Kebudayaan Lampung, ‘Api Muneh’? *

Udo Z. Karzi
Lampung Post, 29 Mei 2005

KILU mahap jama sunyin ni (maaf kepada semuanya). Saya memang sengaja membuat judul esai ini seperti ini. Dalam bahasa ibu saya, Lampung, api muneh (saya pinjam istilah ini dari si empunya kolom, Juwendra Asdiansyah) itu artinya “apa pula”. Agak sedikit nyeleneh.

Sebenarnya, ini otokritik buat saya sendiri. Syukur-syukur kalau ulun Lampung marah semua. Saya tinggal bilang, please deh!

Saya bukannya tidak hormat dengan pemimpin, tokoh, budayawan, seniman, atau apa pun juluk-adok-nya yang hampir dalam setiap kesempatan selalu berkata, “Mari kita jaga kesenian dan kebudayaan Lampung!” Saya pikir sudah terlalu banyak tokoh yang bicara begitu.

Ketua Lembaga Masyarakat Adat Lampung (LMAL) M. Nurdin Muhayat misalnya, kembali mengulang lagu lama tentang bagaimana nasib kebudayaan Lampung. “Kami prihatin dengan perkembangan budaya daerah (Lampung) karena seperti memasuki daerah lain ketika bicara budaya padahal di daerah sendiri,” ujarnya dalam Rakerda LMAL I di Bandar Lampung, Rabu, 18 Mei 2005.

Lalu coba kita lihat kerangka pikirnya: “Budaya Lampung makin hari kian menghilang. Sebab itu, perlu peran aktif tetua adat dan tokoh masyarakat Lampung untuk terus melestarikan dengan menurunkan ke anak-cucu agar tidak mengalami degradasi budaya. Seharusnya, sesering mungkin adat Lampung disinggung karena dikhawatirkan menghilang, sehingga yang peduli harus pula cepat menggali dan memasyarakatkannya.

Pembangunan Tugu Siger di Bakauheni menjadi salah satu cara penggalian dan pelestarian adat budaya daerah karena tidak semua warga Lampung tahu tentang siger itu sendiri.

Untuk mewujudkan pelestarian budaya Lampung, perlu kekompakan satu sama lain. Dengan adanya kekompakan tersebut, niscaya semuanya berjalan lancar. Kita juga harus mendukung apa yang menjadi keinginan Sutan Mangkunegara, gubernur Lampung, membangun Provinsi Lampung menjadi kota baru yang penuh pembangunan yang merata.”

Lalu Gubernur Lampung Sjachroedin Z.P. yang Dewan Pembina LMAL berharap LMAL bisa lebih meningkatkan perkembangan budaya Lampung ke depan. “Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi. Kita sering tidak kompak. Sering membicarakan tentang piil (harga diri). Tapi, semua itu tidak sesuai dengan perbuatan. LMAL ini seperti ninik mamak. Apa pun yang akan diperbuat harus dikoordinasi lebih dulu. Banyak alasan yang ada, sehingga semua pekerjaan terbengkalai. Padahal ini tidak perlu terjadi,” kata dia.

* * *

Yak, saya sepakat kita harus mengembangkan kebudayaan Lampung. Tapi, bagaimana caranya? Gubernur Lampung Sjachroedin dengan gagahnya akan berkata bahwa ia ingin mengembangkan kebudayaan Lampung. Menara Siger yang dibangun dengan dana miliaran rupiah adalah sebagai bentuk dari upaya membangun kebanggaan orang Lampung, kebanggaan pada kebudayaannya sendiri. Yang saya tangkap beberapa ungkapan para pemimpin di Lampung ini, Menara Siger adalah puncak dari kebudayaan Lampung.

Saya yang jelma Lampung cuma bisa berkata, “Ah…”

Apa iya kebudayaan Lampung hanya tercermin dari Menara Siger, Tari Sembah, atau pemberian gelar (adok) kepada tamu daerah, dan segala jenis “basa-basi budaya” lainnya?

Saya, setidaknya menurut apa yang saya pahami tentang konsep kebudayaan yang mahakompleks itu, dengan tegas akan berkata: Tidak! Tidak! Tidak!

Saya bisa berbahasa Lampung dengan fasih. Tapi, betapa sulitnya saya berbicara dengan bahasa ibu saya. Padahal, yang benar, kebudayaan Lampung justru terlihat pada penggunaan bahasa Lampung dalam keseharian. Sebab, saya pikir, dalam bahasa yang digunakan dalam berkomuniasi terlalu banyak simbol, idiom, kebiasaan, tradisi, karakter orang yang bicara, atau apa pun yang terkait erat dengan kebudayaan.

Sedikit banyak, saya juga mengerti etika dan estetika bagaimana seharusnya orang Lampung bicara, terutama ketika ia menggunakan bahasa Lampung dalam upacara-upacara atau kegiatan “resmi” adat. Saya tak habis paham mengapa orang lantas mengatakan kalau ulun Lampung yang bicara selalu harus keras, dengan intonasi tinggi, tidak mampu menjadi pendengar yang baik, tidak mau mengalah, dan mau menang sendiri. Sebab, dalam ingatan saya di waktu kecil, ulun-ulun tuha berkata begini: “Belajarlah berbicara!”

Dan, sungguh belajar berbicara–tentu bicara yang benar–itu tidak gampang. Saya misalnya, menyaksikan bagaimana orang berbicara (menggunakan bahasa Lampung tentu) dalam ghasan-buhimpun (bermusyawarah) atau aktivitas adat lainnya dengan begitu santun dan dengan menggunakan bahasa yang indah. Bahasa yang digunakan sangat selektif. Tak boleh ada kata yang “tak berguna”, apalagi sampai menyinggung perasaan lawan bicara, yang keluar dari para “negosiator” atau “mediator” yang terlibat dalam pembicaraan. Tak ada kondisi bersitegang. Tak ada interupsi.

