DARI YOGYA BANGUN TRADISI KRITIK SASTRA

Sulistiono
_Media Indonesia, 8 Mei 2010
3 Februari 2011 oleh ragajiwa

Halaman di kantor Yayasan Umar Kayam, Perum Sawit Sari i-3. Condongcatur, Sleman, Yogyakarta, tampak ramai Sabtu (1/5) malam. Mulai pukul 19.00 WIB, sebanyak 10 karya sastra diperbincangkan. Tiga kumpulan cerpen, salah satunya adalah Sepotong Bibir Paling Indah karya Agus Noor, dua buku esai, salah satunya Politik Sastra yang ditulis Saut Situmorang, dua novel, dua puisi, dan satu karya terjemahan berjudul Proses karya Franz Kafka.

Jadilah para sastrawan junior dan senior, atau bahkan mereka yang baru sekali dua kali membaca sastra berbaur malam itu. Mereka saling mengkritik dan mengoreksi, mengeluarkan jurus sastra masing-masing untuk mengupas segala hal yang berkaitan dengan perkembangan sastra. “Di Indonesia, tidak ada per-soalan dengan karya kreatif untuk sastra. Sangat banyak karya sastra yang dihasilkan. Namun, tidak ada kritik sastra. Yang ada hanya tukang komentar,” kata Saut Sitomorang dengan nada kecewa.

Menurut Saut, banyaknya fakultas sastra di perguruan tinggi di Indonesia belum mampu meluluskan para kritikus sastra yang mumpuni. Padahal, berbicara sastra harus seperti berbicara ilmu hukum, ekonomi maupun kedokteran. “Sastra adalah sains. Jadi kritik sastra harus tahu betul tentang seluk beluk sastra. Selama ini yang ada di negara ini hanyalah pengamat sastra yang bisanya cuma mengarang. Itu merupakan persoalan. Kritik sastra merupakan salah satu persoalan sastra yang belum kita miliki. Kita ingin ada tradisi kritik sastra,” jelas Saut.

Kritik dan apresiasi Lantaran itu, buku-buku yang diperbincangkan malam-itu tidak dibahas penulisnya, tapi dinilai orang lain. Ke-giatan obrolan karya seperti itu diharapkan akan melatih tradisi kritik sastra yang bagus. Melatih seseorang untuk membaca, mengamati, dan mempertanggungjawabkan ke publik.

Seperti Saut yang malam itu tampil galak mengkritisi buku esai Historiografi Sastra Indonesia 60-an karya Asep Sambodja yang dirilis awal tahun ini. Saut mengkritik klaim historiografi yang digunakan Asep sebagai judul. Menurut Saut, judul itu terlalu berat untuk isi buku yang miskin analisis. Saut menyebut tulisan Asep semata laporan jurnalistik biasa yang jauh dari penulisan akademik yang rapi. Sebab Asep seolah cuma merangkum buku-buku yang ia baca mengenai konflik tahun 60-an, tanpa menganalisis, lebih dalam. Hasilnya, ia tidak mampu menjelaskan kenapa kondisi saat itu mempengaruhi sastra Indonesia berpuluh-puluh tahun.

Adapun Khrisna Pabichara yang menilai buku kumpulan cerpen berjudul Tangan untuk Utik karya Bamby Cahyadi memberikan apresiasi. Menurutnya, 13 cerita Bamby adalah mimpi-mimpi dengan eksekusi yang sederhana. Cerita Tangafi untuk Utik, misalnya, membicarakan arti persahabatan dengan jalan empati.

Berawal dari milis Parade Obrolan 10 Karya itu sebetulnya bentuk konkret pegiat mailing list (milis) Apresiasi Sastra (Apsas) yang membahas karya-karya anggota milis. Milis yang terbentuk 5 Januari 2005 itu tumbuh secara alami, berdasarkan keterasingan an-tarindividu di bidang sastra. Moderator milisnya pundi-gawangi para peminat sastra yang tinggal di berbagai negara dengan beragam profesi. Ada moderator yang sehari-harinya menjadi pekerja restoran di Swiss, tenaga kerja Indonesia (TKI) di Hong Kong, ada yang bekerja di Amerika Serikat. Ada pula yang berprofesi sebagai penulis di Surabaya, bekerja di perusahaan kertas di Bandung hingga pendeta di Wonogiri, Jawa Tengah.

“Para moderator ini juga hampir tidak pernah ketemu. Kita hanya ketemu di milis,” kata Sigid Susanto, salah satu moderator yang datang di acara Parade Obrolan 10 Karya itu. Pria kelahiran Kendal 21 Juni 1963 itu bercerita, 2.000 anggota milis tidak bisa bertemu setiap saat. “Tetapi setahun sekali selalu diupayakan kegiatan jumpa darat,” ujarnya.

Parade Obrolan 10 Karya di Yogyakarta itu adalah kegiatan tahun kelima. Persiapannya pun sederhana dan tanpa modal. Kesepakatan-kesepakatanmengenai pelaksanaan acara dikomunikasikan melalui milis, dan dikuatkan pula melalui jejaring sosial Facebook. Cukup tiga bulan mengondisikan pelaksanaan acara itu. Pegiat milis pun dengan sukarela datang sendiri. Mereka juga mengajak narasumber yang berkompeten. Imbalannya, buku sastra. “Pelaksana acara seperti ini adalah relawan yang juga anggota milis. Mereka mencari donasi sendiri karena kita memang tidak punya kas,” ungkap Sigid bersemangat.

Memang pegiat milis Apsas itu disatukan dengan semangat belajar sastra bersama. Meskipun di kantong-kantong sastra ada hegemoni-hegemoni.komunitas itu tidak menginginkan adanya hegemoni. Berbagai kepentingan bisa masuk dalam komunitas itu, tapi tetap selalu menjaga iklim kondusif. Pegiat milis Apsas kebanyakan adalah mantan aktivis gerakan. Setelah reformasi, para aktivis itu berbelok ke sastra karena talenta dan kebiasaan menulis mereka yang tidak bisa dihilangkan.

“Kita ini berorientasi kerakyatan dan apa adanya. Tidak ada senior tidak ada junior. Prinsipnya kita ingin belajar bersama. Lintas benua. Lintas ideologi. Lintas bahasa. Lintas pemikiran,” kata Sigid tegas.

Dijumput dari: http://komunitassastra.wordpress.com/2011/02/03/dari-yogya-bangun-tradisi-kritik-sastra-2/