruang tamu, dan juga plafon kamar kita. Heran aku, kok bisa rumah kita tiba-tiba didatangi tikus-tikus!” potong Marni dongkol.

“Wah, ini nggak bisa dibiarkan!” ujarku dalam hati.

“Hei, Mas! Mau ke mana?” seru Marni saat aku balik badan dan tergesa memacu langkah.

“Kamu bilang suruh nyari kucing!” seruku setengah teriak tanpa menoleh.

***

Untung saja, Pak Hendra, tetangga yang rumahnya berada di ujung gang, mau berbaik hati meminjami salah satu kucing peliharaannya. Beliau berpesan, aku hanya boleh meminjam kucingnya malam hari saja. Paginya, kucing itu mesti dikembalikan. Itu pun aku mesti berjanji akan memberi makan kucing kesayangannya itu. Jangan sampai si kucing mengeong-ngeong kelaparan. Aku juga dilarang keras berlaku kasar dengan kucing yang dinamai si belang itu. Aku menyepakatinya. Ah, kalau sekadar makanan buat kucing, itu hal yang sangat sepele.

Pak Hendra memang terkenal penyayang binatang. Salah satunya kucing. Ada enam ekor kucing yang ia pelihara di rumahnya. Kata lelaki paruh baya bertubuh tambun itu, kucing merupakan binatang kesayangan Nabi. Katanya, dulu, Nabi sering mewanti-wanti sahabatnya agar menyayangi kucing layaknya menyayangi keluarga sendiri. Saking sayangnya pada binatang berbulu lembut itu, Rasulullah bahkan pernah rela menyobek jubahnya yang pada waktu itu sedang dibuat alas tidur oleh seekor kucing.

Maka dari itulah, jangan sampai kita menganiaya apalagi membunuh kucing. Bisa kualat dan kena karma. Karena, menzalimi kucing sama artinya menyakiti hati baginda Nabi. Begitu pesan Pak Hendra, dengan raut wajah setengah hati sebelum akhirnya menyerahkan si belang kepadaku.

***

Huft! Akhirnya, aku dan Marni bisa bernapas lega. Sejak kehadiran si belang di rumah kami, tak seekor pun tikus yang berani nyelonong masuk ke rumah lagi. Lantas, tiga hari kemudian, aku dan Marni pun sepakat untuk tak meminjam kucing itu lagi. Aku yakin, tikus-tikus itu sudah benar-benar kapok menyambangi rumah kami yang dijagai teramat ketat oleh si belang yang bertubuh bongsor, bermata biru tajam mengilat, lumayan lulut (jinak), berbulu blasteran putih, dan kuning kunyit.

***

Tengah malam, tiba-tiba aku terjaga. Pun dengan Marni. Tepatnya saat kami mendengar ada benda seperti terjatuh. Sepertinya suara itu berasal dari dapur.

“Mas, ja…jangan-jangan, tikus itu datang lagi,” kata Marni seraya mengucek-ngucek kedua kelopak matanya.

Tanpa menjawab pertanyaan istriku, aku lekas melompat dari ranjang dan menuju ruang dapur. Setelah menghidupkan lampu, kuedar pandang ke sekeliling. Ada gelas pecah tepat di samping kiri meja makan. Huh, jangan-jangan benar apa kata Marni, tikus-tikus itu datang lagi ke rumah ini. Ah, tapi rasa-rasanya mustahil. Bukankah rumah ini terlalu rapat untuk dimasuki oleh hewan menyebalkan sekaligus menjijikkan itu?

Saat aku sedang memberesi pecahan gelas, istriku terpekik.

“Mas! Buruan sini! Ada tikus masuk kamar kita!” Aku langsung melesat ke dalam kamar setelah sebelumnya menyambar sapu lidi yang tersandar di sebelah pintu kamar.

“Mana? Mana tikusnya!” ucapku seraya mengacung-acungkan sapu lidi.

“Tadi di depan pintu, Mas!” telunjuk istriku menukik ke arah pintu kamar.

Namun, hingga nyaris setengah jam aku menggeledah seisi kamar, tak kutemukan binatang dekil yang tengah santer diserupakan dengan para anggota dewan terhormat yang punya hobi mengorup uang rakyat. Entah mengapa, tiba-tiba aku teringat uang fee yang tadi siang diberikan oleh Gunadi, rekan kerjaku yang membolos kerja selama dua hari, tapi aku disuruh menandatangani daftar absensinya.

Sudah jadi rahasia publik memang, jika para karyawan di kantor saling menutupi kebusukan karyawan lain. Setiap minggu, ada saja karyawan yang bolos kerja. Aku juga pernah, tapi tidak sesering kawan-kawanku. Untuk menutupinya, karyawan yang membolos tadi meminta kepada rekannya untuk mengisi absensinya. Tentu saja ada uang fee—sebagai balas jasa—yang akan diperoleh rekan yang mau menandatangani absensinya itu. Begitu seterusnya, hingga minggu berikutnya giliran si pengabsen yang membolos dan menyuruh kawannya untuk menandatangani daftar hadirnya.

“Pokoknya besok Mas mesti pinjem si belang lagi, kalau perlu kita beli saja, Mas!”

Suara kesal Marni memotong lamunanku. Hah? Be… beli kucing? Yang benar saja kau Marni! Ini gila! Benar-benar gila! Bayangkan, istriku yang sangat alergi dengan binatang berbulu itu sampai nekat menyuruhku membeli kucing? Hanya gara-gara tikus sialan itu? Untuk menenangkan pikiran, aku ngeloyor keluar kamar seraya geleng-geleng kepala.

