Ajip, Profesor tanpa Ijazah

Soni Farid Maulana
_Pikiran Rakyat, 30 Jan 2008

SUDAH sejak awal kemunculannya di dunia sastra Indonesia modern pada tahun 1950-an, Ajip Rosidi dianggap sebagai anak ajaib. “Sejak masih muda, Ajip Rosidi sudah terkenal. Ia sastrawan dari tanah Sunda yang namanya saat ini tidak hanya dikenal di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga di tingkat internasional,” kata penyair Rendra, yang juga dikenal sebagai teaterawan terkemuka di negeri ini dalam percakapannya dengan penulis melalui saluran telefon, Kamis malam (24/1).

Ajip, anak sulung dari hasil perkawinan Dayim Sutawiria (1917-1990) dan Hj. Sitti Konaah (1921-2000), yang lahir pada 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, pada 31 Januari tahun ini akan menyelenggarakan acara syukuran ulang tahunnya yang ke-70 tahun di Graha Sanusi Hardjadinata Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, mulai pukul 9.00 WIB hingga selesai.

Acara perayaan ulang tahunnya yang ke-70 itu ditandai dengan digelarnya diskusi buku Hidup tanpa Ijazah: Yang Terekam Dalam Kenangan ditulis oleh Ajip Rosidi sendiri. Hadir sebagai pembicara: Dr. (HC). H. Rosihan Anwar, Prof. Dr. Bambang Hidayat, dan Drs. Setia Permana dengan moderator Ahmad Syubhanuddin Alwy. Selain itu, digelar pula pengumuman Hadiah Sastra Rancagé 2006-2007 oleh Erry Riyana Hardjapamekas, serta pembacaan puisi Ajip Rosidi oleh penyair Taufiq Ismail, Rendra, Godi Suwarna, dan Ganjar Kurnia. Acara puncak, Renungan Tujuh Puluh Tahun oleh Ajip Rosidi.

Sebagai sastrawan, pendidikan yang ditempuh Ajip tidak sampai ke jenjang perguruan tinggi. Sekolah rakyat 6 tahun ditempuhnya di Jatiwangi (1950). Lalu, Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953), dan Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956, tidak tamat). Selanjutnya, otodidak. Di usia muda, Ajip menikahi (1955) dengan Fatimah Wirjadibrata. Dari hasil pernikahannya itu, Ajip dikaruniai enam anak. Masing-masing Hj. Nunun Nuki Aminten (1956), Hj. Titi Surti Nastiti (1957), H. Uga Percéka (1959), H. Nundang Rundagi (1961), H. Rangin Sembada (1963), dan Hj. Titis Nitiswari (1965).

Muncul tahun 1952

Sebagai penulis karya kreatif dalam dunia sastra, Ajip mulai mengumumkan tulisan berupa sajak, cerita pendek, roman, drama, dan lain-lain dalam bahasa Indonesia dan Sunda tahun 1952, dimuat di berbagai majalah terkemuka di Indonesia pada waktu itu, seperti Mimbar Indonesia dan Kisah (H. B. Jassin sebagai redaktur), Zenith, Gelanggang (ruang kebudayaan warta sepekan) Siasat (pimpinan Sudjatmoko dan H. Rosihan Anwar, dengan redaktur Asrul Sani, Rivai Apin, dan Nur’aini Sani), Indonesia (bulanan kebudayaan pimpinan Armijn Pane), Konfrontasi (dua bulanan pimpinan Sutan Takdir Alisjahbana), Budaya (terbitan Bagian Kesenian Departemen P.P. dan K. Yogyakarta pimpinan Kusnadi), dan beberapa media massa cetak lainnya, termasuk koran.

Bukunya yang pertama terbit ketika usianya 17 tahun (1955) berjudul Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerita pendek) yang kemudian diikuti oleh buku-bukunya yang lain yang sekarang jumlahnya lebih dari 110 judul, baik kumpulan cerita pendek, kumpulan sajak, roman, drama, esai, kritik, yang asli tulisannya sendiri maupun terjemahan. Selain dalam bahasa Indonesia juga dalam bahasa Sunda. Banyak karyanya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, baik dimuat dalam majalah, dalam buku bunga rampai, maupun berbentuk buku antara lain ke dalam bahasa-bahasa Belanda, Cina, Hindi, Inggris, Jepang, Jerman, Kroasia, Prancis, Rusia, Thai, dll.