Semua itu saya gambarkan dalam bahasa puisi: mengapi ram mak beusaha mejong barong, gantian cawa, ngehurmati cawa ni sai bareh, rik beupaya nyepok renglaya sai buyun (mengapa kita tak berusaha duduk bersama, gantian bicara, menghormati perkataan yang lain, dan berusaha mencari jalan terbaik) (Sajak “Revolusi Gawoh”, Momentum, 2002) .

* * *

Yah, bahasa Lampung itu, menurut saya sangat indah (karena paling tidak saya mengerti). Makanya, saya menulis sajak-sajak berbahasa Lampung. Dengan bahasa keseharian! Itu pun terlalu sedikit orang di Lampung, bahkan jelma Lampung sendiri, yang mengerti.

Saya buat puisi berbahasa Lampung. Saya tidak peduli orang mau mengerti atau tidak. Sebab, siapa lagi yang mau peduli dengan bahasa dan sastra Lampung kalau bukan orang yang tahu berbahasa Lampung. Menurut Iqbal Hilal, belajar berbahasa Lampung itu beda dengan belajar (tentang) bahasa Lampung. Sebab, kemahiran berbahasa itu meliputi mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.

Bahasa Lampung itu hebat. Bahasa Lampung termasuk bahasa yang mempunyai aksara sendiri yang disebut kaganga. Sastra tradisi (lisan) Lampung itu banyak jenisnya dan bagus-bagus. Adat-istiadat Lampung itu luhur. Lalu, akar budaya Lampung itu kuat, kata sejarawan Husin Sayuti. Entah apa lagi, puja-puji orang terhadap apa yang disebut bahasa, sastra, kesenian, dan kebudayaan Lampung.

Tapi, bagaimana realitasnya? Ah, saya hanya mengatakan mengapa kita harus kembali mengeluarkan keluhan-keluhan bernada getir tentang bagaimana menyedihkan kondisi bahasa, sastra, seni, dan budaya Lampung kalau nyatanya kita, orang Lampung atau bukan orang Lampung, orang asli atau orang palsu Lampung, sastrawan atau bukan sastrawan Lampung, seniman atau bukan seniman Lampung, budayawan atau bukan budayawan Lampung, tokoh adat atau bukan tokoh adat Lampung; semuanya tak bisa (lebih tepatnya: tidak mau) berbuat banyak.

* * *

Saya gembira karena Ketua Dewan Kesenian Lampung mempunyai komitmen terhadap pengembangan kebudayaan Lampung yang di dalamnya terdapat kesenian Lampung. Saya juga salut dengan pemimpin daerah dan para tokoh adat di daerah ini yang bertekad membangun kebudayaan Lampung. Saya juga menghormati kerja para sastrawan, seniman, budayawan, atau apa pun dalam upaya pelestarian, pengembangan, dan pemberdayaan kebudayaan Lampung.

Tapi, saya terpaksa harus mengurut dada mendapati masih terdapat banyak sesat pikir di antara kita tentang apa yang disebut dengan kebudayaan Lampung. Apakah kebudayaan Lampung itu kebudayaan yang ada di Lampung? Apakah wayang, reog, tari Bali, dan segala jenis kebiasaan, tradisi, dan kesenian dari berbagai etnik yang berkumpul di Lampung itu bagian dari apa yang disebut kebudayaan Lampung?

Saya jelma Lampung. Tapi, saya lebih sering disangka orang Jawa, orang Minang di Lampung. Ada juga yang menyebut saya dari Sunda. Saya jawab saja dengan hehehee….

Saya pikir wajar. Sebab, orang sama sekali tak melihat identitas atau jatidiri “Lampung” dalam diri saya. Bahasa menunjukkan bangsa, kata orang. Tapi, orang di Lampung boleh dibilang tak pernah melihat saya berbahasa Lampung. Terpaksalah saya harus mengaku bahwa saya adalah ulun Lampung yang tercerabut dari akar budaya Lampung itu. Siapa yang salah? Mari saling tuding. Kalau capek, salahkan diri sendiri.

* * *

Akhirnya, saya hanya ingin mengingatkan, mari kita mejong baghong, ngicik bangik, kita rumuskan lagi apa yang dimaksud dengan kebudayaan Lampung. Sebelum bicara, ada baiknya kita bolak-balik lagi referensi tentang “lampung”, “kebudayaan”, dan “kebudayaan lampung” itu. Ada banyak pakar budaya atau budayawan yang paham betul apa itu kebudayaan Lampung. Setelah itu, kita memang perlu merumuskan strategi (politik) kebudayaan Lampung. Tentu, ini terkait erat dengan apa yang namanya kebijakan pemerintah.

Kebudayaan Lampung! Konsep ini harus clear dulu. Baru bicara yang lain-lain.

Jadi, agak kacau juga kalau tetap ada konsep “pengembangan seni-budaya untuk mendukung pariwisata dan bisnis”. Apalagi kalau ada pikiran mau menjual “kebudayaan Lampung” untuk kepentingan ekonomi dan politik pihak tertentu. Sebab, kalau itu yang terjadi, kasihan Ompung Silamponga yang telah menurunkan anak cucu Lampung-nya di Tanah Sang Bumi Ruwa Jurai lengkap dengan aksara, bahasa, sastra, seni, dan budaya.

Kebudayaan Lampung, api muneh?

Udo Z. Karzi, penyair Lampung
*) Sebuah pijakan awal bagi esai panjang berjudul “Nyak Ulun Lappung” (Saya Orang Lampung).
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2005/05/esai-kebudayaan-lampung-api-muneh.html