Absurditas yang Menggairahkan

Firman Venayaksa
http://www.jurnalnet.com/

PENGALAMAN membaca Payudara memang sungguh menggairahkan. Apalagi dengan kesadaran di depan bahwa yang kita baca merupakan karya sastra yang berdimensi filsafat, tentu akan menambah gairah kita dalam menyelami simbol-simbol filosofis yang memang banyak sekali menyapa kita di dalam novel tersebut. Pertama-tama gairah itu muncul ketika kita langsung disergap oleh kejutan-kejutan absurd dalam setiap fragmen. Di situ, mau tak mau, kita langsung berfantasi dalam cerita, sebab kita akan segera memasuki sastra fantasi dari Chavchay Syaifullah. Seterusnya kita dipancing untuk serius menafsirkan muatan-muatan filsafat di dalamnya.

Payudara dimulai dengan kisah Sakti, tokoh utama novel, yang berusaha keras untuk menyatakan cintanya pada Payudara, dokter jiwa si Sakti sendiri. Namun, usaha menyatakan cinta itu tak kunjung terjadi atau dengan kata lain bahwa cinta Sakti tak terbalas, entah karena memang faktor eksternal yaitu bahwa tak mungkin bagi Payudara mencintai pasiennya sendiri, ditambah bahwa dia sudah punya suami dan empat anak, atau karena faktor internal yaitu bahwa Payudara sendiri memang tidak cinta sama Sakti. Akhirnya Sakti jatuh gila!

Potret kegilaan novel filsafat Payudara terlukiskan bahwa peristiwa ketaksadaran manusia bisa terjadi secara menegangkan, namun bisa juga penuh dengan humor. Chavchay Syaifullah di sini sungguh lincah memainkan dan menghubungkan kisah-kisah unik yang tidak masuk akal, sampai kemudian kita bisa menerimanya sebagai cerita yang membawa hikmah maupun ajaran-ajaran filosofis.

Selain Sakti dan Payudara, tokoh lain yang tak kalah menariknya adalah Bayu, seorang mantan dokter jiwa yang menjadi gila dan Isabela, setan perempuan cantik, yang kemudian menikah dengan Bayu. Pertemuan antara Bayu dan Isabela dimulai ketika Bayu dan Sakti mencoba mencari makan malam, namun tersesat di dalam perkuburan umum tanpa nama. Di tengah ketakutan yang berlebihan itu, Sakti berhasil lari, sedangkan Bayu tertangkap oleh Kubri, si penjaga kubur yang dalam Payudara ternyata mampu berdialog secara mendalam tentang soal-soal filsafat dengan Bayu.

Ada hal-hal menarik dalam novel ini. Pada bab-bab sebelumnya, novel ini memakai sudut pandang orang ketiga, namun ketika menginjak bab ke-6 tiba-tiba hadir sudut pandang orang pertama, aku, sang pengarang cerita yang biasanya sembunyi di balik gaya tuturnya, secara tiba-tiba ikut nimbrung: “Sebenarnya aku tak tega juga melihat orang yang sudah begitu ketakutan. Tapi apa daya, aku tak pernah bisa menolong orang lain, apalagi orang yang dalam kesusahan. Aku hanyalah seorang pengarang. Sang pengarang cerita!”

Pernyataan ini tentu saja layak untuk kita perhatikan. Sebagai seorang pengarang cerita, sang novelis adalah sang pencipta seperti halnya tuhan, atau seperti dalang dalam setiap laku yang diperankan oleh tokoh-tokohnya. Namun, ditilik dari pernyataan tersebut, rupanya sang pengarang cerita pun tak berdaya upaya menolong tokoh yang ia ciptakan sendiri. Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa Chavchay Syaifullah rupanya melepaskan tokoh-tokoh ciptaannya dalam Payudara itu dengan cara begitu liar, hingga ia pun tak sanggup untuk mengontrol perkembangan watak atau karakter dari tokoh-tokohnya tersebut. Tapi justru dengan begitulah Chavchay Syaifullah mampu menghadirkan wajah eksistensialisme yang utuh, sebab pemberontakan nilai-nilai dalam Payudara pun bisa terjadi, meski harus melanggar aturan-aturan main formalisme dan rasionalisme.

