Menjamu Penonton di Ruang Publik

Susandro
http://www.harianhaluan.com/

REALITAS TEATER PADANG PANJANG

Perhelatan dalam memperingati Hari Teater Sedunia yang bertajuk ‘Panggung Publik Sumatera; Menjamu Penonton di Ruang Publik’, diselenggarakan di Kota Padang Panjang tepatnya di gedung M. Syafei pada tanggal 26-27 Maret 2012 oleh komunitas-komunitas teater di Padang Panjang, telah usai.

Adapun komunitas-komunitas yang andil dalam acara ini yaitu Komunitas Teater Sakata yang menampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Dongeng Mandeh dari Bukit Tui’ karya/sutradara Tia Setyawati, Komunitas Seni Hitam-Putih menampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Orang-orang Bawah Tanah’ karya Wisran Hadi sutradara Yusril/Katil, Komunitas Seni Teater 13 menampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Dokter Anda’ karya Wisran Hadi sutradara Deri Saputra (Shukaik Kribow), Komunitas Teater Sembilan Ruang menampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Matahari di Sebuah Jalan Kecil’ karya Arifin C. Noer sutradara Fitri Noveri (Bugil), Batahimime Teater menampilkan pertunjukan teater berjudul ‘Batu’ karya Riko Alamo sutaradara M. Hiban Mauludi Hasibuan (Ucok), dan para pekerja seni lainnya yang menampilkan pertunjukan teater monolog, yaitu ‘Complicated’ karya/sutradara Kurniasih Zaitun (Tintun), HP Lee (Lee Production) dengan judul ‘Malin Kundang’, dan Syafriandi Afridil (Andi Jager) dengan judul ‘Koruptor Budiman’. Tidak hanya pertunjukan teater, pada akhir acara juga diadakan Sarasehan Teater dengan pembicara Halim Hade dan Yusrizal KW yang mencoba mengkritisi event tersebut.

Rentetan pertunjukan yang dijadwalkan dalam dua hari tersebut merupakan langkah awal (dalam bentuk event) para seniman Padang Panjang untuk mewujudkan visi membentuk masyarakat yang akrab dengan kesenian (teater). Visi ini diwujudkan dengan menyajikan pertunjukan di lingkungan masyarakat, dalam artian-seperti apa yang dikatakan Halim HD mengenai panggung publik, yaitu tema yang diusung oleh suatu pertunjukan memiliki relasi dengan kondisi masyarakat yang melatari ditampilkannya setiap karya. Meski tidak seluruhnya, sebagian pertunjukan yang telah dilaksanakan dalam program ini merujuk pada pengertian yang disampaikan oleh Halim HD. Akan tetapi, untuk saat ini langkah terpenting menurut Halim adalah menjalankan visi tersebut secara kontinuitas. Kontinuitas ini secara tidak langsung menjaga dan membangun persepsi positif masyarakat terhadap karya seni itu sendiri, dan menyadarkan masyarakat betapa pentingnya karya seni dalam hidup bermasyarakat secara terus menerus.

Berangkat dari tiap-tiap pertunjukan tersebut, dapat dilihat sejauh mana masyarakat begitu antusias meluangkan waktu untuk mengapresiasi suatu karya seni. Jumlah penonton yang mencapai ratusan orang, merupakan bukti terbentuknya ruang apreasiasi yang cukup tinggi yang memberi sinyal bagi para seniman Padang Panjang bahwa proses ‘dialektika’ sedang tersusun dalam ‘kegilaan’ pikiran para seniman tersebut ketika berusaha memaknai realitas dan merefleksikannya ke dalam suatu karya seni. Terbangunnya ruang apresiasi ini terdapat pada sela-sela pertunjukan, ketika satu dari sekian penonton mencoba menyimpulkan isu-isu yang diusung oleh suatu pertunjukan. Konkritnya dapat dilihat pada pertunjukan teater monolog yang berjudul ‘Koruptor Budiman’ yang diperankan oleh Syafriandi Afridil (Andi Jager). Lakon ini bercerita tentang seorang koruptor yang mengakui perbuatannya dan meminta agar segera dihukum, meski sang koruptor tersebut juga melakukan pembelaan atas perbuatannya tersebut. Penonton pun bergumam: “kalau semua pejabat seperti ini, mungkin negeri kita akan aman!”, dan tanpa disadari sudah jelas setiap penonton memiliki pemaknaan tersendiri terhadap tontonan mereka, tergantung tontonan bagaimanakah yang akan mereka maknai.

