Beni Setia

http://www.suarakarya-online.com/

PENYAIR dan pekerja teater Malang, Ragil Supriyanto Samid, lahir serta besar di Kupang. Meskipun (nama) identitas Ragil lebih berkesan Jawa ketimbang NTT, tak heran kalau ia diidentifikasi sebagai Sukriwul karena rambutnya memang tak nJawani dan sangat NTT, kriting, sehingga lebih popular dengan sebutan Ragil Sukriwul, RS Dalam istilah sastra modern yang mengacu pada konsep awal biologik, RS itu produk hibrida, berasal dari varietas NTT dan Jawa tapi besar di NTT.

Jadi tak heran kalau RS bisa melihat apa-apa yang terlihat biasa dan seharusnya begitu bagi orang setempat di NTT, sebagai sesuatu yang unik. Dan si keunikan yang memikat dan memancing rasa ingin tahu itu yang membuat RS bisa menuliskan puisi bertema hal lokal dengan memikat.

Aspek RS separuh asing, karenanya bisa melihat, menerangkan dan menuliskan yang biasa bagi penduduk lokal sebagai yang unik bagi orang-orang asing-setidaknya seperti yang terdapat.dalam kumpulan puisi Avontur, Malang, Mozaik Books, Februari 2012.

Kita lihat sajak “Ina-Ama Umbu-Rambu”, misalnya. Sajak ini menekankan ide kesamaan identitas nama diri dan orang tua dari semua orang di Kupang, karena sajak ini mengacu ke peristiwa kerusuhan Kupang, tapi kenapa kebersamaan itu menjadi perbedaan seakan-akan aku, kau, kalian, kami, dan mereka itu berbeda, berlainan, dan bukan komunitas kita yang serasi membangun kebersamaan di selama ini, setidaknya kalau memakai acuan (disertasi) almarhum Fuad Hassan tentang model kebersamaan kita dan kami. Dan yang menarik, konsep kebersamaan kita yang terdegradasi menjadi kami itu diucapkan oleh RS yang tak murni Kupang meski lahir dan besar di Kupang. Ketajaman dan kejernihan pandangan orang setengah asing, yang dipaksa sadar akan keberbedaan dan karenanya punya jarak juga jadi kekuatan saat RS mendeskripsi suasana festival rakyat Togo, dalam sajak “Mari Katong ba Togo”.

Puisi ini teramat deskriptif memotret peristiwa dan suasana ba Togo (- menyelenggarakan seni Togo), dan saat suasana ikut terpotret maka teks tidak bersipat narasi eseistik atau artikelistik. Jadi dramatik puitik.

Kebiasaan berladang dengan bekal tuak jadi kekuatan buat terus bekerja di ladang. Uniknya moke itu dibuat secara rumahan dan kalaupun dijual ia tak bermerek tapi menginduk pada si Mama yang membuatnya. Suasana yang amat intim agrarik terembus kuat dari sajak ini.

Tingkatan filosofis makna justru diperoleh RS dari mencermati kebiasaan lokal, meminta sekedar receh kalau disuruh ini itu dengan ungkapan Tobo Kas be Doi Do, Paman, berilah saya uang (receh) dulu. Sajak kenangan bagi Tobo Dai ini memotret momenti pinta manja sebelum menunaikan perintah si paman, membuat RS terkenang si paman yang telah meninggal, karenanya tiba pada sebuah momentum kebersamaan yang mistis.

Meminta karena tak punya itu melahirkan kewajiban memberi bagi yang telah dewasa dan mandiri, karena itu kedewasaan dan kemampuan seharusnya itu tak hanya terikat dalam kaitan kekeluargaan, kekerabatan, dan kesedaerahan saja, tapi itu harus lebur dengan kesadaran kemanusiaan yang sipatnya semesta.

Puncak kesadaran humanistik ini tergapai oleh RS. Dan mungkin karena ia bisa sampai di tarap arif dan mahfum, maka RS tak terlampau kaget ketika melihat sebuah fenomena perampokan kekayaan alam daerah oleh pendatang, seperti diungkapkannya dalam sajak “Layu Melayu”.

Obyektifikasi dan eksploitasi Melayu dihadirkan dengan kegenitan bermain rima, dan ajaibnya tepat mengena.

Dan pola itu juga dimainkannya dalam sajak “Sayang” yang bermain-main dengan konstatasai kalimat tak kenal maka tak sayang, setelah kena; sayang terlalu-pembolak-balikan susunan diksi yang bikin kita bertanya-tanya tentang arti kenal, sayang, dan sikap posesif atau a-sosial. Sebuah improvisasi rima kata yang mendedahkan kilatan makna sesaat-meski tidak terjebak dalam pola mantra ala SCB. Kenapa begitu?

Analisis Jusri Fajar yang dijadikan epilog kumpulan puisi RS ini bisa menjawabnya, lihat Puisi Dramatik dan Konstruksi Eksistensi Persona “Aku”.

Esei ini dengan cerdas menunjukkan kalau pola berkreasi RS bersitolak dari aku yang menyampaikan sesuatu pada kalian (pembaca) dan karenanya dengan intim menyapa dan menyatakan pendapat. Keintiman, kenyamanan, dan kepenakan (- penak, bahasa Jawa, lebih dari sekedar enak karena merujuk pada nyaman) berkomunikasi membuat apa yang dikatakan jadi ringan dan fokus ke inti.

Memang disinyalir (Jusri Fajar) bila ada pergeseran dari aku dominan jadi suasana dialogis, dan itu terbukti, setidaknya, dari totalitas pengabaran tema lokal NTT dan intimitas bermain kata dalam dua sajak yang disinggung di atas. Di sini, rasanya potensi kepenyairan RS telah terdeteksi serta siap dieksploitasi. Insya Allah.***

/2 Juni 2012

Categories: Esai