Berdakwah Tanpa Mengajari

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 31 Agu 2008

WACANA mengenai sastra Islami di Indonesia kembali bergaung ketika novel Ayat-ayat Cinta (2004) karya Habiburrahman El Shirazy disebut sebagai novel terlaris. Tak lama kemudian menjamur karya-karya serupa yang mengusung bendera sastra Islami.

Tema Tuhan dan religiositas Islami bukan lagu baru dalam ranah sastra tanah air. Sejak lama tema tersebut telah jadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. Meski tak secara eksplisit menasbihkan diri sebagai sastra Islami, namun tak dapat dipungkiri sastra pencerahan yang diusung Danarto, sastra profetik oleh Kuntowijoyo, sastra sufistik oleh Abdul Hadi WM serta sastra transenden oleh Sutardji Calzoum Bachri merupakan sari pati dari sastra Islami.

Berbicara mengenai sastra Islami tak genap rasanya jika tak menyebut karya-karya Haji Karim Amrullah atau yang lebih dikenal dengan nama Hamka. Karya sastrawan kelahiran Danau Maninjau, 16 Febuari 1908 ini memang dikenal sarat akan nilai-nilai Islami.

Hal itu tak lepas dari kehidupan masa kecilnya yang tumbuh di lingkungan ulama. Hamka juga sempat menimba ilmu kepada tokoh pergerakan Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, H Oemar Said Tjokroaminoto, RM Soerjopranoto, dan KH Fakhruddin.

Selain menekuni dunia tulis menulis, Hamka muda juga aktif dalam organisasi pergerakan Islam. Ia merupakan pendiri Majelis Tabligh Muhammadiyah Padangpanjang. Pergerakan menjadi dunia yang Hamka geluti hingga akhir hayatnya.

Dari 118 buah pena yang dihasilkannya semasa hidup, Di Bawah Lindungah Kabah dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck merupakan dua novel yang mendapat sambutan paling meriah.

Bisa dibayangkan pada 2005 novel Di Bawah Lindungah Kabah telah dicetak ulang sebanyak 30 kali, tak jauh beda dengan novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck yang telah dicetak ulang sebanyak 29 kali.

Secara implisit

Dalam novel Di Bawah Lindungah Kabah serta Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Hamka meracik nilai-nilai keislaman secara implisit. Jangankan kutipan ayat suci Al-quran, penyebutan kata Islam pun dapat dihitung dengan jari. “Hamka memasukkan nilai-nilai agama secara universal, sehingga umat di luar Islam juga tertarik untuk menikmatinya,” kata kritikus sastra Jakob Sumardjo kepada Jurnal Nasional, Selasa (26/8).

Jakob mengatakan, Hamka dalam karya-karyanya mengajak para pembaca untuk berpikir serta merenung mengenai konsep Islam. “Hamka lebih mengutamakan substansi keislaman ketimbang pemaparan tentang hukum-hukum Islam secara eksplisit,” ujar Guru Besar Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Bandung ini.

Panasnya situasi politik Orde Lama juga berpengaruh pada karier penulisan Hamka. Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck sempat dituding sebagai plagiat dari roman sastrawan Prancis, Alphonse Karr yang kemudian disadur ke dalam bahasa Arab oleh Al Manfaluthi.

Bahkan sejak 5 Oktober 1962, lembaran kebudayaan Lentera pada harian Bintang Timur, yang dipimpin Pramoedya Ananta Toer dan S. Rukiah, secara bersambung menurunkan tulisan berjudul “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!”.

Pro dan kontra menyelimuti polemik tersebut, Jika Lekra cenderung memojokkan Hamka maka HB Jassin serta para budayawan yang tergabung dalam Manifes Kebudayaan (Manikebu) malah memberikan dukungan.

Sastrawan Minang Haris Effendi Thahar mengatakan, novel karya Hamka memang memiliki kemiripan alur dengan karya Alphonse Karr, namun jika dibandingkan substansinya, keduanya jauh berbeda. “Novel yang ditulis Hamka sangat kental nuansa Minangnya. Mungkin memang Hamka pernah membaca novel tersebut dan ia terinspirasi,” kata Haris.

Penyajian serupa juga dapat dinikmati dalam cerita pendek Robohnya Surau Kami buah karya Ali Akbar Navis. “Hingga saat ini belum ada cerita bertema agama sebaik karya Navis,” kata Sastrawan Darman Moenir kepada Jurnal Nasional, Rabu (27/8).

Robohnya Surau Kami bercerita tentang seorang kakek penjaga Surau yang meninggal dengan menggorok lehernya sendiri karena merasa tersindir oleh cerita Ajo Sidi. Kepada si kakek, Ajo Sidi bercerita mengenai Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid.

Sama seperti kakek penjaga surau, Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan dengan tekun.Tapi, saat “hari keputusan”, hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka.

Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, “kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya, tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang.”

Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Menurut Jakob, Navis berusaha mengajak pembaca untuk keluar dari pemahaman tradisional, di mana agama hanya sekadar menjalankan ibadah. “Selain menjalankan hukum-hukum wajib, umat Islam juga tidak boleh melupakan kewajiban sosialnya,” kata Jakob.

