Forum Penyair Internasional: Puisi Tak Sekadar Kata-kata…

Harry Susilo
Oase Kompas, 1 Mei 2012

Have you ever wondered
As we pick up the dead, heavy
Weight of the ugly brutal past
That threatens to suffocate us

Pernahkah kau bertanya
Saat kita mengangkat mayat, beban
Kekejaman masa lalu yang suram dan brutal
Masa lalu yang mencekik kita

Penggalan puisi berjudul Mandela, Have you Ever Wondered? yang dibacakan penyair asal Afrika Selatan Vonani Bila membuat sebagian penonton di Gedung Cak Durasim, Kota Surabaya, Jawa Timur, Rabu (11/4/2012) malam lalu, tertegun. Cukup singkat namun padat makna.

Vonani mencoba mengisahkan perjuangan Nelson Mandela agar persamaan ras diakui di Afrika Selatan meskipun harus dilalui lewat pengorbanan banyak orang. Politik apartheid (pembedaan kulit putih dan kulit hitam) di Afsel memang banyak merenggut nyawa manusia. “Puisi di negara kami lebih banyak bercerita tentang kondisi sosial politik masyarakat,” kata Vonani.

Tidak hanya Vonani yang mengumandangkan keluh kesahnya. Sebanyak 25 penyair lain dari Indonesia dan mancanegara membacakan karya puisinya masing-masing dalam acara puncak Forum Penyair Indonesia Internasional (FPII) 2012 yang bertema Whats Poetry malam itu.

Selain dari Indonesia, penyair yang berasal dari Jerman, India, Amerika Serikat, Australia, Belanda, Selandia Baru, Afrika Selatan, Denmark, Belarusia, Macedonia, dan Zimbabwe, menyampaikan pesan berbeda terkait realitas sosial di negeri mereka.

Setiap penyair memiliki cara sendiri untuk membacakan karyanya. Penyair dari India, Sujata Bhatt, misalnya, membacakan puisi Like an Angel diiringi tarian kontemporer yang dibawakan Itumelang Makgope dari Afsel. Perpaduan kata-kata, musik, dan seni tari melebur menjadi sebuah harmoni.

Selain diiringi tarian, ada juga yang membacakan puisi seperti menyanyi, bercerita, ataupun datar tanpa ekspresi. “Dengan begitu, penonton dapat menginterpretasikan sendiri apa itu puisi,” ucap salah satu penyair asal Australia, Sarah Holland-Batt.

Salah seorang kurator FPII dari Jerman, Silke Behl, mengatakan, puisi juga dapat menjadi jembatan budaya untuk bisa membangun rasa saling pengertian di antara bangsa-bangsa dunia. “Kami mengunjungi empat kota, membaca bersama-sama, berdebat dan saling mendengarkan. Elemen lintas negara ini tidak akan berjumpa sebagai orang-orang yang saling asing. Kami bertemu dalam iklim saling percaya,” ujar Silke Behl.

Itulah kenapa setiap penyair membacakan puisi dalam bahasa lokal masing-masing yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia agar dapat dimengerti penonton. Memahami aksen, cara penyair membacakan puisi, makna kata-kata yang tertuang dalam puisi tersebut seolah membawa imajinasi kita membayangkan yang sedang terjadi di negeri mereka masing-masing.

Lewat FPII, para penyair lintas benua merenungkan kembali tema Whats Poetry? (Apa Itu Puisi?). “Itulah yang menjadi sebab pentingnya kita berkumpul dan berbicara, dari benua ke benua, melampaui segala pagar batas,” ujar Silke Behl yang merupakan salah seorang pendiri festival internasional Poetry on the Road di Bremen, Jerman, tersebut.

Malam itu, pembacaan puisi Whats Poetry ditutup pertunjukan seni dari Ayu Laksmi yang berkolaborasi dengan Cok Sawitri dan dilanjutkan dengan penampilan Sawung Jabo lewat lagu-lagunya yang menghentak dan penuh kritik sosial.

Antologi puisi ini juga dicetak dalam buku setebal 500 halaman. Penggagas FPII, Henky Kurniadi mengatakan, pergelaran FPII ini dikuratori Afrizal Malna dan Saut Situmorang dari Indonesia serta Silke Behl, Indra Wussow, dan Michael Agustin dari Jerman.

FPII digelar di empat kota, yakni Magelang (1-3 April), Pekalongan (4-6 April), Malang (7-9 Apri l), dan Surabaya (10-12 April). Terdapat 43 penyair yang terlibat dalam acara ini secara keseluruhan.

Lewat pergelaran FPII, para penyair seolah berdakwah menyuarakan kebenaran tanpa lelah. Puisi memang dapat menjadi media penyampai pesan, curahan hati, ataupun keluh kesah tentang kondisi sosial, politik, ekonomi bangsa, maupun masalah pribadi.

Persoalan bangsa yang terkontaminasi oleh korupsi pun dapat dengan mudah tertangkap lewat permainan kata-kata dalam puisi. Seperti puisi Vonani Bila lainnya berjudul The Pig.

I checked his shoes
Rough and wild
And the nails
Long and dirty
And the mouth
Big and grubby

I checked his eyes
Warped, wide awake though asleep
Thats how I notice a boar
Even in parliaement
Too voracius
He even kills the piglets

Aku periksa sepatunya
Kasar dan liar
Kuku-kukunya
Panjang dan dekil
Moncongnya besar dan kotor

Aku periksa matanya
Membelalak padahal tidur
Begitulah celeng
Bahkan di parlemen
Rakus sekali
Bahkan ia memangsa anak-anaknya sendiri…

Vonani dan puluhan penyair lainnya memang ingin berbagi dengan khalayak luas mengenai kekayaan khazanah budaya dunia dan realitas sosial yang beragam. Puisi memang tidak hanya permainan kata-kata tetapi juga harus dapat diterima oleh masyarakat. Ini puisi kami, mana puisi kalian…

Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2012/05/forum-penyair-internasional-puisi-tak.html