Eksistensi Komunitas dan Masa Depan Sastra Lombok Timur

Fatih Kudus Jaelani
http://buletinkapas.wordpress.com/2012/03/07

Banyak yang menanyakan seberapa jauh kesiapan dan kemampuan komunitas sastra di Lombok Timur menunjukkan eksistensi dalam membina dan melahirkan nama-nama baru di dalamnya. Pertanyaan itupun lahir dari berbagai pihak yang merasa memiliki andil dan loyalitas tinggi terhadap eksistensinya masing-masing. Siapapun mereka, sebuah pertanyaan tentu berawal dari pemahaman yang timbul akibat proses membaca situasi dan kondisi perkembangan objek yang akan ditanyakannya. Begitu juga dalam hal ini. Sebut saja ketika Komunitas Rumah Sungai Lombok Timur mengadakan lomba menulis puisi tingkat Nasional. Beberapa komunitas pecinta dan penggiat sastra di tanah air khususnya Nusa Tenggara Barat mulai membaca sepak terjang komunitas yang aktif menggiatkan event-event sastra di lombok timur ini. Beberapa nama di dalamnya pun mulai menjadi incaran. Setelah pembacaan itu dianggapnya tuntas, maka berbagai pertanyaan akan muncul. Dan banyak pula diantara mereka yang kemudian melayangkan beberapa kritik dari apa yang mereka anggap tidak sejalan dengan apa yang mereka pikirkan. Bagi saya, apapun bentuk dari pertanyaan dan kritik itu, jawaban dan tanggapannya adalah sebentuk pengakuan atas eksistensi masa kini. Di mana lebih dan kurangnya adalah sebuah proses. Bukankah untuk mendapatkan buah kelapa muda kita harus memanjat pohonnya terlebih dahulu? Saya rasa proses membelinya di pedagang kaki lima adalah sebuah pilihan instan yang rasanya pun tidak sesegar jika memetiknya sendiri. Dan jika sempat terjatuh sebab salah memijakkan tumpuan,hal itu akan lebih berkesan dari yang biasanya terjadi.

Komunitas Sastra

Ambiguitas yang terjadi atas pemahaman terhadap tujuan komunitas sastra sebagai wadah berkumpulnya penulis-penulis muda yang diharapkan akan muncul dengan eksistensi pribadinya masing-masing, menjadi pertanyaan atas eksistensi komunitas tersebut dalam misinya untuk menumbuhkembangkan sastra di Lombok Timur saat ini. Taruh saja ketika sebuah komunitas yang mengatasnamakan dirinya sebagai komunitas sastra atau komunitas yang bergerak untuk mengembangkan sastra akan dihuni oleh beberapa orang yang eksistensi pribadinya masih dipertanyakan. Hal ini tentu menumbuhkan kontradiksi atas pembacaan komunitas-komunitas lainnya. Bagi saya hal tersebut bisa saja terjadi, namun dalam perjalanannya, tujuan sebenarnya akan sulit dicapai. Sehingga akan muncul pula kepentinga-kepentingan lain yang bergeser dari eksistensi yang ditunjukkan saat ini.

Merajuk kepada eksistensi masa kini tersebut, keberadaan komunitas sastra di Lombok Timur merupakan salah satu usaha untuk menunjukkannya. Mulai dari komunitas yang berasal dari kelembagaan kampus, komunitas yang membentuk dirinya menjadi sebuah lembaga yang terdaftar di akta notaris daerah sampai kepada komunitas yang hanya menghimpun beberapa penulis muda yang memiliki minat dan bakat tanpa stempel dan pengangkatan sebagai anggota. Bagaimanapun bentuk dan pemahamannya, hal tersebut mulai mampu menjadi pembuktian atas eksistensi yang sungguh-sungguh terhadap perkembangan sastra di Lombok Timur.

Kompetisi yang lahir diantara komunitas inipun menjadi gerbang pengakuan yang utuh bagi eksistensi mereka sendiri. Hal ini yang kemudian menjadi awal dari akan tumbuh pesatnya penulis-penulis baru yang lahir dari berbagai komunitas tersebut. Masa depan sastra yang akan lebih baik dari sebelumnya.

Perkembangan sastra di masa depan inipun terus menjadi fokus perhatian dari komunitas-komunitas tersebut. Seperti beberapa pemikiran tentang akan dibentuknya balai sastra lombok timur, lembaga pendidikan sastra lombok timur dan lain sebagainya. Bagi saya hal tersebut akan terjadi jika kita benar-benar menjalankannya. Hanya saja pada perkembangan tersebut, ada yang kadang terlalu terburu-buru dalam mengambil keputusan atau sikap dari sudut pandang berpikirnya. Hal inilah yang kemudian mengundang kepentingan-kepentingan yang sedikit bergeser dari nilai dan tujuan dalam mengembangkan sastra itu sendiri. Walaupun demikian, saya tetap mengambil sinergi positif dari berbagai pemikiran sampai tindakan apapun yang kita lakukan. Sebab bukankah sastra membentuk kesadaran yang lebih positif dari segala sisi kehidupan manusia. Apakah hal itu akan bertentangan dengan hati nurani atau sebaliknya, bagi saya sastra memilih jalan yang paling lurus untuk mendapatkan tali penyambungnya.

Dijumput dari: http://buletinkapas.wordpress.com/2012/03/07/eksistensi-komunitas-dan-masa-depan-sastra-lombok-timur-fatih-kudus-jaelani/