Senada dengan Jakob, Haris juga berpendapat karya seperti Navis-lah yang dapat disebut sebagai sastra Islami yang sesungguhnya. “Nilai-nilai Islam dalam cerita tersebut terlihat secara aplikatif,” ujar Haris.

Sementara Darman melihat, Robohnya Surau Kami sebagai bentuk gugatan Navis terhadap masyarakat di zamannya yang memaknai ibadah semata-mata demi keselamatan diri sendiri di akhirat, tanpa memikirkan hak-hak orang lain. “Keikhlasan beribadah merupakan kesadaran paling dalam untuk mengukur kualitas keimanan seseorang,” kata Darman.

Robohnya Surau Kami juga dapat diterjemahkan secara metaforikal terjadinya degradasi institusi keagamaan akibat perubahan sosial. Agama dianggap tak dapat lagi memecahkan persoalan-persoalan riil dalam masyarakat.

Darman mengatakan, Navis menggunakan cerita pendek sebagai media untuk mengkritik masyarakat. “Sastra merupakan cermin untuk melihat kondisi dalam segala rupa dan manifestasi,” ujar Darman.

Berbagai perspektif

Menurut Jakob, Navis mendidik pembacanya dengan taburan metafora dalam tulisannya. Ia mengajak para pembacanya untuk melihat segala sesuatu dari berbagai perspektif. “Hidup begitu kompleks untuk dipahami secara literal dan superfisial,” kata Jakob.

Selain karya Navis dan Hamka, ada beberapa karya sastra yang kental dengan nuansa Islami meski mereka tak pernah menasbihkan diri sebagai sastra Islam. Misalnya saja, Djamil Suherman yang menerbitkan sebuah novel berjudul Perjalanan ke Akherat (1963). Novel tersebut berkisah tentang perjalanan seorang guru di alam barzah yang lantaran kejujurannya, masuk surga, dan istrinya–karena bunuh diri–terlunta-lunta di akherat.

Sebelumnya ada karya Muhammad Ali yang berjudul Di Bawah Naungan Al-Quran (1957). Suasana keagamaan yang digambarkan novel itu terasa begitu kuat, tetapi novel tersebut tidak dikategorikan sebagai sastra Islami.

Sejumlah karya lain juga sarat akan muatan doktrin Islam. Sebutlah misalnya karya Mohammad Diponegoro (Siklus, 1975) atau Ahmad Tohari (Kubah, 1980). Bahkan, sejumlah cerpen kedua sastrawan itu jelas sekali mengangkat kisah-kisah sufi.

Belakangan, Motinggo Busye dalam novel pendeknya, Sanu, Infinita-Kembar (1985) juga mengangkat kisah sufistik. Jika hendak lebih jelas lagi, periksa cerpen Danarto yang berjudul Lempengen-lempengen Cahaya. Di sana, Danarto menampilkan tokoh Al-Fatihah sebagai tokoh utamanya.

Pada tahun 1970-an, Abdul Hadi WM, Danarto, Fudoli Zaini, Ikranegara, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, dan beberapa sastrawan lainnya pernah pula menggulirkan konsepsi sastra Islam secara lebih luas. Munculnya istilah-istilah sastra sufi, sufistik, sastra tasawuf, sastra profetik, dimungkinkan lantaran terjadinya polemik tentang itu.

Jika para sastrawan terdahulu lebih memilih menyajikan nilai-nilai Islam secara implisit, tidak untuk generasi setelah reformasi. Mereka tampak lebih “berani” menyajikan Islam dalam tulisan, bahkan tak segan mengutip ayat Al-quran.

Seperti kupu-kupu mereka tampak bangga dengan embel-embel sastra Islam yang tersemat, laksana sayap. Tak seperti generasi sebelumnya mereka lebih tertarik berbicara mengenai hukum-hukum Islam secara blak-blakan.

Pengkotak-kotakan sastra Islami dan non-Islami tersebut, menurut Haris sebenarnya malah merugikan penulis sendiri. “Sebenarnya mereka telah lari dari konsep sastra yang seharusnya bersifat universal,” kata Haris.

Kurangnya pendalaman dalam tulisan juga dipermasalahkan Darman sebagai kekurangan penulis yang mengusung label sastra Islam. “Tidak ada pembaharuan dalam penyampaian, mereka serta merta mencantumkan ayat Al-quran. Kenapa mereka tidak menulis dalam bentuk kitab saja?” ujar Darman mengkritik.

Penulis pengusung gerakan sastra Islami saat ini juga dianggap kurang kritis serta kurang peka terhadap gejala sosial di sekitarnya. Mereka cenderung mengangkat hal-hal yang tidak bersentuhan langsung dengan umat. “Padahal masalah yang dihadapi umat muslim sekarang bertumpuk,” kata Darman.

Jakob mengatakan, salah satu faktor yang menyebabkan perubahan cara bertutur dalam sastra Islami adalah perkembangan masyarakat sendiri. “Sekarang cara eksplisit yang lebih manjur ke umat, karena banyak yang membutuhkan tulisan mengenai hukum Islam. Buktinya Ayat-ayat Cinta dicetak hingga berkali-kali,” kata Jakob.

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/08/oase-budaya-berdakwah-tanpa-mengajari.html