Sastrawan yang Lihai Mengolah Kata

Sri Rahayu
http://www.surabayapost.co.id/

Setelah lama digerogoti kanker hati, novelis Lan Fang akhirnya menyerah pada suratan takdir. Minggu (25/12) aktivis Tionghoa itu menghembuskan nafas terakhir di RS Mount Elizabeth Singapura. Kelihaian Lan Fang dalam setiap karyanya adalah mengubah kata sederhana menjadi indah. Surabaya benar-benar kehilangan sastrawan perempuan yang sangat produktif menuliskan karya-karyanya itu.

Sebelum dirujuk ke RS Mount Elizabeth Singapura dan akhirnya menghembuskan nafas terakhir pada hari Minggu (25/12) siang, novelis perempuan Surabaya bernama Go Lan Fang sempat dirawat di RS Katolik St.Vincentius A Paulo Surabaya, namun kemudian dipindah lagi ke RS Adi Husada. Barulah hari Jumat (23/12) ia dirujuk ke RS Mount Elizabeth Singapura.

“Saat dirujuk ke Singapura, Lan Fang sudah tak tertolong lagi. Hari ini (Senin, 26/12) jenazah akan dibawa ke Surabaya dan langsung dibawa ke Adiyasa,” ungkap Guru Besar Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Budi Darma, BA, MA.

Budi Darma mengatakan, jebolan Fakultas Hukum Universitas Surabaya itu merupakan salah satu sastrawan nasional yang unggul dengan alur cerita dan setting tempat. “Setiap karyanya selalu memiliki alur yang unik, dan setting cerita yang dibuatnya seolah nyata dan hidup. Sehingga pembaca pun menikmati setiap karyanya,” tutur Budi Darma yang sekaligus guru Lan Fang belajar menulis sastra.

Dia mengakui bahwa Lan Fang adalah sosok yang terbuka terhadap siapa saja meski ia keturunan etnis Tionghua, termasuk dengan tokoh Islam.“ Ia (Lan Fang) dikenal sebagai Gus Durian atau pengikut Gus Dur. Jangan heran, jika selama ini dia banyak dekat dengan sejumlah tokoh ulama dari kalangan Nahdlatul Ulama,” tuturnya.

Ketua Dewan Kesenian Jawa Timur (DKJT), A. Fauzi mengatakan bagi para seniman Jatim, Lan Fang merupakan sastrawan perempuan yang piawai mengolah bahasa sederhana menjadi indah.”Kebanyakan karyanya memang sastra popular. Namun, ia mampu menciptakan gaya bahasa unik yang indah,” tutur Fauzi.

Bagi keberlanjutan dunia sastra di Jatim, Fauzi mengaku sangat kehilangan sosok ibu tiga anak itu. “Tahun ini, Jatim telah kehilangan 2 sastrawan perempuan. Beberapa bulan lalu, Mbak Ratna, sastrawan asal Malang, juga telah berpulang,” tutur Fauzi. Pada tanggal 28 Maret 2011, sastrawan feminis Ratna Indraswari Ibrahim meninggal dunia.

Ia mengungkapkan bahwa 2 tokoh sastrawan perempuan tersebut merupakan tonggak berkembangnya sastra di Jatim. “Mbak Ratna dengan ide feminisnya dan Lan Fang dengan keindahan tutur bahasa mampu mewarnai sastra nasional, sebagai sastrawan perempuan,” tutur Fauzi.

Mengenai penyebab meninggalnya Lan Fang, Fauzi menuturkan karena kanker hati yang sudah lama menggerogotinya. “Ia (Lan Fang) memang pekerja keras. Ia tak merasakan kanker hati yang dideritanya, dengan tetap beraktivitas. Hingga akhirnya parah dan tidak bisa disembuhkan,” tutur Fauzi.

Diakui Fauzi, perempuan kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 itu aktif membimbing para pelajar dalam berbagai penulisan kreatif secara rutin di berbagai sekolah di Surabaya. Lan Fang telah melahirkan berbagai karya, seperti Reinkarnasi (2003), Pai Yin (2004), Kembang Gunung Purei (2005), Laki-laki Yang Salah (2006), Yang Liu (2006), Perempuan Kembang Jepun (2006), Kota Tanpa Kelamin (2007), dan Lelakon (2007). Namun, novelnya yang paling terkenal yakni ‘Perempuan Kembang Jepun’ yang mengambil setting tempat di Kya-kya Surabaya. Novel berjudul Lelakon, pernah menjadi nominee Khatulistiwa Award 2008. Tak hanya novel, cerpen karya Lan Fang pun masuk 20 Cerpen Terbaik Indonesia versi Anugrah Sastra Pena Kencana 2008 dan 2009.

26/12/2011