Perempuan Sastrawan, Tren atau Proses Kebangkitan?

Rukardi
http://www.suaramerdeka.com/

MUNCULNYA perempuan sastrawan dalam ranah kesusastraan Indonesia dalam kurun sepuluh tahun belakangan, menjadi fenomena yang kerap diperbincangkan. Nama-nama Ayu Utami, Dewi ”Dee” Lestari, Djenar Maesa Ayu, Linda Cristanty, Herlinatiens, Nukila Amal, hingga artis tersohor macam Rieke Dyah Pitaloka menyita perhatian kritikus dan pengamat sastra dengan karya ”sastra wangi”-nya.

Banyak pendapat yang mengemuka, terkait fenomena kemunculan perempuan sastrawan. Sapardi Djoko Damono misalnya, memandang hal itu sebagai titik balik dari sebuah proses kebangkitan. Sastrawan kawakan ini bahkan memprediksi perempuan akan menjadi pewarna dunia kesusastraan Indonesia masa mendatang.

Dalam Seminar Nasional Sastra ”Menguak Heboh Sastra Perempuan: Laki-laki Pengarang Telah Mati?” di Gedung Prof Soemarman, Undip Pleburan, Rabu (1/3), pendapat itu kembali ia lontarkan.

”Kita harus jujur bahwa karya-karya yang paling banyak dihebohkan akhir-akhir ini adalah milik perempuan. Dalam segi jumlah, mereka juga jauh lebih banyak. Menurut saya, kondisi ini akan semakin terteguhkan pada masa mendatang.”

Berkebalikan dengan Sapardi, sastrawan Sitok Srengenge menganggap kemunculan perempuan sastrawan, tak lebih sebagai sebuah tren belaka. Menurutnya, heboh yang terjadi kebanyakan bukan oleh kualitas yang mereka tunjukkan. Melainkan oleh faktor-faktor lain yang berada di luar kesusastraan. Sitok mencontohkan Ayu Utami dengan karyanya Saman.

Novel itu bisa demikian kondang, justru karena ditulis oleh perempuan. ”Orang penasaran, kok ternyata penulisnya perempuan. Belum lagi ditambah rumor adanya ghost writer. Jadilah Saman banyak diperbincangkan.

Secara berkelakar, Sitok mengatakan bahwa keberdayaan perempuan sastrawan di Indonesia sejatinya masih bergantung pada kaum Adam. Industri penerbitan, kata dia, didominasi oleh laki-laki, dari editor sampai direkturnya. ”Coba, kalau mereka tidak mau menerbitkan karya penulis perempuan, mampuslah mereka, ha ha ha.”

Perspektif Perempuan

Seminar yang diselenggarakan dalam rangka ulang tahun III Magister Ilmu Susastra Undip itu juga menghadirkan Kritikus Saut Situmorang, Pengajar Magister Susastra Undip IM Herdrarti, dan pesohor yang pernah menerbitkan karya novelnya, Tamara Geraldine.

Saut Situmorang menyorot soal pandangan feminisme yang menempatkan laki-laki sebagai penulis yang tidak diinginkan. Mereka selalu dianggap menerapkan aturan-aturan dari suatu tatanan representasi simbolik yang memamerkan ide-ide perempuan dengan cita rasa vulgar.

Sementara itu, IM Hendrarti banyak mengupas pembacaan perempuan terhadap teks yang diciptakan perempuan. Menurutnya, pembaca perempuan, perlu mewaspadai pemaknaan tunggal yang diusung ideologi patriarkis. Seorang perempuan akan mampu membaca dengan perspektif perempuan dengan cara memproduksi makna dari sistem pemaknaan yang berasal dari pengalamannya sendiri.

Lantas, apa kata Tamara Geraldine sebagai seorang perempuan penulis? ”Saat menulis tentang perempuan, saya akan menulis lebih baik dari yang ada pada diri saya. Perempuan akan saya tampilkan sebagai sosok yang seindah-indahnya”.

02 Maret 2006