Kejutan lainnya yang penting kita perhatikan adalah leburnya antara manusia dan setan. Kisah ini dimulai dengan ikatan pernikahan Bayu (mewakili manusia) dan Isabela (mewakili setan), yang berujung pada meledaknya Revolusi Kebudayaan di mana mereka hendak mendirikan negara baru bernama Saiba. Sungguh proses penceritaan Chavchay Syaifullah di sini terhitung menyentak hati dan pikiran kita. Sesekali kita dibuat tegang, sesekali kita diajak tertawa. Maka dengan itu pula, seperti pernah dikatakan A Teeuw, bila pembaca dihadapkan pada ketegangan yang dimunculkan dari kenyataan yang dikenalnya dan yang tidak dikenalnya, maka di situlah sesungguhnya rasa keingintahuan pembaca muncul, dan dengan demikian muncullah potensi kenikmatan pembaca.

Setelah panjang lebar kita diajak memasuki dunia ketaksadaran Sakti, di akhir cerita Chavchay Syaifullah memenuhi janjinya sebagai penulis handal, yaitu memberi kesan yang mendalam atas problem kesadaran manusia. Dua sampai tiga bab terakhir, penceritaan menitikberatkan pada nilai kesadaran. Sakti yang lama larut dalam kegilaan pun sadar bahwa kemanusiaan harus dibela. Karena itu Sakti meneriakkan kata “TIDAK!” dengan penuh daya kemanusiaannya. Sejak saat itu pula Sakti menolak segala daya di luar dirinya sendiri. Sakti hanya ingin menjadi diri sendiri yang sejati, meski ia harus menjadi tukang sampah!

Pernyataan keras Sakti dengan kata “TIDAK!” merupakan titik tolak kembalinya segumpal kesadaran dalam diri Sakti yang selama ini ia cari. Keputusannya untuk menjadi tukang sampah adalah kelihaian Chavchay Syaifullah untuk menciptakan simbol tanpa mengurangi esensi makna yang ingin disampaikannya kepada pembaca. Hanya menurut dugaan saya tukang sampah di situ bisa saja berarti wartawan atau relawan pada sebuah LSM, sebab dilukiskan di situ bahwa kerja tukang sampah yang diperankan Sakti adalah mencatat korban-korban keganasan politik negerinya, seperti terungkap di bukit-bukit tengkorak, di bumi Aceh sana.

Novel Payudara diakhiri dengan pertemuan antara Sakti dan Payudara. Namun pada pertemuan itu Payudara tidak lagi berprofesi sebagai dokter jiwa, sebab memang profesi itu sudah dibuangnya jauh-jauh. Payudara sudah tidak lagi percaya pada kekuatan teori-teori yang berpangku pada rasio. Dari pertemuan itu, Sakti dan Payudara bersepakat untuk menikah. Karena kerinduan dan rasa cinta keduanya tak terperikan lagi, akhirnya upacara pernikahan Sakti dan Payudara hanya terjadi di dalam hati yang dingin, di atas sebuah kapal laut, di tengah perjalanannya menuju bumi Aceh.

Payudara karya Chavchay Syaifullah ini, menurut hemat saya, begitu hebat dalam menampilkan nilai-nilai kebaruan yang eksotis, setidaknya ketika kita diajak untuk melihat dunia dengan sudut pandang yang sama sekali berbeda. Selain itu, Chavchay Syaifullah harus dikatakan berhasil dalam menjalin kejutan-kejutan yang mengguncang pikiran kita, agar kita mau selalu berpikir ulang tentang eksistensi kita sebagai manusia. Selamat membaca! ***

– Penerbit : Melibas, Jakarta
– Cetakan : Pertama, Agustus 2004
– Tebal : 235 hlm (termasuk Pengantar Penerbit)

*) Firman Venayaksa, Mahasiswa Pascasarjana UI, Depok, pada Fakultas Ilmu Budaya. /23/11/2004