Negara-Bangsa: Dari Otonomi ke Multiplisitas

Yasraf Amir Piliang *
Kompas, 31 Mei 2008

SEBAGAI masyarakat bangsa, kita terbiasa hidup dalam realitas kesatuan, ketunggalan, penyeragaman, sehingga gamang menghadapi realitas keliyanan (otherness), perbedaan, dan diversitas. Kita terbiasa merangkai makna tunggal dan tak terbuka terhadap makna jamak (polysemy).

Kita terbiasa dengan keterpusatan dan sentralisasi dan cemas menghadapi ketakberpusatan dan desentralisasi. Kita terbiasa dengan totalitas dan canggung terhadap multiplisitas. Kita terbiasa dengan ketunggalan (ideologi, identitas, standar, etika) dan asing terhadap ”keserbaragaman” (multiplicity).

Kita selalu mempunyai hasrat menjadi ”pusat” (center): pusat kekuasaan, pusat iman, pusat kebenaran, pusat pengetahuan, pusat perhatian (popularitas), pusat kekayaan (monopoli), pusat kekuatan. Kita merasa menjadi bagian dari pusat, mengidentifikasi diri sebagai pusat, bahkan hendak menjadi pusat itu sendiri.

Kita enggan menjadi ”pinggiran”, menjadi ”sang liyan” (the others). Kita dikuasi ego dan tak pernah mau berbagi (sharing). Kita melihat ”sang liyan”: orang lain, suku lain, kelompok lain, provinsi lain, ras lain, agama lain; sebagai ”sang pinggiran” (the peripheral other), yang harus memusat pada kita.

Kita terbiasa hidup di dunia oposisi biner dan dualisme: dunia hitam/putih, benar/salah, kafir/beriman, kawan/lawan, pusat/pinggiran, teroris/antiteroris. Kita juga terbiasa dengan segala kepastian (kerja, penghasilan, keyakinan, masa depan), dan tak sanggup menghadapi ketakpastian dan keadaan turbulensi (chaotic).

Kita terbiasa dengan ”perbedaan hierarkis” dan gamang terhadap ”perbedaan nonhierarkis”. Dalam penjara hierarki, kita kehilangan kepekaan untuk ”berbagi”: berbagi jalan, berbagi senyum, berbagi ilmu, berbagi kekayaan, berbagi budaya.

Dari ”logos” menuju ”chaos”

Kita terbiasa dengan ”kepastian” atau ”jaminan kebenaran” (truth of truth) yang telah disediakan oleh masa lalu bagi kita, apakah yang berasal dari adat, mitos, atau bahkan wahyu. Mata, pikiran, dan kesadaran kita nanar dan terpukau dengan semua kebenaran itu.

Kita terbiasa membangun ”kekuasaan tunggal” (monolithic of power) dan melupakan ”kekuatan bersama” (multiplicity of power) (Hardt dan Negri, Multitude, 2005).

Bahwa, ”himpunan kekuatan-kekuatan kecil” (micro power) bisa lebih dahsyat ketimbang ”kekuatan tunggal terpusat” (macro power). Demi hasrat menjadi ”pusat”, kita enggan membangun ”energi gabungan” lebih dahsyat itu. Kita malah menciptakan ”ironi kekuasaan”: kita tidak mau dikuasai ”pusat”, dengan merayakan otonomi, tetapi melalui otonomi itu kita justru membangun ”pusat-pusat mikro”. Ironisnya, di dalam pusat-pusat mikro itu, kita masih tergantung pada pusat besar.

Otonomi hanya mereproduksi ”kebenaran akhir” (logos), yang berasal dari sentimen kesukuan, kedaerahan, ras, dan bahkan keagamaan. Keterbiasaan kita hidup di dalam bingkai tafsiran restropektif, telah menciptakan ketergantungan besar pada logos atau kebenaran akhir itu. Demi menghindari chaos, kita menggantungkan diri pada logos.

Dari totalitas ke multiplisitas

Kita terbiasa merangkai yang berbeda-beda (heterogeneity) menjadi sebuah ”kesamaan” (homogeneity), menyusun yang beraneka ragam menjadi sebuah ”kesatuan” (unity); merajut yang bersifat multiplisitas menjadi sebuah ”totalitas” (totality). Dengan menyamaratakan yang beragam, kita mereduksi perbedaan-perbedaan menjadi kesamaan; dengan menyatukan yang beraneka ragam menjadi kesatuan, kita memangkas keanekaragaman; dengan menunggalkan yang plural, kita menyunat pluralitas; dengan menotalkan yang multiplisitas.

Kita melihat negara-bangsa sebagai sebuah ”organisasi besar”, yang menyatukan entitas-entitas (manusia, bahasa, etnis, keyakinan, artifak) yang berbeda-beda menuju sebuah titik pusat deterministik, dengan melupakan ”jaringan” dan ”hubungan” di antara entitas-entitas plural itu (Guattari, Molecular Revolution: Psychiatry and Politics, 1981).

Padahal, ”mesin negara” itu kini tengah ”diinvasi” oleh ”mesin lebih besar”, yang mampu ”menghimpun” dan ”menggerakkan” elemen-elemen individual, sosial, politik, kultural, dan spiritual, melalui kompleksitas organisasi dan pengaturannya: mesin-mesin jaringan internet, teroris, narkoba, perdagangan manusia.

Dengan berakhirnya kekuatan totalitas, pilihan tunggal yang tersedia di masa depan adalah kekuatan ”multiplisitas” di dalam aneka jejaring. Multiplisitas adalah sebuah orkestra negara-bangsa tanpa konduktor, yang membangun sendiri iramanya di dalam jaringan, melalui kekuatan komunikasi, koperasi, aliansi, dialog, garis hubungan, dan aneka relasi sosial lainnya. Di dalamnya tidak ada ”kekuasaan tunggal” atau kekuasaan total. Yang ada adalah entitas-entitas yang mengatur diri sendiri, dengan mencampakkan kedaulatan (Bard dan Söderqvist, Netocracy: The New Power Elite and Life After Capitalism, 2002).

Di dalam abad multiplisitas, tidak ada seseorang atau sebuah institusi pun yang dapat mengatur setiap orang melalui prinsip totalitas, baik institusi keluarga, adat, negara, maupun agama.

Di dalam sistem keluarga, anak-anak tidak dapat lagi diatur secara ”totaliter” oleh orangtua. Di dalam sistem adat para anggota masyarakat adat sudah mulai melepaskan diri dari kungkungan adat; di dalam sistem negara, rakyat tidak dapat lagi sepenuhnya dikendalikan oleh negara. Di dalam sistem agama, kekuatan wahyu mendapatkan tantangan dari aneka ”spiritualitas sekuler”, seperti media dan dunia hiburan.

Setiap orang kini berada di dalam kondisi ”multiplisitas pengaturan” macam itu, yang tak satu pun bersifat dominan atau total. Mungkin setiap kita canggung memasuki masa depan yang tampak tak ramah itu, tetapi begitulah panorama dunia yang tersedia bagi kita.

* Yasraf Amir Piliang, Ketua Forum Studi Kebudayaan Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2008/05/negara-bangsa-dari-otonomi-ke.html