Nasib Malang Sastra Indonesia

JILFest 2008
Triyanto Triwikromo
http://www.suaramerdeka.com/

NASIB sastra Indonesia masih malang dan terlunta-lunta. Setidaknya itulah simpulan yang bisa dipetik dari seminar yang berlangsung dalam Jakarta International Literary Festival (JILFest) 2008 di The Batavia Hotel Jakarta, 11-14 Desember.

Dalam seri seminar bertema ”Sastra Indonesia di Mata Dunia” (Dr Katrin Bandel, Prof Dr Koh Young Hun, Prof Dr Abdul Hadi WM), ”Prospek Penerbitan Sastra Indonesia di Mancanegara” (Prof Dr Nikihiro Moriyama, Jamal Tukimin MA, Dr Naria Emilia Irmler, Putu Wijaya), dan ”Politik Nobel Sastra” (Prof Dr Henry Chambert-Loir, Dr Stevan Danarek, Prof Dr Budi Darma), sastra Indonesia kurang mendapat perhatiaan dari penerbit apalagi pembaca luar negeri.

Katrin Bandel, kritikus asal Jerman yang kini tinggal di Yogyakarta, bahkan berani menyatakan betapa orang-orang luar negeri, terutama Eropa, tidak peduli pada sastra Indonesia. ”Jika ada buku yang diterbitkan, penerbitnya kecil dan pembacanya tidak banyak.”Karena itu, menurut pendapat penulis Sastra, Perempuan, Seks ini, para sastrawan (Indonesia) tidak perlu terlalu memburu pembaca luar negeri. ”Memangnya kalau tidak dibaca oleh mereka mengapa sih?” tanya dia.

Putu Wijaya menyepakati pendapat Bandel. Kata dia, ”Harus diakui para pengarang Indonesia masih belum banyak dikenal, meskipun di kampus-kampus mereka dibicarakan. Semua ini karena karya sastra kita belum diterjemahkan dalam bahasa asing.” Meskipun demikian Jamal Tukimin dari Singapura memberikan data lain. Buku Ayat-ayat Cinta (Habiburrahman El-Shirazy) dan Laskar Pelangi (Andrea Hirata) laris di Singapura. ”Hampir semua toko buku menjual buku-buku, terutama bertema Islam terbitan Indonesia. Jumlahnya mencapai 75% dari buku yang beredar.”
Hadiah Nobel
Adapun di Korea sebagaimana diungkapkan oleh Koh Young Hun, kecuali karya-karya Pramoedya Ananta Toer dan Mochtar Lubis, belum muncul lagi terbitan karya sastra (besar) lain. Di Jepang, setidaknya sebagaimana dicatat oleh Moriyama, baru karya-karya Mochtar Lubis, Ahmad Tohari, Pramoedya Ananta Toer, YB Mangunwijaya, Rendra, Ajip Rosidi, Ayu Utami, Eka Kurniawan, Yudhistira ANM Massardi, dan Seno Gumira Ajidarma yang diterbitkan. Karena itu pula memang tidak perlu diherankan jika di Portugal karya sastra Indonesia baru sebatas ”dikolaborasikan” dengan penerbitan teks lain. ”Tetapi ini merupakan awal yang baik,” kata Maria Emilia Irmler pembicara dari Portugal.

Bertolak dari kenyataan semacam itu, lalu muncul pertanyaan, bagaimana karya sastra Indonesia bisa meraih hadiah nobel sastra? ”Hadiah terakhir abad ke-20 seharusnya dibagi untuk Gunter Grass dan Pram,” ungkap Danerek, kritikus asal Swedia yang dalam setahun ini mukim di Jakarta.

Apakah syarat mendapatkan nobel sastra sulit? ”Syarat itu tidak terlalu sulit. Hanya, Indonesia terasa jauh sekali dari Stockholm dari segi geografi, sejarah, budaya, dan agama,” ujar Heni Chambert-Loir dari Prancis. ”Diperlukan seratus tahun untuk menemukan sastra Tionghoa, berapa tahun akan diperlukan untuk menemukan sastra Indonesia?”

Jika demikian, tanya seorang peserta seminar, perlukah membuat semacam hadiah nobel sastra sendiri? ”Kita bisa membuat penghargaan semacam itu, tetapi tidak akan diperhatikan dunia,” ungkap Budi Darma. Oh, sungguh malang nasib sastra Indonesia.

17 Desember 2008