Beranjak dari fenomena di atas, pertunjukan seni teater tidak pernah kehilangan penonton. Penonton akan hadir jika saja mereka dijamu dengan ‘sebaik-sebaiknya’ melalui karya seni itu sendiri. Sebuah tontonan merupakan sebuah penghargaan bagi penontonnya, tergantung sejauh mana penonton memaknai tontonan tersebut. Jadi, mana ada penonton yang tidak ingin dihargai? Jika pun ada, sejauh mana usaha para seniman dalam menjamu penontonnya melalui seni teater?

Suatu Ironi: Dekat Tapi Tak Akrab

Sebagai langkah awal, apresiasi penonton yang cukup bagus pada setiap pertunjukan dalam acara (Panggung Publik Sumatera; Menjamu Penonton di Ruang Publik) ini adalah jawaban dari persoalan yang sangat ironis selama ini, ‘dekat tapi tak akrab’. Rata-rata, Sumatera memiliki persoalan yang sama pada tiap-tiap kantong kesenian yang mereka miliki. Gedung pertunjukan seakan-akan seperti sebuah mimpi yang tidak mungkin untuk dijangkau, terutama masyarakat awam.

Seperti apa yang dikatakan Yusril/Katil (Sutradara teater dan Pembantu Dekan I Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang), kita terlalu lama menunggu, menunggu penonton untuk menonton tontonan yang ingin kita sajikan untuk mereka (masyarakat) dalam sebuah gedung pertunjukan. Sangat disadari, ditengah rutinitas sehari-hari masyarakat, perlu menyimak kembali apa-apa saja yang mereka lewatkan dalam laju kehidupan mereka. Untuk itu, sekiranya sangat tidak mungkin hanya menunggu, sangat efektif ada waktunya untuk mengantarkan persoalan-persoalan yang terlewatkan tersebut ke tengah-tengah mereka. Dengan itu, setidaknya masyarakat menyadari, bahwa mereka hanya melewatkan begitu saja tanpa menyadari betul, realitas bagaimanakah yang disajikan sebuah kesenian teater.

Ruang publik, dapat dikatakan langkah awal dalam upaya pengembangan kesenian ketengah-tengah masyarakat. Seperti yang disampaikan Yusrizal KW dalam acara Sarasehan Teater, pesatnya perkembangan teknologi menjadi pelajaran bagi pekerja seni, bagaimana teknologi membayang-bayangi masyarakat tanpa terkecuali. Dalam jangka pendek, teknologi mengantarkan perkembangan-perkembangan berbagai layanan yang memudahkan kehidupan manusia. Begitu pun juga seyogyanya, meskipun karya seni bukanlah suatu yang instan dan praktis, dengan menjamu penonton di ruang publik, setidaknya pekerja seni juga tidak melewatkan fenomena dari realitas teknologi tersebut.

Upaya dalam pembenahan langkah-langkah pengembangan kesenian ketengah-tengah masyarakat yang disebut dengan ruang publik, sekiranya hal ini menjemput semangat tradisi yang telah lama dibangun oleh nenek moyang dalam suatu masyarakat tertentu, salah satunya kesenian Randai di Minangkabau.

Seperti halnya ruang publik saat ini, randai dipentaskan di ruang terbuka tanpa adanya dinding sebagai penyekat yang disebut (oleh orang Minang) medan nan bapaneh atau sederhananya lapangan bola kaki di kampung-kampung. Disaat berjalannya pertunjukan, penonton secara tidak langsung menjadi pembatas ruang pertunjukan dengan membentuk posisi melingkar.

Oleh karena itu, sejauh perkembangan teater di tengah-tengah masyarakat, perasaan asingnya masyarakat terhadap gedung pertunjukan bukanlah suatu kendala besar yang harus dirisaukan bahkan diperdebatkan, akan tetapi kembali pada; sejauh mana usaha para seniman dalam menjamu penonton dan mempertimbangkan kembali metode-metode lama.

*) Susandro, alumnus Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padang Panjang /29 April 2012