Selain itu, dalam bidang penerbitan, Ajip pernah bekerja sebagai redaktur dan pemimpin majalah sejak masih bersekolah (SMP). Antara lain, menjadi redaktur dan memimpin majalah Suluh Peladjar (1953-1955) yang beredar luas di seluruh Indonesia. Tahun 1955, menerbitkan dan menjadi pemimpin redaksi bulanan Prosa yang mengkhususkan diri untuk cerita pendek. Tahun 1965-1967, mendirikan dan menjadi Pemimpin Redaksi Mingguan Sunda (kemudian Madjalah Sunda), majalah umum berbahasa Sunda di Bandung. Tahun 1968-1979, mendirikan dan menjadi Pemimpin Redaksi bulanan Budaja Djaja (kemudian Budaya Jaya) bersama Ilen Surianagara, Ramadhan K. H., dan Harijadi S. Hartowardojo yang merupakan majalah kebudayaan umum yang resminya diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta. Redaktur ruangan Kebudayaan Matahari dalam majalah Mimbar di Jakarta (1971-1973). Sejak 2004, menjadi pemimpin umum majalah bulanan bahasa Sunda Cupumanik. Hal itu belum termasuk dalam dunia penerbitan buku seperti Pustaka Jaya dan Kublat Buku Utama.

Menurut Rachmat Taufik Hidayat, Redaktur Penerbit Buku PT Kiblat Utama, Ajip aktif pula dalam berbagai organisasi. Antara lain pada tahun 1954, ia menjadi anggota Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN) dan tahun 1960 dalam Kongres Kebudayaan di Bandung, terpilih menjadi anggota pengurus pleno organisasi tersebut. Tahun 1957-1963, turut mendirikan dan aktif dalam Studiklub Badan Pangulik Budaya (BPB) Kiwari, yang banyak membahas masalah kebudayaan nasional dan kebudayaan daerah. Tahun 1956 menjadi anggota Lembaga Basa jeung Sastera Sunda (LBSS) dan dalam Kongres Bahasa Sunda 1956 terpilih menjadi anggota pengurus pleno organisasi tersebut.

Tahun 1963, turut mendirikan dan menjadi Sekretaris Yayasan Kebudayaan Indonesia di Bandung, tetapi mengundurkan diri pada tahun 1965. Tahun 1968, memberikan saran kepada Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin tentang perlunya pembentukan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan terpilih menjadi anggotanya yang pertama. Tahun 1972-1981, terpilih sebagai Ketua DKJ (berturut-turut untuk tiga masa jabatan). Tahun 1966, turut memprakarsai pembentukan dan menjadi Ketua I Paguyuban Pangarang Sastera Sunda (PP-SS), dengan Ketua Umum Ki Umbara. Tahun 1975, ia mengundurkan diri sebagai ketua. Tahun 1996, mendirikan Yayasan PP-SS dan menjadi Ketua Dewan Pembinanya. Tahun 1993 dalam Kongres Basa Sunda di Bandung terpilih menjadi anggota Dewan Pembina LBSS, tetapi mengundurkan diri tahun 1996. Sebagai penerbit, dia aktif dalam Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) dan dalam Kongres Ikapi 1973 di Jakarta terpilih sebagai ketua umumnya. Kemudian, terpilih lagi dalam Kongres 1976 untuk masa jabatan sampai tahun 1979. Dalam Kongres 1979, dia menolak untuk dipilih lagi karena hendak menerima fellowship dari The Japan Foundation untuk tinggal di Jepang. Terpilih menjadi anggota Akademi Jakarta (2001). Tahun 1993, mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancagé sebagai tindak lanjut dari kegiatannya memberikan Hadiah Sastra Rancagé setiap tahun kepada para pengarang dalam bahasa daerah, mula-mula hanya untuk sastra Sunda (sejak 1989), tetapi kemudian juga untuk sastra Jawa (sejak 1994), Bali (sejak 1998), dan berbagai kegiatan lainnya.

“Pendeknya Kang Ajip itu urang Sunda yang aktif dalam berbagai lini kebudayaan di negeri ini,” jelas Rachmat Taufik Hidayat sambil menambahkan, di dunia pendidikan, Ajip pernah diangkat jadi dosen luar biasa dan lain-lain. Tahun 1981, diangkat sebagai visiting professor pada Osaka Gaikokugo Daigaku di Osaka, Jepang (sampai 2003). Tahun 1983-1994, menjadi guru besar luar biasa pada Tenri Daigaku, di Tenri, Nara. Tahun 1983-1996, menjadi guru besar luar biasa pada Kyoto Sangyo Daigaku di Kyoto. Pensiun dan pulang ke tanah air tahun 2003.

“Jika ada orang Sunda yang demikian aktif dalam memperjuangkan kehidupan seni dan budaya Sunda, termasuk bahasa Sunda di dalamnya, Ajip-lah orangnya. Nilai-nilai kesundaan digarapnya pula dalam sastra Indonesia yang ditulisnya,” ujar Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbupar) Jabar, Drs. H.I. Budhyana, M.Si, dalam percakapannya dengan penulis, sambil menambahkan daya juangnya layak diteladani.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/01/sosok-ajip-profesor-tanpa-ijazah.html