***

“Tapi maaf Mas Anto, saya sama sekali tidak berminat untuk menjual kucing saya. Apalagi, si belang, dia kucing yang paling lulut dan sangat saya sayangi,” kata Pak Hendra kalem, tapi tegas saat sore yang gerimis itu kuutarakan niatku untuk membeli salah satu kucing miliknya.

“Tapi tenang saja, kalau sekadar meminjam kayak kemarin, boleh-boleh saja, kok,” terangnya sambil tersenyum. Hmm, selain terkenal ramah dan murah senyum, ternyata Pak Hendra orangnya sangat peka, bijaksana, dan baik hati.

Akhirnya, aku kembali meminjam si belang, dengan persyaratan yang masih sama seperti sebelumnya; hanya pinjam saat malam, paginya harus segera dikembalikan. Pun jangan sampai membiarkan si belang mengeong kelaparan dan jangan sekali-kali menzaliminya.

***

“Mas, besok pagi anterin aku ke dokter, ya? Beberapa hari ini perutku mual-mual terus,” kata istriku malam itu.

“Mual-mual? Hei, jangan-jangan kamu hamil?” wajahku langsung semburat sumringah. Berbeda dengan Marni. Wajahnya malah berlipat muram begitu mendengar perkataan dan kegembiraan yang langsung menghangatkan wajahku. Dan, aku langsung bisa memahami mengapa wajahnya langsung terlihat pucat. Maklum, saat ini ia memang belum siap mengandung.

“Sudahlah Mar, ini baru perkiraanku saja, lagian kemarin kamu udah pasang alat kontrasepsi, kan?” hiburku seraya mengelus lembut rambut lurus sebahunya.

“Tapi, kalo memang hamil beneran, gimana dong, Mas? Demi Tuhan, saat ini aku belum siap hamil,” katanya lirih seraya menggelayuti lenganku dengan manja.

“Ssst, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mau dikasih momongan sekarang ataupun tahun depan, bagiku itu sama saja. Mestinya kita wajib bersyukur karena yang nggak punya anak saja sampai kelimpungan berobat ke mana-mana biar lekas hamil,” bisikku lirih sembari mengecup lembut keningnya.

***

Pagi itu, aku menghubungi Hadi, rekan kerja sekaligus karibku di kantor. Kupinta padanya untuk mengisi daftar absensiku. Aku mau bolos dua hari. Sebenarnya hanya butuh satu hari saja demi menemani istriku periksa ke dokter spesialis kandungan. Tapi, aku lagi malas ngantor. Lagian, sudah lebih dari sebulan aku tak membolos kerja.

“Eh, kalau bolos dua hari, berarti fee-nya juga dobel loh, To,” itu suara renyah Hadi di ujung telepon.

“Beres, tenang sajalah kau, aku pasti bakal kasih lebih, kok,” sahutku sebelum menutup telepon pagi itu.

Usai memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan, Marni tak hentinya mengulas senyum kelegaan. Betapa tidak, kecemasan yang membuatnya tak enak makan dan tidur itu ternyata tak terbukti. Ia tidak hamil. Hanya masuk angin biasa, begitu kata pak dokter barusan. Aku pun merasa lega karena sejatinya aku juga belum siap diberi anugerah momongan saat ini.

***

Tengah malam, aku terjaga dari tidur lelapku. Tepatnya saat badanku terasa gerah luar biasa. Sekujur tubuhku terasa gatal. Saat jemari tanganku menggaruki pipi, aku langsung tersedak dan nyaris saja terpekik. Hei, seperti ada bulu-bulu tebal menempel di sana. Kuraba-raba seluruh wajahku dengan gusar. O, Tuhan! Seluruh wajahku ditumbuhi bulu-bulu?

Dalam keadaan panik alang kepalang, aku langsung meloncat dari ranjang dan setengah berlari menghidupkan sakelar yang menempel di dinding kamar. Setelah itu, aku menghambur menuju cermin yang menempel tepat di atas meja rias istriku.

Bola mataku nyaris mencelat begitu melihat duplikat tubuhku di dalam cermin. Wajahku dipenuhi bulu-bulu hitam lebat. Dengan gusar segera kulepas baju tidurku. Ya, Tuhan! Sekujur tubuhku telah rata dipenuhi bulu-bulu hitam. Sungguh menjijikan! Dan, aku langsung terpekik saat kurasakan tubuhku tiba-tiba mengerut, mengerut, dan akhirnya… mengecil. Saking kagetnya dengan perubahan ajaib ini, aku langsung terlompat spontan dan jatuh tepat di muka istriku yang tengah terlelap. Istriku sontak tergeragap dan menjerit histeris begitu melihat seekor tikus hitam tengah merembeti wajah putih mulusnya.

Aku melompat panik. Sementara istriku lekas menarik tubuhnya dan berlari menyambar sapu lidi yang ada di pojok kamar. Dadaku berdegup kencang seraya terbirit mencari celah agar bisa keluar dari kamar. Berkali kuteriaki Marni hingga suaraku serak, bahwa aku adalah Anto, suaminya. Tapi, sepertinya Marni tak bisa mendengar teriakanku.

Aku terus berlari mengitari kamar. Hingga, akhirnya dengan susah payah aku bisa menerobos lubang di bawah pintu kamar. Namun, aku langsung terpekik histeris dan lari kocar-kacir saat di luar kamar kulihat si belang dengan wajah garang bersiaga menerkamku.
____________
*) Penulis lahir di Kebumen, Jateng, 3 Oktober 1977. Cerpen-cerpennya telah banyak dimuat di media massa dan beberapa di antaranya memenangi lomba penulisan. Ia juga sudah menerbitkan sejumlah buku yang menampilkan karya-karya cerpennya.

Dijumput dari: http://lakonhidup.wordpress.com/2012/04/17/tikus-dan-kucing/

PuJa

http://sayap-sembrani.blogspot.com/